Part 8: Hampir putus asa

Perjuangan Gundi yang dahulunya super malas dan ingin menjadi rajin, mengalami lika-liku yang berpengaruh pada perilakunya. Sebenarnya secara bertahap dia mulai dewasa, tampaknya sabar menghadapi olokan, tertawaan, cibiran, dan sejenisnya dari lingkungan, terutama sekolah. Namun sesuatu telah terjadi tanpa sepengetahuan saya. Dia hampir putus asa ketika guru yang sudah memujinya dan beberapa teman yang mendukungnya mulai tak percaya padanya. Sebenarnya dia masih terus menghubungiku melalui sms. Namun akhir-akhir ini dia tampak lesu, kurang bergairah, dan senyum itu kelihatannya dipaksakan. Amir jarang laporan, hanya sesekali ketika aku bertanya lebih dahulu.

Keadaan di atas membuatku sadar bahwa sudah sebulan ini aku kurang fokus menangani Gundi. Tadinya ku rasa Gundi Insya Allah dapat memperjuangkan sifat baiknya dan mampu menghadapi tantangan apa saja dari guru maupun teman-temannya. Aku jadi merasa bersalah. Mengapa aku begitu tega menurunkan skala prioritas dalam mendukung niat baik Gundi? Kepentingan manakah yang mengalahkan perhatianku pada Gundi? Sejauh manakah aku telah mengabaikan tugas khusus ini? Ya Allah, ampuni hamba. Gundi, maafkan ibu. Kau jangan seperti itu sayang, ibu tak tahan mengingat wajahmu seperti itu. Ibu telah teledor, kurang perhatian terhadap upayamu, kurang jeli memperhatikan perkembanganmu. Kau mungkin sungkan pada ibu. Kau mungkin melihat ibu amat sibuk dengan urusan Eco-school, olimpiade dan lainnya. Ah tidak. Ibu tak boleh seperti ini. Ya Gundi, ibu akan mendekat padamu lagi.

Hah? Terkejut aku ketika di depan meja ada Gundi yang sedang duduk sambil menundukkan kepala.

“Gun.”

Dia hanya mengangkat kepala dan … senyum itu hilang. Wajahnya pucat sekali. Ku berikan segelas air dan diminumnya hingga habis.

“Ada apa sayang? Bolehkah ibu mendengar ceritamu?”

“Saya bersalah Bu.”

“Apa salahmu sayang?”

“Saya memang tak pantas sekolah di sini.”

“Mengapa kau berkata begitu?”

“Maafkan saya Bu, mungkin Ibu kecewa padaku. Semua orang kecewa padaku. Saya tak layak sekolah, sebaikya saya bekerja saja Bu.”

“Sayang, itu bukan suara hatimu. Sekarang pergilah sholat, tak perlu kau ceritakan sekarang.”

“Ya Bu, terima kasih.”

“Ibu yang meminta maaf padamu sampai tak menghiraukanmu. Sebulan sudah perjuanganmu demi masa depan yang kau cita-citakan. Silakan ke Mushola dan masuk ke kelas. nanti saja istirahat siang atau pulang sekolah.”

Dia berdiri dan meninggalkan ruang guru menuju Mushola. Alhamdulillah, di masih menurut untuk melakukan kebaikan. Namun rasanya ada sesuatu yang berbeda. Belum sempat ku nalar sikap Gundi barusan, Amir datang.

“Amir, maafkan ibu. Sebulan ini ibu terlupa tak begitu memperhatikan Gundi. Bagaimana menurutmu dan berita apa yang aka kau sampaikan pada ibu?”

“Sebelumnya saya meminta maaf bu, sebab sayapun sibuk dengan pelajaran dan membantu teman-teman. Tak terasa Bu, ternyata Gundi juga agak jarang bertanya padaku, malah mendekati Dono cs. Mungkin awalnya bertujuan baik Bu, namun lama-lama dia seperti terkena arus kebiasaan Dono. Saya tak mau bersaing dengan Dono untuk merebut Gundi kembali. Itulah Bu sekilas infonya. Tadi guru olah raga menghukum mereka dan nilai praktik di bawah KKM, nilai sikap C. Saya baru sadar kalau Gundi sedang dalam perjuangan, tampaknya dia down Bu. Maaf saya ke kelas dahulu, nanti malam ibu bisa tilpun saya.”

“OK thx sayang. Do your best.”

“Yes mom, Insya Allah.”

Ya Allah, bagaimana ini? Hamba salah telah meninggalkannya sebulan ini. Berikan petunjukMu ya Allah, apa yang harus hamba lakukan?

“Bu Etna, dipanggil kepala sekolah.”

“Oh iya pak, terima kasih. Sekarang saya akan ke sana. Di ruang KS ya?”

“Iya Bu.”

Ada apa ya kepala sekolah memanggilku? Apakah sehubungan dengan kasus Gundi? Apakah pak guru olah raga (OR) tadi itu habis lapor dan … ehmm … entahlah. Ya sudah tak perlu menduga-duga, pusing deh jadinya. Salahku sendiri sih, kok sebulan menjauh dari Gundi. Sekarang kalau Gundi benar-benar ingin keluar dari sekolah, karena tak tahan lagi menghadapi tantangan demi tantangan yang tak kunjung berhenti, terus mau apa coba?? Memaksakan kehendak pada Gundi?? Hehehe tak bisa seperti itu. Ah … suara hati memprotes.

Part 7: Dia berjuang menghapus cap super malasnya

Gundi si anak malas itu ternyata masih terus berupaya untuk menjadi anak baik dan rajin. Namun tak mudah baginya utuk menghilangkan cap yang sudah terlanjur menempel. Dia sudah dikenal sebagai anak super malas. Beberapa guru masih tak percaya terhadap perjuangan Gundi. Beberapa teman Gundi juga mulai terhasut oleh Dono si ego itu.

Sambil mengoreksi pekerjaan siswa, saya terus mengamati Gundi yang sedang menghadap guru bahasa Inggris. Nah itu dia berdiri dan menerima buku tugasnya dari bu guru BIG (bahasa Inggris). Dia kelihatan mulai berjalan menuju pintu depan dan … oh gurunya juga mengikutinya dari belakang. Saya keluar untuk melihat tujuan mereka. Lega sekali saya, ketika mereka menuju kelas. Jadi jam 1 dan 2 bahasa Inggris. Segera saya sms Amir. Dia segera membalas, katanya jam 1 dan 2 bahasa Inggris dan baru saja bu BIG masuk kelas bersama Gundi. Hehehe dengan cepat saya sms lagi dia, bertanya apa yang mereka kerjakan selama menunggu. Amir membalas, diminta membuat dialog dengan topik anak malas. Hah? Berarti guru itu menyindir Gundi, kasihan anak itu.

Pada jam pelajaran ke 3 dan 4 saya mengajar di kelas sebelah kelas Gundi. Saya merasa rindu padanya. Ingin sekali saya menghiburnya, untuk tetap sabar menghadapi semua tantangan. Oleh sebab itu saya sengaja nyasar (salah kelas) agar dapat melihatnya, hehehe. Setelah saya memberi salam dan dijawab dengan lantang oleh siswa, saya masuk dan berdiri di salah satu bangku siswa agar bisa melihat Gundi. Sebelum berbicara, beberapa siswa mengingatkan saya. Alhamdulillah saya dapat melihat Gundi. Dia senyum dan menganggukkan kepala. Alhamdulillah, berarti pertemuannya dengan bu BIG beres. Mungkin dia bisa mengambil hati beliau. Insya Allah begitu.

“Ibuuu … salah masuk.”

“Ibu seharusnya di kelas sebelah.”

“Oh ya? I’m so sorry. Hehehe I’m growing older. OK see you next.”

“It’s OK mom. It doesn’s matter.”

“No mom, you still look young.”

“Really?”

Ha ha ha ha. Kami semua tertawa berbarengan. Lucu juga mereka. Selagi saya melangkah menuju pintu keluar, sempat terlihat 2 siswa yang duduk di bangku paing depan dan pojok dekat pintu berbisik-bisik. Entahlah apa karena saya terlalu peka atau keGRan, saya dekati mereka.

“Sayang, apa yang kalian bicarakan?”

“Tidak ada kok bu, tidak ada apa-apa.”

“Ehmm mungkin memang tak ada apa-apa, namun kau tahu bahwa ibu bisa menebak?”

“Iya bu, maaf. Saya bisikkan ke dia kalau sebenarnya ibu sengaja masuk kelas ini, untuk melihat Gundi.”

Kucubit pipi gadis manis itu sambil tersenyum.

“Kau tahu saja sayang, thx.”

“Maaf Ibupun selalu tahu. Sampai sepandai-pandai nyontek ibu juga tahu, hehehe telepati ya bu.”

Saya mengucapkan salam, kemudian dengan perlahan meninggalkan kelas sambil tersenyum bahagia. Ehmm apapun yang kita lakukan, walau diusahakan tak kentara, namun ada saja siswa yang peka. Hehehe mereka juga bisa membaca perilaku kita, bahkan mungkin mereka bisa lebih peka. Contohnya Amir – luar biasa, untuk hal-hal tertentu justru saya yang belajar dari dia. Subhanallah. Gadis manis tadi itu ibunya psikiater dan ayahnya dokter anak. Hehehe pantas deh, faktor gen. Kalau Amir rasanya memang asli kehebatan ibunya mendidik dia sejak janin. Dasar pendidikan agamanya juga amat bagus, perilakunya aduhai. Tentulah semua itu berasal dari rumah dan tak tergoyahkan oleh keadaan lingkungan di luar rumah.

Kelas yang berada di sebelah kelas Gundi ini sebenarnya tak ada anak yang malas. Namun tingkat berpikir mereka agak homogen, sehingga terasa lebih pasif. Semua kejadian yang perlu mendapat perhatian sudah saya catat di buku harian khusus, hanya saja tak mungkin diungkap di sini. Kali ini saya fokus pada pembinaan Gundi. Setelah pembelajaran jam ke 3 dan 4 ini selesai saya segera menuju ruang guru sebab ada pengumuman penting dari kepala sekolah. Nanti jam ke 5 dan 6 saya mengajar di kelas Gundi.

Kepala sekolah dan 4 waka sudah siap di ruang guru, namun guru yang sudah di tempat baru sekitar 30%. Sambil menunggu guru lain, saya minum teh hangat dan merapikan file pembelajaran.  Setelah kehadiran guru sekitar 80%, pengarahan di mulai. Waka kurikulum menagih perangkat mengajar dan mengingatkan untuk segera entry nilai harian dan tugas. Kepala sekolah menjelaskan tentang program adhiwiyata dan panitianya.  Bel masuk berbunyi dan waka humas menutup rapat singkat ini. Alhamdulillah lancar, pertanyaan hanya satu dan sumbang saran juga satu. Notulen tampak mencatat masukan dan proses rapat.

Ketika saya membuka HP ternyata Gundi sms minta maaf belum berberita sebab sibuk belajar dan membantu ibunya. Guru BIG sudah beres. Alhamdulillah. Saya bergegas menuju kelas Gundi. Di tengah jalan bertemu dengan guru BIG. Beliau titip pesan kalau nanti Gundi diminta ke ruang guru. Wao ada apa lagi ya. Ah sudahlah, suatu konsekuensi memang harus diterima. Insya Allah semua itu untuk kebaikan Gundi.

Di kelas Gundi tak banyak yang bisa saya ceritakan. Pada kegiatan inti para siswa mengerjakan soal di kelompok masing-masing. Setiap kelompok terdiri atas 4-5 siswa, seorang siswa menjadi leader dan seorang siswa lagi adalah tutor sebaya. Setelah itu wakil kelompok (bukan tutor dan bukan leader) menulis hasil diskusi di papan yang kemudian diplenokan. Gundi termasuk wakil yang harus menulis di papan. Alhamdulillah lancar dan keyakinannya membuat dia tampak makin mantap. Pembelajaran dirangkum melalui tanya jawab dan masing-masing kelompok mengumpulkan hasil kelompok dan dilampiri revisi hasil masukan.

Namun pada akhir pelajaran sesuatu terjadi. Dono si ego itu menjegal kaki Gundi ketika balik ke bangku sehabis menghapus papan. Gundi terjatuh dan ketika berdiri dia dipukul oleh Dono. Segera Amir dkk melerai mereka dan saya membawa mereka ke BP dengan melibatkan Humas Kesiswaan. Sayangnya, semua guru menyalahka Gundi sedang teman-temannya membenarkan Gundi. Besok akan diadakan sidang lanjutan dengan menghadirkan kedua orang tua/wali siswa. Ada-ada saja, kasihan Gundi. Insya Allah kerikil-kerikil itu tak tajam dan Gundi mampu  menghalaunya.

Part 6: Perubahannya masih diragukan

Perjuangan Gundi untuk mengubah dirinya dari super malas menjadi rajin, baik  cara berpakaian, berbicara, keterlibatan dalam pembelajaran, kerajinan mengerjakan tugas, dan lainnya tidaklah mudah. Banyak hambatan yang harus dihadapinya, baik situasi rumah, teman sekelas, maupun guru. Itulah konsekuensi yang harus dihadapinya. Hanya menyesali kesalahan sebelumnya, tentu tak ada gunanya. Alhamdulillah kesadaran dirinya terus meningkat. Dia memang merasa menyesal telah banyak ketinggalan, namun dia terus berdoa dan berjuang. Sopan santunnya makin bagus, kerajinannya juga meningkat.

Ternyata jalan menuju kebaikan tak mudah seperti membalikkan tangan. Proses yang ditempuhnya tak semulus jalan aspal yang baru dipoles. Insya Allah Gundi mampu mengatasi rintangan demi rintangan, tetap berjuang demi masa depannya. Aku optimis melihat starting pointnya dan langkah awalnya. Semoga dia bisa, amin. Eh … HP-ku berbunyi, ada sms masuk. Amir … Insya Allah dia melaporkan perkembangan baik dari Gundi.

“Ibu maaf mengganggu. Saya besok mau menghadap, namun sebagian ingin saya infokan sekarang. Mohon doanya Bu, kasihan Gundi.”

Hah? Ada apa dengan dia? Wah aku tadi sudah berdebar juga, namun malam ini aku baru mau sms Gundi. Mengapa tadi siang aku tak segera bertanya ke Gundi atau Amir? Kepekaan ini tak boleh diabaikan, bisa berakibat pada Gundi. Aku sudah menunda sesuatu yang penting.

“Amir, ada apa dengannya?”

“Tadi guru bahasa Inggris marah ke kelas akibat Gundi, sehingga tak jadi mengajar. Gundi merasa bersalah dan pergi ke Musholah tak balik lagi. Dono menghasut teman-teman. Bu maaf pulsa tinggal sedikit.”

“Oh maaf sayang, smskan nomormu biar ibu isi. Masalah Gundi penting, kasihan dia. OK ibu sms Gundi saja, thx informasimu. Terus bimbing dia ya.”

“Maaf Bu tidak apa-apa, saya sudah siap membeli pulsa dan dananya sudah ada. Besok pagi saja saya menghadap. Wass.”

“OK sayang, terima kasih banyak. Sebenarnya ibu ada dana untuk pembinaan siswa yang ibu sisihkan dari uang les anak-anak, hehehe. Ya sudah besok pagi saja. Take care and do the best.”

Aku langsung sms Gundi, bermaksud untuk mengetahui keadaannya sekaligus jalan yang ditempuhnya untuk menghadapi besok. Sudah 1 jam dia belum juga membalas sms. Ya dia memang membantu ibunya berjualan, namun aku sudah minta dia untuk selalu membawa HP-nya. Pulsa juga sudah terisi cukup banyak. Mungkin dia belum siap menjawab. Aku hanya bisa berdoa untuknya. Mungkin dia sedang mengerjakan PR bahasa Inggris dan lainnya, atau mungkin dia sedang mengatur perasaannya. Insya Allah dia baik-baik saja. Aku benar-benar  memikirkannya. Tidur malam pun terbangun 3 x, akhirnya aku sholat kemudian membuka laptop dan mulai mengetik.

Sebelum jam 6 pagi aku sudah di sekolah, minum teh hijau hangat dan mendengarkan penjelasan Amir. Anak ini memang luar biasa, tanggung jawabnya besar. Sebenarnya tak mudah bagi anak seusia Amir mampu mengatur dan mengendalikan teman-temannya. Subhanallah, sungguh luar biasa dia. Terima kasih ya Allah.

“Dono memang keterlaluan Bu. Mungkin dia iri pada Gundi yang sekarang banyak mendapat perhatian dari teman-teman dan beberapa guru serta wali kelas. Apalagi teman-teman yang sering dia suruh-suruh dan menurut itu sekarang sudah meninggalkannya. Kasihan juga.”

“Amir, maksudmu kau kasihan pada Dono?”

“Ya Bu, kasihan. Dia belum menyadari kesalahannya. Saya membayangkan kalau dia begitu terus, dia bisa gagal dalam meraih cita-citanya.”

“Sayang, anak seperti itu mungkin tak punya cita-cita.”

“Ya tentu punyalah Bu, malah mungkin cita-citanya tinggi sekali tak mengukur keadaan dirinya. Dia tak merintis jalan untuk mencapainya.”

“Eh sayang, kita kok membicarakan Dono, hehehe. Terus langkah kita untuk Gundi bagaimana?”

Lho aku kan seharusnya mencatat keadaan Dono dan harus membantunya juga. Aku malahan tak ingin memikirkan Dono, hehehe tak adil donk. Amir ini hebat sekali, lebih adil, lebih perhatian terhadap temannya, alhamdulillah.

“Ya nanti Insya Allah saya bisa mendekatinya lagi Bu. Maaf bel kurang 10 menit saya harus membantu teman piket. Nanti siang dilanjut ya Bu.”

“Oh iya sayang, maafkan ibu. OK Good luck. Keep doing your best.”

“Thx mom, Insya Allah, I will.”

Ketika bel sudah berbunyi, ada sms masuk dari Amir yang mengabarkan bahwa Gundi belum hadir di kelas. Aku bergegas ke Mushola, eh … dia juga tak ada. Aku menuju ke depan, barangkali dia terlambat dan di hukum untuk membersihkan halaman atau apa. Tak ada juga. Berarti dia tak masuk sekolah. Sebaiknya ku sms saja. Setelah ku tunggu beberapa saat juga tak ada balasan. Kemudian aku menilpunnya, tak juga dibalas. Oh aku belum ke BK. Eh … tak ada. Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Berilah petunjuk.

Aku kembali ke ruang guru dan duduk. Lemas rasanya badan ini; pikiranpun tak tahu mau berpikir apa.  Gagalkah aku membinanya? Mengapa dia kemarin tak menghubungiku dan tak membalas sms maupun tilpun? Hah? Siapa di sana itu? Sepintas tampak seorang siswa sedang duduk menghadap salah seorang guru. Ya beliau guru bahasa Inggris. Anak itu Gundi ya dia Gundi. Ehmm … mungkin kemarin dia berusaha meyelesaikan PR itu sebab hari ini harus dikumpulkan. Dia menunduk dan guru itu mungkin mengoreksi pekerjaannya. Bagaimanapun saya lega, walau tak tahu proses yang sedang berlangsung di sana. Bukalah pintu hati guru tersebut ya Allah, agar perubahan Gundi yang dia lakukan bertahap ini mendapat peluang untuk terus maju. Kasihan Gundi, perubahannya masih diragukan oleh beberapa guru. Insya Allah hal ini menjadi pelajaran yang baik baginya, amin. Aku percaya bahwa Allah SWT memberikan ujian sesuai dengan kemampuan seseorang.

Part 5: Dia sekarang sudah rajin

Pembinaan terhadap Gundi yang awalnya super malas, masih terus kulakukan. Ku ingin Gundi menjadi contoh perjuangan seorang anak yang tadinya pemalas menjadi rajin. Bagaimanapun aku tak mungkin memaksakan kehendak untuk mengubah Gundi menjadi orang lain. Dia harus tetap sebagai dirinya. Untuk itu aku harus membangkitkan kesadaran dirinya bahwa selama ini dia salah melangkah. Pikiran dan perasaannya harus dikonflikkan, sehingga dia berpikir keras dan hati nuraninya turut berbicara. Aku tak hanya menggunakan Konflik Kognitif, namun juga Konflik Afektif. Melalui hipnotis halus (Hypno-heart dalam hypno-teaching), secara bertahap dengan kasih sayang, alhamdulillah akhirnya Gundi dapat tersugesti oleh layananku. Sebenarnya tak ada sesuatu yang sulit, walau menangani anak yang super malas sekalipun. Kuncinya adalah memberikan perhatian dan mendengarkan.

Sore ini aku harus sms Gundi. Ah … mungkin dia masih sibuk membantu ibunya. Sebaiknya setelah sholat Isya’ sajalah. Sebenarnya aku ingin mengetahui perkembangannya dan keluarganya. Amir tutor sebaya yang peduli pada Gundi ternyata sudah bergerak lebih dahulu sebelum ku minta. Dia memang anak hebat; semua teman suka padanya. Dia suka menolong, rajin, dan juga pandai. Walau peringkat 3, namun dia mampu menjelaskan dan bertanya balik kepada teman-temannya. Tak hanya kelasnya, kelas lainpun sering bertanya dan meminjam catatannya. Apa sekarang ku sms Amir ya? Ya, sebaiknya begitu.

“Amir, bagaimana perkembangan Gundi, teman-temanmu, juga guru yang mengajar kalian pada jam-jam setelah ibu?” terkirim, bagus. Beberapa menit kemudian ada sms masuk, eh … saya kira Amir, ternyata Gundi.

“Ass. Ibu, mulai hari ini saya membantu ibuku berjualan. Doakan laku banyak ya Bu. Tadi sepulang sekolah saya sudah belajar Fisika. Di sekolah Amir sudah menjelaskan. Tadi waktu pulang, kami semua bersalam-salaman. Saya menangis Bu dan teman-teman memaafkan saya. Wass.”

Ya Allah, airmata hamba menetes. Alhamdulillah, terima kasih Amir, Gundi, semuanya. Hasil awal sudah mulai tampak. Aku harus membalas smsnya.

“Alhamdulillah sayang. Membantu ibumu? Bagus sekali, namun atur waktumu dengan baik ya. Bawalah bukumu barangkali bisa belajar dan malam nanti kau harus mengerjakan PR. Selamat.”

Sebaiknya ku sms Amir saja. Dia sudah tak perlu membalas sms. Lho … sms dari Amir.

“Ass. Maaf terlambat balas. Tadi sip, lancar Bu, besok saya ke ruang ibu ya, pagi jam ke nol. Terima kasih. Wass.” hehehe singkat, padat, dan jelas. Thx anakku.

“Alhamdulillah, thx sayang.” balasku.

Pagi harinya aku sudah berada di sekolah sekitar jam 05.30. Sepintas ku lihat Amir sudah berada di Mushola. Musholanya dekat dengan ruang guru dan tempat mejaku juga dekat dengan pintu menuju Mushola. Baru selesai merapikan buku dan membuat teh hijau tanpa gula, Amir sudah mengucap salam dan duduk di samping meja. Kami berdiskusi tentang keadaan kelas. Sesuatu yang masih berat bagi Gundi adalah beberapa guru yang belum bisa menerima perubahan Gundi yang cepat itu. Wajarlah, perubahan sikap memang tak bisa cepat, perlu waktu. Gundi harus terus berupaya memacu dirinya untuk tidak kembali malas. Alhamdulillah, Amir dapat mewakiliku mengawasi perkembangan Gundi. Ada satu masalah lagi, yaitu Dono anak yang agak sok menurut mereka, tetap tak suka pada Gundi. Namun teman-teman Dono tak mau memihak Dono. Demikian penjelasan Amir.

“Ibu amat berterima kasih padamu sayang, bimbinglah Gundi. Insya Allah dia mampu bertahan dan terus berjuang melawan kemalasannya.”

“Iya Bu sama-sama. Saya senang mendapat tugas ini. Saya ke kelas dulu ya Bu.

“Iya silakan. Do the best.”

“Yes mom, Insya Allah.”

Hari ini aku tak ada jam di kelas Gundi, besok baru ada. Kegiatan hari ini lancar dan sebelum Maghrib aku sudah sampai di rumah. Tadi setelah istirahat siang, beberapa guru membicarakan Gundi, termasuk wali kelasnya.

“Saya tadi waktu mengajar di kelas Gundi, eh dia berubah lho. Ganteng, rapih, bersih, tidak seperti biasanya. Hehehe.”

“Ah tak mungkinlah. Anak lusuh seperti itu mana bisa berubah 360 derajad.”

“Besok Bapak mengajar kelas Gundi tho? Buktikan saja.”

“Iya benar, tadi saya masuk kelasnya dan dia mau lho piket menghapus papan.”

“Piket? Itu bukan bukti berubah.”

“Lho ketika tanya jawab, dia juga mengangkat tangan dan jawabannya benar.”

“Buktinya waktu bahasa Inggris dia tak memiliki catatan dan PRnya belum dikerjakan.”

“Bapak dan ibu-ibu, sebagai wali kelas saya melihat sendiri perubahannya. Ya namanya super malas menjadi rajin, tidak bisa secepat itu. Beberapa PR sudah dikerjakannya, belum semua.”

“Berarti dia tidak suka pelajaranku ya bu.”

“Buka begitu. Bertahap bu.”

“Ayo pulang, pulang. Besok lagi. Nanti anaknya tersandung batu lho, dibicarakan terus. Selamat bu, bina terus Gundi itu.”

“Ya kita semua donk, masak hanya wali kelas saja.”

Begitulah pembicaraan di ruang guru. Untung dalam Minggu ini pembinaan Gundi melalui sms. Namaku tak disebut, alhamdulillah. Tak mudah bagi Gundi dan aku harus mendampinginya terus. Alhamdulillah Amir dan hampir teman sekelas mendukung Gundi. Insya Allah Gundi berhasil melewati kerikil-kerikil yang mungkin tajam terasa dikakinya. Dia harus ku sms lagi nanti malam. Kasihan keadaan keluarganya masih seperti itu. Ekonomi juga tak memungkinkan bagi Gundi untuk membeli banyak buku. Insya Allah bisa, merambat namun pasti. Amin.

Tetap belajar dan bekerja, walau hampir lumpuh total

Pada saat membuka internet explorer, aku tertegun ketika membaca sebuah artikel tentang seorang perempuan yang hidup dalam tabung besi seperti terlihat dalam foto di bawah ini. Dia berasal dari Kota Lattimore, Amerika Serikat (AS). Namanya Martha Mason. Dia merupakan sosok yang luar biasa. Dia tetap bersemangat walaupun hidup hanya dalam sebuah tabung besi selama 60 tahun. Subhanallah.

Apa yang terjadi padanya? Mengapa sampai 60 tahun dia berada di tabung besi tersebut? Bagaimana dia bisa tersenyum dan penuh semangat menjalani hidup seperti itu?

_h473_w840_m6_otrue_lfalse (2)

Ternyata Mason terkena polio sejak berusia 11 tahun. Penyakit ini membuat dia lumpuh yang tidak sembarang lumpuh. Kelumpuhan ini hampir total. Dia hanya bisa berbaring tanpa bisa bergerak. Walaupun hidup dalam keterbatasan seperti itu, Mason menjalaninya dengan senang. Bahkan dalam keadaan seperti itu dia tetap belajar dan mengikuti ujian di dalam tabung besar itu. Dia lulus dari perguruan tinggi dengan nilai yang memuaskan. Bahkan dia juga telah berhasil menulis sebuah buku yang menceritakan tentang kehidupannya.

“Saya tahu saat itu saya menderita polio, namun saya tidak ingin orang lain tahu,” tulis Martha dalam bukunya.

“Akibatnya saya sekarang hanya bisa berbaring di dalam alat pernafasan untuk orang lumpuh,” tambahnya.

Tabung besi yang digunakan Mason membantu mengalirkan oksigen ke paru-parunya agar dia tetap bisa bernapas. Paru-paru Mason juga lumpuh, sehingga dia kesulitan bernafas. Tadinya saya berpikir alangkah menderitanya dia. Namun melihat senyum dalam foto itu, aku yakin dia memang hebat, dia tak kecewa sehingga dia tidak menderita. Mason berhasil lulus dengan bantuan ibu dan temannya. Mereka membantu Mason mengerjakan semua tugas sekolah. Mason melanjutkan pendidikannya di Universitas Charlotte. Dia berhasil mendapatkan gelar sarjana Bahasa Inggris.

Mason kemudian bekerja sebagai penulis di surat kabar lokal. Caranya dengan mendiktekan kata-kata pada ibunya. Ibunya setia sekali membantu Mason menulis kata-kata yang diucapkannya. Perjuangan hidupnya begitu hebat. Dalam keadaan yang hampir tak masuk akal, dia mampu berbagi ilmunya. Setiap hari dia diktekan ide-idenya. Analisisnya terhadap data amat hebat. Ketika dia ingin studi pustaka, ibunya yang membacakan buku, jurnal, atau majalah. Ketika ada gambar, ibunya berusaha mendekatkan gambar itu dan menjelaskannya. Sungguh luar biasa. Pada tahun 2009 Tuhan memanggil Mason pada usia 71 tahun, setelah 60 tahun berada di dalam alat pernapasan dari besi di atas.

Bangsaku, benarlah bahwa tiada sesuatu yang sulit, jika kita tak menganggapnya sulit. Insya Allah kita mampu layani bangsa secara optimal, berjuang bersama meningkatkan pendidikan bangsa, walau situasi dan kondisi bangsa seperti ini. Amin. Salam sehat selalu.

Apa keistimewaan dari warna hijau?

Dari hasil diskusi dengan siswa tentang ‘Warna Hijau’ yang sudah ku posting terdahulu, dapat disimpulkan bahwa siswa telah memahami dan menyadari pentingnya warna hijau dalam kehidupan. Diskusi berikut ini mengacu pada keistimewaan warna hijau.

“Ibu, apakah tugas tentang bahasan keistimewaan warna hijau ini kami diskusikan dahulu dalam kelompok? Biar kami mempunyai kesempatan untuk menyatukan pendapat Bu.”

“Oh ya sayang, silakan. Ibu senang sekali kalian dapat berinisiatif untuk menyatukan pendapat. Itu bagus, apapun yang perlu didiskusikan, diskusikan dahulu dalam kelompok kecil, sehingga dalam diskusi klasikal, pendapat-pendapat kalian lebih mudah disatukan dan wawasan kalian tentunya lebih luas, penalaran lebih mantap. Insya Allah belajar kailian tentang sesuatu dapat tuntas, tas, tas, he he he.”

“Hahaha … iya Bu, iya, Insya Allah. Terima kasih.”

Senang sekali melihat dan mendengar anak-anak antusias dalam belajar, walau pada awalnya belum seperti ini. Dengan kesabaran ternyata kita dapat melayani mereka membiasakan berlatih nalar, mengeluarkan pendapat, bertukar pikiran, dan meningkatkan cara-cara baik dalam berdiskusi.

“Ibu tampaknya banyak kelompok yang sudah siap dengan simpulannya.”

“Oh ya, ayo anak-anak kita diskusikan bersama hasil kelompok kalian. Silakan.”

“Menurut pendapat kelompok kami, warna hijau memang istimewa dalam kehidupan kita. Mulai dari dedaunan yang dapat mengurangi panasnya bumi, menyembuhkan stress, dan penggunaan warna hijau diantaranya untuk trafic light.”

“Bagus sayang, silakan kelompok lain.”

“Ya benar, Allah SWT menyukai warna hijau. Buktinya daun-daun itu umumnya berwarna hijau yang dapat mengatasi polusi lingkungan hidup, jiwa dan raga kita.”

“Benar, ayo kelompok lain.”

“Hal-hal yang memperlancar hidup kita sering disimbulkan dengan warna hijau. Contohnya traffic light, hijau berarti jalan terus. Mata hijau karena melihat uang banyak yang akan memperlancar hidup kita. Hehehe.”

Hua ha ha ha. Para siswa tertawa mendengar temannya mengatakan mata hijau. Aku pun tak tahan menahan tawa. Tampak ada wakil kelompok lain yang kemudian mengangkat tangan dan berdiri.

“Ibu, Allah SWT dan Rosulullah SAW gemar terhadap warna hijau. Di dalam ayat-ayat Al-Qur’an telah dituliskan tentang warna hijau yang membuat orang menjadi nyaman.”

“Ya sayang, kau benar. Makanya kita harus menyadari bahwa kita sesungguhnya menyukai warna hijau yang menjadi kegemaran Allah SWT yang menciptakan warna hijau itu dan juga hijau inipun merupakan kegemaran Rosulullah SAW. Alhamdulillah, marilah hal ini kita sosialisasikan baik pada lingkungan terdekat maupun masyarakat luas. Terima kasih atas semua masukannya.”

Para siswa perlu sekali diajak untuk menyadari kebesaran Allah SWT dalam pembelajaran apapun. Pembentukan karakter bangsa harus selalu disisipkan diantara pembahasan konsep yang aplikatif. Sungguh, pembelajaran akan hidup dan sangat menyenangkan. Dengan begitu, kita telah mengaplikasikan IMTAQ dan CTL dalam pembelajaran. Baik kurikulum lama mapupun baru kedua hal ini tak akan ditinggalkan, bahkan ketika saya sekolah dahulu, guru juga sudah melaksanakannya. UP TO DATE lah. Okay Guraru, Insya Allah bermanfaat.

Ada apa dengan warna hijau?

Di suatu hari, aku mengajak para siswa untuk mendiskusikan warna hijau. Mulanya, hal ini tercetus dari pembahasan tentang penghijauan dengan penanaman sejuta pohon untuk mengatasi polusi udara.

“Anak-anak, sebelum melanjutkan diskusi tentang penghijauan, ibu ingin bertanya mengenai warna hijau. Mengapa Allah SWT menciptakan daun yang umumnya berwarna hijau?”

“Karena hijau itu menyejukkan Bu.”

“Semuanya tolong renungkan kembali, benarkah ketika kita melihat daun-daun yang berwarna hijau itu, kita merasakan sejuk?”

Mereka tampak mengangguk-angguk, sebagian berpikir dan berdiskusi. Dari wajah mereka tampak adanya kegembiraan dalam belajar. Ada yang berbicara sambil senyum. Giat sekali mereka berdiskusi, bahkan ada pula yang berdebat. Belajar apapun tidak mungkin terlalu teoritis. Guru harus selalu mengkaitkan teori abstrak dengan kehidupan, bahkan dalam mengajar dianjurkan memulai sesuatu dari hal yang nyata, konkrit dan secara bertahap menuju teori yang abstrak. Hal ini akan memotivasi siswa untuk menggerakkan nalarnya dengan lebih mudah, karena mereka merasa mengerti.

“Ibu bolehkah saya mengutarakan pendapat kelompok?”

Hah? Terbangun aku dari lamunanku.

“Ya ya sayang, silahkan.”

“Kelompok kami merasakan bahwa setiap memandang daun-daun yang hijau, kami merasa tenang. Yang semula ada rasa galau, eh … rasa itu berangsur-angsur hilang. Seakan ada gelombang yang menyusup masuk hingga rasa sejuk itu datang dan kami menjadi tenang kembali.”

“Iya Bu, diskusi di kelompok kami juga seperti itu. Maka disarankan kepada siapa saja ketika galau sebaiknya memandang daun-daun yang hijau.”

“Ya sayang, Allahu Akbar, Allah Maha Besar.”

“Alhamdulillah Bu, Allah SWT selalu melindungi kita.”

“Amin, Ya Robbal Alamin. Nah anak-anak, pertanyaan ibu berikutnya adalah mengapa warna hijau yang terpilih sebagai penyejuk dan penenang pikiran dan perasaan kita?”

Para siswa membahas pertanyaanku dalam kelompoknya masing-masing. Aku berkeliling mengamati jalannya diskusi. Mereka masih antusias untuk menjawab pertanyaanku. Semoga pertanyaanku tak terlalu sulit bagi mereka. Di suatu kelompok, ada yang bertanya.

“Bu, bolehkah kami menjelaskannya dengan konsep fisika?”

Aku tak menjawab, hanya mengangguk-anggukkan kepala sampil mengacungkan jempol. Mereka senang sekali dan melanjutkan pembahasannya. Beberapa saat kemudian ada yang sudah mengangkat tangan.

“Anak-anak kita bicarakan bersama hasil diskusi kelompok kalian. Ya silakan kelompok C berbicara.”

Di bangku mereka sudah diletakkan nama kelompoknya. Ada kelompok, A, B, dan seterusnya hingga H.

“Sejuk dan tenang yang kita rasakan disebabkan oleh pantulan cahaya dari warna hijau yang masuk ke kita melalui mata.”

“Bagus sayang, jadi pembahasan ini menyangkut fisika ya. Ilmu kimia kan bagian dari sain, termasuk fisika. Berarti kita sedang berfikir tentang kimia fisika. Siapa ingin menambahkan penjelasan ini?”

“Saya menyambung penjelasan kelompok C Bu. Retina mata menangkap cahaya dengan panjang gelombang tertentu, hingga getaran syaraf itu sampai ke otak. Makanya kita menjadi tenang.”

“Baik, namun mengapa kita berangsur-angsur menjadi tenang?”

“Ketenangan itu menunjukkan bahwa panjang gelombang yang dipantulkan oleh warna hijau sesuai dengan panjang gelombang syaraf otak kita yang jatuh pada zona ketenangan.”

“Kalian hebat, ibu bangga kepada kalian yang mampu menerapkan pengetahuan fisika ke dalam kimia dalam membahas masalah kehidupan. Ibu ingin kalian selalu bersikap seperti ini dalam belajar sain. Bring together all theories that you have learnt into the manner. So you can develop your cognitive gradually step by step. I love you full.”

“Yes mom, we’ll do the best. Thank you verry much, hehehe.”

Begitulah secuil cuplikan diskusi tentang seputar warna hijau. Mereka makin senang belajar kimia. Aku teringat murid jadul yang mengatakan bahwa ku harus mempertahankan cara mengajar kimia melalui CTL, humor, bertema dan integratif, antar sain, lingkungan hidup, dan tak meninggalkan IMTAQ. Terima kasih murid jadul, ibu selalu teringat pada kalian, salam perjuangan dan sukses selalu. Marilah kita kemas pembelajaran menjadi indah, seindah segala sesuatu yang telah Allah SWT titipkan kepada kita para guru. Insya Allah kita bisa. Amin.