Category Archives: cerita non fiksi

Kasihan Ibuku (Bagian 2)

Perlahan-lahan kulepaskan dekapannya, kuhapus airmatanya yang membanjir dan kucium keningnya. Tampak nafasnya agak tersengal, namun sesaat kemudian dia langsung membenahi wajahnya. Senyumnya mulai muncul dan diciumnya tanganku.

“Atur nafasmu sayang, ya … ya bagus. Ibu senang bisa bertemu denganmu lagi. Mengapa kau menangis seperti itu? Ceritakanlah pada ibu, singkat saja, lain kali dapat disambung. Kau bisa sms ibu dan ibu juga bisa ke sini, toh ibu sudah tahu rumahmu.”

Dilepaskannya telapak tanganku yang dari tadi masih dipegangnya. Dihapusnya airmata yang masih menetes pelan. Dia menggelengkan kepala sambil berkata pelan. Aku hampir tak bisa mendengar suaranya. Ehmm … mungkin dia memiliki rahasia hidup yang tak boleh terdengar oleh ayah dan keponakannya, Nindar.

“Sepertinya tak mungkin saya bercerita sekarang Bu, tetapi saya mohon advis ibu ya, alamat email ibu masih tetap kan? Lewat email saja Bu, lebih leluasa saya menjelaskannya. Saya tak boleh kelihatan menangis di depan ayah dan Nindar. Saya harus tampak tegar, selalu senyum, dan harus bisa menunjukkan bahwa tak ada beban apapun pada diriku. Maafkan saya Bu.”

“Okay sayang, kau tahu sifat ibu juga kan? Ya kau benar, sebaiknya begitu. Ibu makin salut padamu, kau hebat. kau sudah makin dewasa. OK jangan bersedih ya, dan kau memang harus segera menghilangkan beban yang sebenarnya masih kau simpan sendiri.”

“Semua saran-saran ibu dulu sudah kulakukan, terima kasih dan saya tak mungkin melupakan ibu. Hari ini Allah SWT mempertemukan saya dengan ibu, Alhamdulillah. Saya membutuhkan ibu lagi.”

“Ya sayang, ibu senang dapat membantumu. Maaf tehnya ku minum ya?”

“Oh iya Bu, wah semoga belum dingin ya, ibu kan tidak suka teh dingin.”

“Tidak kok, ini masih hangat. Hehehe kau masih ingat kesukaanku.”

Kuminum habis teh itu – eh … ayahnya dan Nindar keluar dan duduk dihadapanku. Lho ayahnya meletakkan pisang goreng di meja.

“Ibu ini baru saja saya menggoreng pisang, ayo dimakan mumpung masih hangat.”

“Masih panas kek, bukan hangat.” sela Nindar, anak ini kritis, saya makin menyukainya.

“Hehehe iya panas, ini Bu tissuenya.” kata si kakek sambil tertawa lepas. Si Nindar juga tertawa melihat si kakek.

“Lho maaf kek, saya terlambat.”

“Terlambat apa?” tanya kakeknya.

“Hehehe itu kok kakek yang mengambilkan bu guru tissue. Mestinya saya.”

Hahaha kami semua tertawa. Si kakak ternyata lebih keras tertawanya, terpingkal lagi.

“Maaf ya, saya kok menjadi raja di sini ya, apa-apa dilayani, malu deh.” ucapku sambil malu-malu.

“Lho Bu, kok raja sih, ratu donk. Hehehe Ibu ternyata lebih lucu dari kakek.”

Hahaha semua tertawa lagi.

“Oh iya ya, ratu, kau benar Nindar. Wah bu guru kok salah ya.”

Kami bertiga kemudian makan pisang goreng. Harus pelan-pelan, soalnya masih panas sekali. Semestinya pisang goreng ini tak di pegang dengan tissue, tissuenya lengket, hehehe. Ya sudahlah, aku harus menghormati keluarga ini. Masak begini saja mau protes, hehehe.

“Nindar sudah kelas berapa?” tanyaku pada Nindar.

“Kelas 1 SD Nek.” jawabnya.

“Bagaimana nilai-nilaimu sayang?”

“Alhamdulillah baik.” jawabnya pendek.

Setelah waktu menunjukkan jam 2 aku pamit, karena aku akan ke toko dahulu kemudian memberi les. Kami bersalam-salaman dan kakek serta Nindar meminta aku sering main ke rumah ini. Aku mengangguk dan tersenyum. Keluarga ini menarik perhatianku, apalagi Sari muridku ini memintaku untuk membantu keluar dari suatu masalah yang belum jelas bagiku. Insya Allah aku bisa membantu Sari dan keluarga ini. Bantuanku untuk keluarga ini rasanya bukan dana, namun aku masih belum tahu apa yang akan kulakukan.

To be continued –> Bagian 3.

Iklan