Category Archives: Cerita Fiksi

Kasihan Ibuku (Bagian 3)

Siang ini aku berangkat agak cepat, ingin survey untuk bahan tulisanku. Di angkot aku bertemu dengan Nindar, keponakan Sari bekas muridku yang telah kuceritakan pada bagian kedua. Tampaknya dia pulang dari sekolah dan sendirian. Nindar tak lupa padaku.

“Assalamu’alaikum nek.”

“Wa’alaikum salam sayang. Kakek tidak menjemputmu?”

“Tidak nek, Nindar biasa sendiri kok, kapan itu sekalian belanja.”

“Oh begitu. Ehm … Nindar berani ya.”

“Awalnya takut juga nek, tetapi Nindar harus hemat. Kalau berangkat dan pulang sekolah harus diantar kakek kan pengeluarannya bertambah. Kasihan ibuku nek.”

“Ya sayang, kau benar. Nenek turut bangga padamu. Apakah kau sering berkunjung ke ibumu sayang?”

“Ibuku yang mengantar uang bulanan Nindar. Nindar ini kos lho di rumah kakek dan tante Sari.”

“Kos? Maksudmu apa?”

“Iya hehehe. Nindar ini dititipkan ke kakek dan tante Sari nek. Sebenarnya Nindar kasihan sama ibu, harus bekerja siang dan malam terus menerus. Ayahku tidak bekerja nek, yang bekerja hanya ibu.”

“Maafkan nenek sayang, nenek tak bermaksud untuk membuatmu sedih.”

“Kata kakek dan tante Sari, Nindar tidak boleh bersedih terus. Nindar harus belajar dengan tekun agar kelak bisa bekerja menggantikan ibu. Ibu tentu lelah sekali nek.”

“Iya sayang. Namun kalau ibumu itu ikhlas melakukannya karena ingin kau dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sukses, Insya Allah ibumu tak merasakan lelah.”

“Iya nek, Insya Allah begitu. Kita harus selalu bersyukur ya Nek. Hidup Nindar ini masih lebih baik dibanding anak-anak jalanan itu ya.”

Nindar menunjuk anak-anak yang berjalan dan ada yang nongkrong di pinggir jalan. mereka adalah pengemis cilik. Aku mengangguk-anggukkan kepala sambil melihat mereka.

“Nek, kata orang ayahku itu pemalas. Ayah anaknya orang kaya, suka berfoya-foya. Sekarang kakek dan nenek dari ayah sudah meninggal. Di rumah tidak ada pembantu. Ibu sebelum ke kantor ya membereskan rumah dulu termasuk masak. Pulangnya malam dan masih harus masak lagi, seterika dan lainnya. Sebenarnya ayahku sakit, tetapi terlalu manja. Ibuku tak mau hamil lagi, aku dititipkan kakek karena mungkin ibu khawatir aku akan meniru ayah, karena setiap hari suka teriak-teriak, suka menyuruh dan lainnya.”

“Ya ya kasihan ibumu. Eh sayang, rumahmu sudah dekat lho. Bersiap-siaplah.”

“Nenek sekarang ke rumahku ya, biar kakek ada temannya, barangkali kakek ingin cerita-cerita.”

“OK sayang.”

Kami berdua turun dari angkot dan berjalan kaki. Mereka berdua, kakek dan cucu senang sekali ketika aku berada di sana agak lama. Nindar pamit untuk mengerjakan PR, tinggal aku dengan kakeknya yang masih bercerita. Dari ceritanya, ternyata beliau ini dulu bukan pegawai negeri, bekerja di swasta. Karena sering sakit, maka gajinya tak cukup untuk keluarga. Beliau mempunyai 2 putri,  Sari dan Sara ibu Nindar. Istrinya harus mencari dana untuk kehidupan keluarga dan beliau keluar masuk rumah sakit. Akhirnya istrinya kecapekan dan terkena sakit lever yang amat parah, kemudian wafat. Ibu Sari sangat luar biasa, telah mengatur semua, meninggalkan dana untuk Sara, Sari, beliau dan cucunya. Begitulah ceritanya. Kulihat jam sudah waktunya aku harus pamit.

“Pak, saya pamit dulu, lain kali mampir lagi.”

“Oh iya bu, terima kasih banyak atas kesediaan ibu berkunjung ke sini, semoga ibu tidak bosan dengan kami.”

Ketika akan keluar, Nindar berteriak katanya semua PR sudah selesai dikerjakan. Di luar tampak Sari baru tiba dengan membawa belanjaan. Dia sedikit terkejut, aku berada di rumahnya tanpa memberitahu dia. Iya ya tadi aku kok tidak sms ke dia.

“Maaf bu saya tidak tahu kalau ibu ke sini.”

“Oh tidak apa-apa sayang, memang tadi tidak direncanakan. Ibu bertemu Nindar di angkot dan ibu ikut kesini. Sekarang ibu harus memberi les privat. Lain kali saja mampir lagi.”

“Iya bu, terima kasih.”

“Nek, sebentar nek, tunggu Nindar.”

“Ada apa sayang?”

“Nindar kan belum mengucapkan terima kasih pada nenek dan Nindar kan harus minta maaf karena kelamaan mengerjakan PR, jadinya nenek hanya ditemani kakek. Sedang maksud Nindar tadi, Nindar ingin duduk-duduk sama nenek.”

“Hehehe, Nindar tak perlu meminta maaf, Nindar kan harus belajar. Oh ya nenek yang meminta maaf karena sekarang harus memberi les privat.”

Dia mengangguk-angguk dan mencium tanganku. Sari juga mencium tanganku dan si kakek juga tampak ingin bersalaman denganku. Setelah bersalaman, aku berjalan menuju jalan besar dan naik angkot. Sambil memberi les, terpikir olehku cerita Nindar dan kakeknya. Kasihan ibu Sari almarhumah dan ibu Nindar. Malam harinya Sari sms minta didoakan, dia sedang melengkapi persyaratan untuk kuliah S-2 di Australia dan memintaku untuk membantu Sara, paling tidak memotivasinya.

To be continued –> Bagian 4.

Iklan

Mengapa kau mencintaiku? (Bagian 4)

Setelah siuman, ternyata aku telah berada di kamar pasien sendirian. Aku berusaha duduk dan ku pencet bel panggilan. Tak berapa lama terdengar suara sepatu suster yang sedang berlari dan masuk ke kamarku.

“Alhamdulillah ibu sudah siuman.”

“Sus panggil aku mbak saja, aku masih muda lho.”

“Maaf ibu, saya tak berani melanggar aturan pekerjaan. Ibu bukan berarti sudah tua; saya harus menghormati ibu sebagai pasien atau tamu kami.”

“Ya sudah tidak apa-apa. Maksudku tadi kekeluargaan saja, tak perlu formal. Namun RS ini disiplin ya, OK itu baik. Sus tolong antar aku ke ruang pasien tadi ya.”

“Iya Bu, sebentar.” Jawabnya.

Tak berapa lama dokter masuk.

“Alhamdulillah, ibu sudah siuman. Pihak rumah sakit tadi sempat bingung.”

“Oh maafkan saya Dok. Saya amat terkejut, sehigga tak sadarkan diri. Dok, mengapa dia? Sakit apa dia dok?” tanyaku.

“Sekeluarga mengalami kecelakaan dan hanya dia yang hidup, namun lumpuh dan sulit berbicara. Keadaannya kritis dan kami tak sanggup menolong. Dia menyebut namamu dan meminta kami untuk membuka dompetnya. Kami tanggap apa yang dimaksudkannya. Setelah kami temukan nomor HP ibu, kami segera menghubungi, sebab khawatir tak sempat menemuinya. Sekarang saya membawa berita yang sangat mengejutkan, rasanya aneh tetapi nyata-nyata terjadi.”

“Ap … apa maksud dokter? Ada apa dengannya? Tolong dok saya ingin menjumpainya sekarang. Tolong jangan melarang saya.”

Aku memaksakan diri untuk berdiri. Karena tempat tidurnya agak tinggi, aku hentakkan badanku, maksudku akan meloncat turun. Astaqfirullah … aku hampir jatuh, untung si suster dengan sigap memegangku. Dokter dan suster itu tertawa. Hah? Mengapa mereka malah tertawa? Lucukah aku? Apa aku tadi salah dengar? Apa tadi yang dikatakan dokter? Berita yang mengejutkan. Maksudnya berita baikkah? Insya Allah.

“Maaf kalau kata-kata saya tadi ada yang salah. Maksudnya ada berita yang sangat baik untuk ibu.”

Alhamdulillah, dokter ini bagaimana sih.

“Maksud dokter …”

“Alhamdulillah, sebuah mukjizat telah terjadi. Ternyata kesehatannya membaik bu. Dia memiliki lagi kekuatan hidup setelah melihatmu. Bersediakah kau merawatnya? Kalau iya, kalian kita nikahkan disini, tentunya menunggu keputusan keluargamu.”

Aku terpaku mendengarkan penjelasan dokter. Aku memang terlalu mencintainya. Kuputuskan sekarang saja untuk merawatnya. Dia dan aku sudah sebatang kara. Aku menganggukkan kepala dan ku tilpun ibu angkatku yang juga sudah janda.

***

Now I understand why did you go last time without any reason. Ya … ya, sekarang aku paham … mengapa dulu kau pergi tanpa suatu alasan. Mungkin kebingunganmu dahulu itu karena ada suatu masalah yang membuat kita harus berpisah, namun kau tak tega padaku untuk menjelaskannya. Apakah ketika itu kau dipaksa untuk menikah dengan gadis pilihan orang tuamu, apakah kau memang telah dijodohkan sejak kecil, namun kau tak tahu sebelumnya. Tak masalah bagiku. Hati kita masih selalu dekat, bahkan menyatu. Apakah selama 3 tahun ini kau telah beristri? Mungkin tidak, karena sampai sekarang kau tetap sendiri, tak seorang wanitapun ada di sampingmu. Apakah ketika itu kau menolak untuk dinikahkan? Itupun tak masalah bagiku. Buktinya, sekarang Allah SWT telah menyatukan kita kembali. Aku tak akan bertanya mas, aku memang tak perlu bertanya. Ku telah memilikimu kembali. Selama ini aku juga tak salah, memang benar … walau jauh di mata ternyata hati kita selalu menyatu. Aku tak pernah menyalahkanmu, Allah SWT telah membuka pintu hati kita sejak dulu hingga sekarang, alhamdulillah.

***

Dengan penuh cinta dan kasih sayang ku rawat dia. Senyumnya mulai mekar, bicaranya mulai banyak dan jelas. Kami menjalani hidup ini dengan bahagia. Terima kasih ya Allah, Kau telah mempertemukan kami kembali dan Kau beri hamba kesempatan untuk merawatnya dan menyayanginya. Allahu Akbar.

***

“Yangtiiii … yangkuuung … di belakang ya …? Ini lho … kami membawa jus kesukaan Eyang.”

Ehmm … Fitri putriku satu-satunya dan kedua cucuku pada datang. Oh ya mereka libur semester. Hehehe aku dibawakan jus. Mereka tahu jus itu kesukaanku dahulu. Sudah lama, bahkan semenjak merawat mas aku tak pernah ingat untuk membuat jus. Fitri adalah bayi tabung. Alhamdulillah dengan kesabaran akhirnya kami bisa memiliki Fitri dan lucunya, suami Fitri adalah anak tunggal dari dokter yang merawat mas di rumah sakit dulu. Dan sudah kehendak Allah SWT, ternyata suster yang menolong kami dulu itu menjadi istri pak dokter. Hehehe dunia ini rasanya kok menjadi sempit ya. Cucuku yang pertama Umar, kuliah di FK Unair dan adiknya Umi terkabul keinginannya kuliah di Farmasi Unair. Allahu Akbar, Allah Maha Besar.

The End

Mengapa kau mencintaiku? (Bagian 3)

Tahun keempat. Aku duduk di cafe yang biasa kami datangi. Ku minum jus kesukaanku dan kubeli minuman kesukaannya pula. Aku merenung membayangkannya. Terima kasih ya Allah, hamba dapat membayangkan sifat-sifat baiknya dengan jelas. Insya Allah hati kami masih tetap bersatu. HP ku bergetar … ada tilpun masuk.

“Ya benar, ini saya I’is yang bicara.” ucapku dengan penuh tanda tanya.

“Hah? Apa mbak? Agak keras sedikit ya, maaf suara mbak kurang jelas, nih agak putus-putus.”

“Yaya begitu sudah lebih jelas. Apa? Aku diminta ke rumah sakit? Rumah sakit mana? Sebentar jangan ditutup dulu, saya akan mengambil kertas untuk mencatat.”

Ku buka tasku, alhamdulillah ada kertas. Pensil … ehmm pensilku di mana ya? Oh ini.

“Mbak, maaf dektekan kembali, pelan-pelan ya. Sudah kucatat mbak, terima kasih. Ehmm apa mbak? Oh segera? Yaya mbak sekarang saya akan langsung menuju RS.”

Ku terima tilpun dari rumah sakit umum, katanya seorang pasien ingin bertemu denganku sebelum ajalnya tiba. Siapa dia? Aku tak berani berpikir yang bukan-bukan. Aku langsung naik taksi menuju rumah sakit.

Ya Allah, siapakah orang yang ingin bertemu dengan hamba tersebut? Hamba sadar selama ini hamba sedang menjalani ujianMu. Tak henti-hentinya hamba terus saja berharap agar Engkau dapat mempertemukan kami kembali yang selama 3 tahun ini telah terpisahkan oleh keadaan yang tak hamba mengerti. Hamba percaya kepadaMu ya Allah bahwa semua ini demi kebaikan kami. Alhamdulillah aku bisa tenang dan dapat bertahan selama 3 tahun terpisah darinya. Terngiang kembali lagu Koes Plus:

The time has come that we must be apart
The memory is still in my mind but you have gone
And you leave me alone.

Ehmm … however I can survive and I still survive, although we were seperated.

Hehehe, Survive … kan kata ini ada dalam lagu Bondan Prakoso: “I will survive.” Aku akan bertahan … ya aku harus dapat bertahan, walau apapun yang terjadi. Toh tak terpikirkan olehku untuk mencari gantinya. Ehmm … aku dapat merasakan bahwa saat-saat tertentu hati kita masih menyatu. Aku merasakan kehadiranmu. Ehmm … ku ingat kata-kata ibu: “Walau jauh di mata, namun dekat di hati.” Aku merasakan bahwa nun jauh di sana, kaupun sedang memikirkanku. Aku percaya bahwa kaupun berpikir kalau aku dapat bertahan dan selalu setia menunggumu, hingga … Allah SWT mempertemukan kita kembali, dalam keadaan apapun. Aku sudah amat bersyukur bahwa kita pernah berdua, menjalin persahabatan bagai kakak adik yang saling membantu dan mendukung. Sharing ideas and experiences, give and take, dan saling mengingatkan. Kau telah menuntunku untuk selalu mendekat padaNya, hingga sampai kinipun Al Qur’an darimu selalu berada dalam genggamanku, ke mana-mana ada bersamaku. Alhamdulillah, rasanya begitu indah walau hanya mengenangmu seperti ini.

***

Sampai di RS aku berjalan cepat berlari lambat agar segera sampai ke ruang yang dimaksud. Ruang 2o2. Oh lantai 2. Banyak sekali orang di situ, OK aku naik tangga saja. Bismillahirrohmanirrohim, ku ketuk pintu kamar nomor 202. Pintunya telah di buka, seseorang membukanya … suster. Aku tak terpikir untuk berterima kasih. Mataku menatap seorang pasien terbaring di tempat tidur itu. Siapa dia? Lelaki? Ya Allah, siapa dia? Kakiku seakan kaku, ya aku tak bisa menggerakkannya. Suster itu menuntunku, mendekat … makin dekat.

“Mas, benarkah yang terbaring dihadapanku ini kau?” ratapku.

Oh dia memang kekasihku. Dia menggangguk lemas dan aku … terjatuh pingsan.

To be continued –> Part 4.

Mengapa kau mencintaiku? (Bagian 2)

Cerita berikut merupakan bagian kedua dari postingan terdahulu, “Mengapa kau mencintaiku? (Bagian 1).” Insya Allah bagian kedua ini mampu membuat pembaca mengikuti alur cerita dengan baik, amin. Silakan dinikmati, terima kasih.

***

Selama 3 hari dia bersikap aneh, bahkan menurutku sangat aneh. Aku tak bisa berkutik, tak berani bertanya, tak berani mengganggunya. Kejadian ini kupendam, kusimpan sendiri. Sama sekali aku tak mempunyai suatu keinginan untuk menceritakan hal ini kepada siapapun. Rasa-rasanya tak mungkin dia memiliki kekasih lain, atau dipaksa untuk menikah dengan gadis lain. Tidak … feelingku berkata tidak. Bahkan aku kasihan sekali melihatnya sering termenung dan sepertinya tak mau diganggu. Ketika kulihat sorot matanya, ada suatu kesedihan yang dalam … sangat dalam. Ku ingat bahwa kita dapat membaca pikiran atau hati seseorang dari sorot matanya.

***

 Setelah 3 hari, dia tak pernah datang lagi. Setahun sudah berlalu, sama sekali tiada kabar berita. Tiada satu burungpun yang menyampaikannya padaku. Di kotak pospun tidak kutemui barang selembar suratpun. Kulihat HPku, kuteliti lagi, tidak ada tilpun maupun sms. Mengapa kau mencintaiku kalau untuk kau tinggalkan seperti ini? Tanpa suatu alasan dan tanpa pesan sepatah katapun. Apakah sikapmu yang aneh itu merupakan pesanmu yang terakhir? Kau bermaksud melepaskanku dan meninggalkanku untuk seterusnya? Apakah kesedihan yang kuamati dari sorot matamu itu menunjukkan bahwa kau tak tega untuk menjelaskannya padaku?

Kalau memang iya, mengapa caranya seperti itu? Ada apakah sebenarnya denganmu mas? Kalau itu suatu kesedihan, tak percayakah bahwa aku mungkin dapat membantumu? Kalau hal lain, mengapa tak berpesan? Aku harus mencari tahu … ya … aku harus memperjuangkan cinta kita. Aku tak mau menangis. tetesan air mataku bisa membuatku lemah dan sulit untuk bergerak mencarimu. Insya Allah aku akan berupaya untuk mencarimu mas, ujung duniapun Insya Allah bisa kujelajahi. Ya Allah, tolonglah hamba.

***

Tiga tahun telah berlalu, namun aku masih berharap untuk bertemu dengannya. Paling tidak, aku harus yakin dimana dia sekarang dan bagaimana keadaannya. Aku terlanjur mencintainya. Cintanya terasa begitu tulus, dahulu kami merasakan saat-saat yang indah. Andaikan sekarang ternyata dia berlabuh dihati yang lain, aku relakan dikau. Karena aku merasa bahwa kau mendapatkan suatu tekanan yang tak mampu kau elakkan. Yang penting bagiku, aku ingin tahu dimanakah kau berada dan sedang apakah kau? Apakah kau juga mengenangku seperti aku mengenangmu?

Mengapa kau mencintaiku? (Bagian 1)

I don’t understand … why do you love me if you leave me alone. Aku tak mengerti … mengapa kau mencintaiku jika kau tinggalkan aku sendiri. Begitulah jeritan hatiku dikala aku mendengar lagi lagu dari Koes Plus ciptaan Yon Koeswoyo itu. Why do yo love me, itulah judul lagunya. Syair lagu itu masih kuingat, walau bahasa Inggris … masih begitu lekat dihatiku. Aku tak kuasa menghilangkan kesan-kesan ketika bersamanya. Hingga kini aku masih hidup sendiri, harapanku masih tersisa untuk bersamanya lagi. Insya Allah kami masih ada harapan untuk bertemu lagi. Ya Allah, hamba tak mampu mencari penggantinya.

The time has come that we must be apart

The memory is still in my mind, but you have gone

And you leave me alone

Ref :

Why do you love me

So sweet and tenderly

I do everything to make you happy.. uuuu….

But now everything it’s only a dream

A dream that never comes

I only wait ‘till true love will come

Ref:

Why do you love me

So sweet and tenderly

I do everything to make you happy.. uuuu…. (Fine)

The time has come that we must be apart

The memory is still in my mind, but you have gone

And you leave me alone

***

“Is … kok melamun, habiskan minumanmu.” tegurnya.

Tersentak aku mendengar suaranya, … ya … aku tadi termenung sejenak. Berapa lama aku merenung? Ah aku malu sampai ketahuan dia.

“Eh … ya, maaf.” Sedotan jus itu kutarik dan ku minum jus itu dengan cepat. Alhamdulillah minumanku telah habis. Ku lirik dia, eh … kok dia sekarang merenung? Ada apa? Apa dia sedang memikirkan apa yang kurenungkan tadi?

“Ayo mas.” ujarku yang ternyata juga mengejutkannya. Minumannya tersenggol tangannya dan tumpah.

“Maaf mas, aku tak melihat kalau mas sedang memikirkan sesuatu.”

Aku jadi serba salah, akulah penyebab pertamanya. Mengapa aku tadi merenung didepannya? Kemudian mengapa pula dia juga merenungkan sesuatu?

“Eh … sudahlah tidak apa-apa. Ayo kita pulang sekarang, biar petugas membersihkannya.”

Dia berdiri terus berjalan dan akupun mengikuti langkah panjangnya.

***

Makin hari rasanya dia makin aneh. Sepertinya ada beban berat yang sedang dipikirkannya. Ada apa gerangan? Walau baru 3 hari ini dia aneh, hatiku sudah memberontak. Dia tidak seperti yang dulu lagi. Apakah ini hanya perasaanku saja? Tidak … tidak, dia memang telah berbeda, berbeda sekali. Marahkah dia kalau aku bertanya? Apa yang harus aku lakukan? Bertanya tidak berani, aku makin sedih melihat keadaannya. Manakah kemesraan itu? Lari kemana? Mungkinkah terbawa angin malam yang berhembus dengan kencangnya? Kemana aku harus mencarinya? Dalam dirinya, seperti sudah tak berbekas. Apakah faktor penyebabnya hingga dia bisa berubah sedrastis ini? Ya Allah, hamba bingung sekali. Sebaiknya aku sholat, kemudian ku tulis saja kebingunganku ini.

To be continued –> Part 2.