Part 4: Kerajinannya tampak meningkat

Gundi anak super malas itu telah bangkit secara bertahap, kerajinannya tampak meningkat. Dalam seminggu ini aku harus melayani anak lain, sehingga layanan untuk Gundi ku lakukan melalui sms. Dia ku pinjami sebuah HP dengan pulsa yang sudah terisi, agar hubungan kami lancar. Secara rutin ku monitor dia agar tahu sejauh mana perkembangan perubahan sikapnya. Kalau ada apa-apa, sewaktu-waktu aku bisa memanggilnya. Dia harus berlatih meningkatkan diri. Oleh sebab itu ku berikan suatu kepercayaan, agar dia dapat berlatih mandiri. Insya Allah muncul kebanggaan dalam dirinya dan dia dapat bangkit untuk menghadapi tantangan yang bisa terjadi setiap saat. Kalau setiap hari dia kulayani di ruang guru, tentunya dapat menarik perhatian siapapun.

Agar aku tak lupa pada kasus Gundi, ku minta salah satu tutor sebaya yang masih peduli pada Gundi untuk selalu memberi informasi melalui sms atau langsung ke ruang guru. Untuk sementara Gundi sudah ku beritahu bahwa konsultasinya melalui sms.

“Gun, maaf ya. Sebaiknya sementara ini konsultasinya melalui sms saja, biar tak menjadi bahan pembicaraan. Melalui sms kita bisa lebih leluasa. Kapan saja, di mana saja, iya kan?”

“Iya Bu saya mengerti maksud Ibu. Stempel saya terlampau parah, kasihan Ibu.”

“Eh … sayang, kok kasihan pada ibu. Maksudmu apa?”

“Maaf kalau salah bicara Bu. Maksud saya, Ibu sudah berupaya membantu saya dan saya sedang menjalankan saran Ibu, tahu-tahu ada yang iri atau apa. Sulit Bu menjelaskannya, saya ingin positif dan akan menjauhi yang negatif.”

Bel tanda masuk berbunyi. Dia harus segera masuk ke kelas.

“Ya ya ibu mengerti kok. Sudah sana masuk. Senyum lho jangan lupa.”

Diciumnya tanganku sambil tersenyum. Senyum itu sudah lumayan, tak terlalu dipaksakan. Kasihan, aku tak tega setiap melihat dan mengingatnya. Aku harus segera sms Amir, tutor sebaya yang bisa membantu setiap saat.

“Amir, nanti istirahat siang segera ke ruang ibu ya, thx.” OK sms ini sudah terkirim.

Aku harus segera keliling kelas bersama guru piket yang lain. Kami biasanya berduaan, ada yang ke arah depan dan ke arah belakang. Ada 2 jam kosong. Oh ya nanti ada 2 siswa akan konsultasi olimpiade. Alhamdulillah, hari ini aktivitasku cukup padat. Setelah keliling, aku akan membuka laptop menyiapkan materi olimpiade yang sudah ku rapikan di folder lomba. Rita dan Dwi yang akan mengkoordinir teman-temannya nanti akan membawa flashdisk, Insya Allah tak lupa. Tak masalah sih, aku memiliki 2 flashdisk yang biasa dipinjam anak-anak. Kalau begitu, agar tak lama melayani anak olimpiade sebaiknya setelah piket akan ku copy file materi olimpiade itu.

“Bu Etna, ayo piket keliling.”

“Oh ya Bu, he he he maaf.”

“Tidak apa-apa, biasanya Ibu yang menungguku. Nih saya mau makan tidak ada temannya, jadi ya piket saja dulu. Eh … Bu, itu si Gundi kok sering ke Ibu ada apa? Minta les ya? Minta tambahan nilai?”

Nah kan. Ibu-ibu ini memang sering berbeda dibanding bapak-bapak, he he he maaf. Maksudku, beliau ini seringkali mempertanyakan sesuatu dengan dilandasi oleh kecurigaan yang tak berarti. Tampaknya Ibu X ini menuduh Gundi sekaligus saya. Lho … beliau kan wali kelas Gundi? Oh … makanya dia bertanya begitu, ehmm … pantas. Sebaiknya aku tak berpandangan negatif, ambil sisi baiknya saja. Bismillah.

“Bu informasi dari BK, Gundi anak orang tak mampu. Jadi tak mungkin dia les kimia. Nilai? Guru-guru sendiri pada menambah nilainya. Semula di bawah KKM menjadi pas KKM. Senyampang Ibu wali kelasnya, bolehkah saya memberi nilai dia tetap di bawah KKM?”

“Ooo begitu toh ceritanya. BK ini bagaimana sih saya kok malah tak tahu itu. Harusnya ya diberi bea siswa anak miskin.”

“Kata BK sudah Bu.”

“Wah saya kok belum tahu ya.”

“Coba ibu cek daftar bea siswa yang sudah dibagikan ke wali kelas.”

“Ya mungkin di rumah bu. Sudahlah, gampang nanti saya minta lagi saja. Sekarang ayo piket.”

Kami berdua ke bagian arah belakang. Untunglah. Andaikan ke arah depan, wah malu juga agak terlambat. Sambil berjalan dan mencatat hal-hal penting, ku ajak ibu X membahas masalah Gundi.

“Bu, nilai Gundi untuk sisipan asli saja ya.”

“Terserah bu Etna, ibu biasanya bagaimana. Kan ibu selalu memberi remidi toh? Ya laporkan sekalian hasilnya itu.”

“OK bu. Menurut ibu bagaimana dengan Gundi?” saya coba memancing pembicaraan.

“Ehmm … dia kan terkenal malas, badannya lusuh lagi. Tak seorangpun mendekatinya.”

“Maksud ibu?” saya sengaja meminta penjelasan.

“Ya saya tak ambil resikolah. Perkara nilai kan terserah dewan guru juga. Oh ya saya titip dibina saja oleh ibu, kan bu Etna dari dulu dekat sama anak.”

“Ya Insya Allah bu.”

Nah berarti aku lebih leluasa membina Gundi, alhamdulillah. Selesai piket, aku segera menyiapkan materi olimpiade. Tak terasa istirahat siang telah tiba. Rita, Dwi, dan Amir datang bersamaan. Setelah berbincang singkat, kuserahkan 2 flashdisk kepada mereka.

“Terima kasih Bu. Seperti biasa akan kami print out dan foto copy. Lusa di lab kimia ya Bu, sementara ada 14 siswa.”

“Excellent. OK thx, see you next and do the best, please.”

Mereka selalu mencium tangan pada awal dan akhir pertemuan. Di jalanpun ketika berpapasan ya selalu begitu, alhamdulillah. Tinggal Amir yang masih bersamaku. Kami berunding tentang perubahan Gundi dan ku minta padanya untuk menerima Gundi dengan baik. Amir sanggup dan katanya anak-anak salut atas upayaku. Mereka senang Gundi sudah berubah, badannya tak lusuh lagi, tubuhnya bersih, sudah mulai senyum dan mendekat ke bangku Amir dan sekitarnya. Alhamdulillah.

“Mir kau juga jemput bola ya, kasihan Gundi. Hargailah peningkatannya.”

“Iya Bu, terima kasih atas kepercayaan Ibu pada saya. Pamit dulu ya Bu.”

Begitulah kisah Gundi, teman-teman sekelasnya, dan Ibu Wali Kelasnya. Insya Allah semua lancar dan sukses. Gundi, Ibu nanti sore akan sms kalau kau belum laporan. Anakku sayang, kau termasuk hebat. Kerajinanmu sudah tampak meningkat. Ternyata kaupun merasa rugi selama ini. Sekarang kau mulai menyadari kesalahanmu dahulu hingga kau ketinggalan dalam banyak hal dibanding teman-teman seusiamu. Insya Allah tak ada aral melintang. Berdoa dan berjuanglah anakku, doa ibu selalu menyertaimu.

Iklan

Part 3: Dia berupaya menjadi anak yang baik

Berikut ini lanjutan reportase pembinaan karakter khusus untuk anak yang semula super malas. Sudah 2 artikel yang ku publish, pertama kisah tentang Gundi yang super malas, dan di artikel kedua dia sudah mulai berubah, alhamdulillah. Hingga artikel ini ku publish, dia tampak berupaya menjadi anak yang baik. Terlihat bahwa dia mempunyai keinginan kuat untuk mengubah sikap. Pada awalnya dia merasa sangat sulit dan mengalami kegagalan yang berulang. Rasa malasnya sering muncul tanpa disadari.

Siang ini dia datang ke ruang guru untuk menceritakan keadaannya.  Alhamdulillah aku bisa lancar membina anak-anak di ruang guru, sebab tempatnya di ujung ruangan, sehingga tak terganggu dan tak mengganggu siapapun. Bicara kami juga cukup pelan, Insya Allah tak terdengar oleh yang lain. Sekarang penampilan Gundi sudah lebih baik. Rambutnya sudah rapi, baju dan seluruh penampilan dirinya tak seperti sebelumnya. Perubahannya cukup banyak, alhamdulillah. Gundi, ibu ingin sekali melayanimu secara total. Insya Allah kau benar-benar tersugesti oleh kesungguhan ibu dan tanggung jawab ibu yang besar kepadamu. Semoga Allah SWT mengirimkan engkau ke sini nak. Insya Allah motivasi internalmu bangkit.

“Ayo sayang, duduk sini. OK, ceritakan mengapa kau tampak sedih. Barangkali dengan berbagi, ibu dapat membantumu.”

“Iya Bu, maafkan saya. Sebenarnya sebagai laki-laki saya tak ingin menjadi cengeng Bu. Namun ibu tadi ternyata dapat membaca wajah saya, sekali lagi maaf ya Bu.”

“Sudahlah sayang, dari awal ibu sudah berniat untuk membantumu.”

“Bu, orang tua saya tuh sering bertengkar, hampir setiap hari, pagi siang sore malam, saya sedih memiliki orang tua seperti itu.”

“Lho katanya tidak mau cengeng, ayo teruskan ceritamu.”

Saya ambil beberapa lembar tissue dan saya berikan kepadanya.

“Saya anak kedua Bu, kakakku Giri tahun lalu sudah lulus dari SMA swasta terus bekerja. Dia ingin kuliah sore untuk menjadi guru, tetapi orang tua kami marah. Dia tidak boleh menjadi guru, katanya lebih baik berdagang. Sedangkan kami tak mempunyai modal. Kata bapak bisa meminjam uang di bank. Kami berdua bingung karena rumah kami itu juga rumah nenek, suratnya tidak ada, tidak bisa untuk jaminan.”

“Wah … kau ini juga memikirkan hal-hal seperti itukah? Sebaiknya tidak usah ikutan, biar kakakmu dengan orang tuamu, kau belajar saja. Kalau tentang orang tuamu yang suka marah, ya nanti ibu mencoba mencari cara bagaimana mengatasinya.”

“Ibu, tak mungkin Bu, orang tuaku mau bercerai, hik hik hik.”

“Lho laki-laki kok menangis, sudahlah sayang kau harus kuat, nilaimu jelek sekali, sekarang ingin rajin, eh … bisa-bisa kau stress berat karena bingung dan kecewa lho. Malasmu bisa kambuh lagi, terus bisa tidak naik kelas. Ayo ibu mendampingimu, tetapi jangan seperti ini. Laki-laki tidak boleh begitu.”

“Ibu, masih ada rahasia yang lebih penting lagi, ibu ada waktu?”

“Ya sayang, katakan sekarang.”

“Kami mau diusir sama nenek, karena orang tua bertengkar terus. Kami tidak tahu mau tinggal dimana, saya rasanya malas sekolah, semua kak Giri yang membiayai. Kasihan dia. Sejak masuk SMA saya sudah sangat malas, pelajarannya sulit-sulit, tidak ada buku yang dapat saya beli. Situasi di rumah panas, ayah juga kena PHK. Ibu sekarang berjualan, tetapi uangnya diambili ayah terus. Hik hik hik.”

“Sabar sayang, sudah jangan menangis, sementara ibu tak dapat membantu apa-apa, kau masuk kelas dulu, itu bel sudah berbunyi. Pesanku, keinginanmu mengubah sikap lanjutkan, jangan malas lagi, Insya Allah ibu terus membantumu.”

Dia berdiri, diciumnya tanganku dan berjalan menuju kelasnya. Aku termenung, pikiran ini berputar mencari jalan ke luar yang pantas dan sesuai untuk Gundi, namun tetap belum ku temukan. Ah tak ada yang sulit, aku harus bisa, bisa, Insya Allah bisa. Keluarga Gundi memiliki masalah yang tergolong rumit. Namun aku tak bisa meninggalkan Gundi tanpa solusi. Kakaknya Giri, juga kasihan. Kalau cerita Gundi apa adanya, maka kasihan juga ibunya. Mengapa ayahnya begitu? Mungkin karena tidak dapat membiayai kedua anaknya, si ayah itu malu. Kalau dia mau berjualan dengan istrinya, kan bisa dapat uang kontan terus. Ini mungkin menjadi pemicu si ayah di PHK, karena marah-marah terus, bagaimana dapat bekerja dengan baik? Apakah si ayah ini peminum ya? Kemungkinan begitu, karena suka mengambil uang dagangan istrinya. Kalau makanan kan sudah disiapkan si istri. Masalah Gundi kompleks sekali, namun aku tetap akan berupaya untuk membantunya.

To be continued

Part 2: Anak super malas itu mulai berubah

Gundi anak super malas yang telah ku publish, mulai ingin berubah. Alhamdulillah. Artikel ini sebagai lanjutan laporan pembinaanku terhadapnya. Walau tak mudah, Insya Allah tak sulit, itulah yang ku alami selama melayaninya. Gundi (nama samaran) akhirnya menyadari kekurangannya dan ingin mengubah sikap dari malas menjadi rajin. Artikel ini mengungkapkan langkah awal Gundi dalam mengubah karakter. Aku harus terus memotivasinya agar pembinaan karakter yang agak khusus ini tidak kandas di tengah jalan. Mungkin sulit bagi Gundi untuk mengubah diri sendiri tanpa perhatian dan bantuan orang lain.

Pagi ini saya berada di kelas Gundi pada jam pertama dan kedua. Doa awal telah berlangsung dan aku sudah mencatat kehadiran siswa. Ketika tanya jawab tentang prasyarat pengetahuan berlangsung, Gundi tampak serius. Wajah acuh yang selama ini terlihat sekali, sudah mulai hilang, alhamdulillah. Kalau beberapa tahap awal dapat dia lakukan dengan baik, Insya Allah dia akan berhasil melawan sisi negatif dalam dirinya yang selama ini menguasai perasaan dan pikirannya.

Alhamdulillah, kegiatan pembelajaran ini dapat berjalan lancar. Ku dekati Gundi ketika anak-anak berdiskusi dalam kelompok kecil. Buku tulisnya baru dan bersampul cokelat. Ada buku paket kimia dan dia sedang mengutip catatan di papan. Namun ada sesuatu yang berbeda, wajahnya tampak sedih. Mengapa dia sedih? Selama aku mengajar, tak pernah dia bersedih. Wah … aku harus membantunya sampai tuntas. Sedih juga merupakan faktor penghambat, bagaimana dia dapat belajar dengan baik kalau dia sering bersedih.

Sejak awal aku sudah mengira kalau ada sesuatu yang membuat dia tertekan, sehingga dia menjadi anak malas bahkan super malas. Sayang, ibu akan tetap melayanimu. Ibu akan berupaya membantumu, apakah sekedar motivasi atau lebih. Eh … ternyata bathin ini turut berbicara.

“Bagaimana khabarmu?”

“Ehm … baik Bu. Maaf Bu, saya sudah berusaha meninggalkan sifat malas jauh-jauh, tetapi masih sering gagal.”

“Sabarlah, sesuatu yang telah terbiasa memang sulit dibuang. Lakukanlah secara bertahap. Langkah awalmu, akan menentukan langkah berikutnya. Apa yang sudah kau lakukan selama 2 hari ini?”

“Saya mandi lebih bersih dari biasanya, mencuci rambut dan menyisir dengan rapi. Saya mulai sholat lagi. Pakaian kuseterika dahulu, kamar kubersihkan dan buku-buku kuatur. Saya membuat jadwal kegiatan dan berusaha mematuhinya, membeli beberapa buku tulis.”

“Bagus sekali. Langkah awalmu sudah baik. Selalu lakukan yang terbaik ya.”

“Bu ….”

“Ya sayang?”

“Tadi malam saya mendengarkan musik sambil tiduran, akhirnya tertidur hingga pagi. Hari ini ada 3 PR, kimia, fisika dan biologi. Biologinya tadi pagi sudah mengutip dari teman-teman. Tetapi kimia dan fisika belum mengerjakan Bu.”

“Sudahlah tidak apa-apa, asal kau terus berjuang ya.”

“Terima kasih Ibu tidak marah. Tetapi nanti saya kena marah lagi Bu, fisika jamnya setelah kimia.”

“Sayang, kau telah berusaha dan ibu menghargai usahamu. Tentang fisika, sudah tentu kau harus terima resikonya. Hadapilah, upayakan lebih sopan.”

“Bu saya minta ijin, bolehkah mengutip tugas fisika sebentar?”

“Menurut aturan, permintaanmu tidak dapat kuijinkan.”

Tadi Gundi sudah mulai tersenyum, garis-garis sedih di wajahnya tertutup oleh senyumnya. Namun sekarang wajah itu tampak aneh. Apakah dia merasa kecewa dengan jawaban tadi? Aku kan harus mendidiknya menjadi anak yang tahu aturan. Aku harus membantu dia menjadi pribadi yang baik, tak sekedar malas menjadi rajin. Insya Allah dia bisa menyadari bahwa semua sifat yang tak disukai Allah SWT harus dibuangnya jauh-jauh. Namun mengapa sekarang wajahnya berubah seperti itu?  Apa yang dia pikir dan rasakan?

“Gun, mengutip pekerjaan teman itu tidak benar. Kalau ditanya kaupun juga tidak mampu menjawabnya. Iya kan? Sebaiknya kau nanti menurutlah pada guru fisikamu, perhatikan dan ikuti dengan baik. Kalau kurang mengerti segera bertanya ke teman terdekatmu.”

Dia menatapku dan mata itu kembali tampak sedih, walau sekarang sudah tersenyum lagi.

“Terima kasih sarannya Bu, akan saya lakukan.”

“Sayang, kalau ibu boleh tahu, mengapa kau bersedih?”

“Bagaimana ibu tahu kalau saya sedih?”

“Wajahmu nak, ibu dapat membaca dari garis-garis di wajahmu.”

“Ceritanya panjang Bu, nanti saja saya ke ruang ibu, istirahat siang.”

“OK sayang, do the best and take care.”

“Thanks mom.”

Gundi sudah berusaha untuk menjadi anak rajin, walaupun usaha itu belum optimal. Mendengarkan musik sambil tiduran, itu yang dikatakan tadi. Sebenarya tak masalah, asalkan sudah mengerjakan semua tugas. Hal ini juga harus dibahas; tadi aku belum sempat menegurnya. Nanti istirahat siang dia mau ke ruang guru. Semoga langkah berikutnya ini dapat berhasil. Ku pikir kasihan juga anak ini. Tegakah aku membiarkan dan meninggalkannya? Ya tak mungkinlah, sesibuk apapun aku dalam menanganinya, tetap harus tuntas.

To be continued

Part 1: Bagaimana cara menangani anak super malas?

Saat membuka catatan harian, aku terhenti pada tulisan tentang ‘Anak Super Malas. Aku teringat pada anak didikku yang sangat malas dan hampir membuat aku kehilangan kesabaran. Ketika pembelajaran kimia berlangsung dan anak-anak sedang mengerjakan soal di bangku masing-masing, ku datangi dia. Namanya Gundi (nama samaran), pakaiannya lusuh, rambut tak terawat, bajunya sering dikeluarkan, tidak memakai kaos kaki, sepatu diinjak, dan kakinya diseret kalau berjalan.

images (12)

“Gun, mana pekerjaanmu?”

“Belum Bu.”

“Mana bukumu, ibu ingin melihatnya.”

“Saya belum mengerjakan, apa yang mau ibu lihat?”

“Kemarikan buku tugasmu itu, ibu mau melihat catatanmu sebelumnya.”

“Belum Bu.’

“Buku yang kau pegang itu berikan ibu.”

Dengan malas dan wajah cemberut Gundi memberikan bukunya. Sampulnya lusuh tanpa nama. Halaman pertama Fisika, halaman berikutnya Kimia. Diket.: …. Ditanya: …. Jawab: Kosong. Catatannya amburadul sekali. Halaman berikutnya Fisika lagi. Ya ampun, sabar … sabar, aku harus sabar.

“Dimana buku catatan kimiamu?”

“Ya yang ibu pegang itu, masih campur dengan Fisika.”

Aku  bingung harus bagaimana. Ehmm … semua guru mengatakan bahwa anak ini sulit sekali dibina. Sudah hampir satu semester belajar di kelas X namun catatan saja seperti itu. Dari 3 kelas yang ku bina, dialah yang paling menjengkelkan. Aku belum menemukan titik terang untuk membuatnya sadar. Ku pandang wajahnya, dia segera menunduk. Kalau aku bicara lagi, tentu akan emosi. Ya …  sudahlah mendingan biar saja untuk sementara. Akhirnya aku melangkah pergi dan melihat kelompok lain. Hampir semua siswa bekerja dengan baik, saling menjelaskan, pekerjaannya tampak rapi dan sistematis. Ya ada sih beberapa siswa yang lambat bekerja dan selalu dibantu teman. Namun siswa yang satu ini sungguh berbeda. Apa yang harus hamba lakukan ya Allah?

Dua hari setelah kejadian itu, aku masuk lagi ke kelas Gundi. Pada waktu berdoa, ku lirik dia, ya ampun … dia memegang HP seperti sedang sms. Ehmm … aku melanjutkan berdoa. Setelah selesai doa, saya mengoreksi PR siswa dan membahas dua soal yang sulit. Gundi tampak acuh sekali. Sementara saya tak memperhatikannya dulu, sebab harus segera masuk ke kegiatan inti. Alhasil proses pembelajaran ini lancar. Diskusi kelompok dan diskusi kelas telah selesai. Selagi siswa mencatat pembahasan dari papan tulis, ku dekati Gundi.

“Mana buku pekerjaanmu?”

“Ini Bu.”

“Kau mengerjakan sendiri?”

“Tidak Bu, nyontoh anak-anak.”

“Sudah kau pelajari?”

“Sudah Bu, sambil menulis tadi.”

“Apakah kau sudah mengerti?”

“Mungkin.”

“OK silakan kerjakan di papan. Ingat bahwa siapapun yang bersedia mengerjakan soal di papan, berarti bisa. Kalau belum paham benar, sebaiknya belajar dulu sampai paham.”

“Ya.”

Namun dengan malas dia berdiri dan berjalan menuju papan tulis.

“Berhenti dahulu. Masukkan bajumu, kaki jangan diseret dan betulkan sepatumu. Mulai sekarang sepatu itu jangan diinjak lagi.”

Setelah baju dimasukkan, eh … dia berjalan dengan langkah tegap menuju papan. Berjalannya aneh dan lucu,  setiap melangkah kakinya diangkatnya tinggi-tinggi. Teman-temannya tak ada yang tertawa, sebab semua anak tak menyukainya. Sampai di papan Gundi terus menulis.

“Stop, letakkan bukumu di meja ibu dan lanjutkan lagi. Ingat peraturannya.”

Diketahui dan ditanyakan sudah ditulis, maka jawaban harus dapat dikerjakan tanpa melihat buku. Gundi terdiam sesaat, kemudian ditulisnya suatu rumus dan dihapus kembali. Dia mulai tampak resah dan malu. Tak lama dia mengambil bukunya dan duduk.

“Mengapa tak jadi kau jawab soalnya?”

“Tidak bisa Bu.”

Apa yang harus ku lakukan? Inilah sebenar-benarnya tantangan bagi guru. Insya Allah aku bisa, ya harus bisa membina karakternya. Malas adalah salah satu karakter yang harus dirubah. Kalau hal ini terbawa sampai tua, tentulah dia akan kecewa di belakang hari. Malasnya Gundi ini tergolong parah; bayangkan … berpakaian rapi saja malas. Pakai sepatu dengan benar, malas. Eh berjalan juga malas, seperti ingin terbang saja. Allah SWT sudah memberi kita kaki untuk berjalan, eh … dia malas menggunakan kakinya dengan baik. Malasnya bukan main, rambutpun seperti tidak pernah disisir. Astaqfirullah.

“Mengapa kau tadi maju ke papan kalau tak bisa?”

“Tadi saya merasa bisa.”

“Ehm … apa?”

“Saya sudah berusaha lho bu.”

“OK. Apa yang akan kau lakukan nanti?”

“Saya masih pusing Bu, malu selalu tidak bisa.”

“Malu? Baguslah kalau kau merasa malu. Kau sudah mulai menyadari kekuranganmu. Sebenarnya tidak ada sesuatu yang sulit, asalkan kau mau menyadari bahwa malas itu sangat menghambat kemajuanmu. Ibu mau bertanya, akibat dari malasmu itu apa?”

“Banyak Bu, hampir semua tugas tidak kukerjakan. Sampai cara berpakaian, cara berjalan dll juga menunjukkan bahwa saya malas. Saya malu sekali Bu, semoga mulai detik ini saya dapat berubah. Ibu benar, makin lama teman-teman makin acuh karena saya juga acuh pada diri sendiri.”

“Kuncinya ada pada diri sendiri sayang, ibu merasa gembira kau dapat menyadari hal itu. Tentu saja kau menjadi malu sekali. Coba lihat seluruh penampilanmu, sebenarnya sudah lama ibu berpikir, mengapa kau bisa seperti ini? Kau sungguh anak yang malas. Mulai detik ini ubahlah sikapmu nak, perjuangkan hidupmu, lakukan yang terbaik untuk masa depanmu. Ibu setuju sekali, lakukan sekarang juga, jangan ditunda dan senyumlah sayang.”

Dia memaksakan dirinya untuk tersenyum. Seperti ada sesuatu dalam hidupnya yang membuatnya malas. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi. Lusa aku harus menemuinya lagi dan harus rutin membinanya. Titik terang sudah mulai terlihat, aku tak boleh menyia-nyiakan hal ini.

To be continued.

Sesuatu yang menakjubkan

Suatu hari saya naik angkot (angkutan kota) dari rumah menuju tempat les. Sesuatu yang menakjubkan terjadi di angkot tersebut. Saat itu saya duduk di dekat pintu angkot, menghadap ke belakang. Di depanku duduk seorang bapak yang amat tua, kurus sekali, kulitnya sudah keriput, badannya bongkok, dan rambutnya putih. Selama berada di angkot saya terpesona pada beliau. Kisah ini sungguh menakjubkan, hingga ku tulis artikel ini. Berikut penggalan kisahnya.

Ketika seorang penumpang naik, langsung duduk di bagian belakang. Dia tidak menutup pintu angkot. Pak tua di depanku itulah yang menutup pintu itu. Ku lihat begitu kuat beliau hingga tak tampak lelah, bahkan senyumnya menghiasi wajahnya. Berapa ya usianya? Bathinku. Nanti kalau ada penumpang lagi, saya yang akan menutup pintu itu, kataku dalam hati. Eh tak berapa lama ada yang naik lagi. Seorang ibu yang tua sekali, rasanya lebih tua dari pak tua tadi. Saya siap untuk membantunya. Ibu itu kesulitan naik, sedang pak tua tampaknya tertidur. Penumpang lain yang berada di sebelah kami diam saja, tampak acuh bahkan dari tadi bermain HP. Ya … akhirnya kubantu ibu tua itu. Ya Allah … saya tak kuat menahan tubuh ibu itu, tangannya ku pegang dengan tangan kanan dan tangan kiriku pegangan angkot. Rasanya badan itu lebih berat dariku.

“Pegangan ya bu.” pintaku lirih.

“Bisa … Bisa … Bisa ….” gumamku.

Ku angkat tubuh ibu tua itu dan ku dudukkan di tempat saya duduk. Keringatku mengucur, ya Allah tak seorangpun membantuku. Remaja-remaja itu acuh sekali. Ampuni kami ya Allah. Saya masih dipintu dan kakiku terpeleset. Saya menundukkan kepala, ingin melihat posisi kedua kakiku. Tiba-tiba sebuah tangan memegang tangan kananku dan diambilnya pula tangan kiriku. Ditariknya kedua tanganku dengan perlahan.

“Angkat kakimu pelan-pelan nak … Ya hati-hati. Nah duduklah di sini … duduk, atur nafasmu sambil berdoa.”

Setelah ku lihat penolongku itu, ya Allah ternyata pak tua. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Pak tua itu mengambil bangku kayu kecil di bawah tempat dudukku, menutup pintu angkot, kemudian duduk di sebelahku.

“Pak duduk di sini saja.”

“Oh … saya di sini saja.” jawabnya sambil tersenyum.

“Terima kasih pak, maaf merepotkan bapak.”

“Saya yang minta maaf sebab tadi kubiarkan nak ajeng membantu ibu ini. Saya tertidur.”

Saya tertegun mendengar kata-katanya. Pak tua ini malah meminta maaf padaku? Sedang bapak ini jauh lebih tua dariku. Sejak beliau menutup pintu tadi saya sudah terpesona oleh kekuatan dan keikhlasannya membantu menutup pintu. Saya telah belajar sesuatu dari beliau. Selagi saya termenung, ibu tua di depanku berbicara.

“Nak trima kasih ya telah menolongku, maaf ibu membuatmu terpeleset. Untung bapak ini menolongmu. Pak trima kasih ya.”

“Dalam hidup kita wajib tolong menolong, jadi sebenarnya apa yang kulakukan sudah menjadi tugas hidupku.”

“Bapak dan ibu kalau boleh tahu berapa usianya?”

“Saya hampir 100.” sahut ibu tua itu.

“Saya baru di atas 90 nak.” bapak itu menjawab sambil senyum.

Hah? Aku terperanjat mendengar jawaban itu. Sungguh menakjubkan, sudah tua sekali masih kuat dan berani bepergian sendiri. Apalagi pak tua itu malah banyak senyum dan suka membantu. Pegangan tangannya tadi masih kuat, hehehe saya kalah jauh. Ehmm … Banyak pelajaran yang dapat ku peroleh di angkot ini. Belum hilang rasa heranku, ibu tua itu membuka tas, mengeluatkan HP dan bertanya padaku.

“Nak, ini ada sms masuk, ibu lupa cara membukanya. Tolong ajarin ibu ya.”

“Oh ya bu.”

Kemudian ku bantu itu itu membukanya dan kujelaskan. HP-nya Nokia dengan layar sentuh, canggih juga nih. Setelah kujelaskan, beliau menjawab sms cucunya. Bisa, ibu itu bisa sms sendiri. Berarti ingatannya masih bagus sekali. Jari-jarinya juga masih trampil. Subhanallah. Beberapa saat kemudian si ibu turun, dibantu oleh pak tua. Pak tua itu duduk di tempat ibu tadi. Sebelumnya, bangku kayu kecil itu dimasukkannya lagi ke bawah bangkuku. Disiplin sekali beliau ini. Jarang sekali dan hampir tak pernah saya menemukan orang yang peduli seperti beliau ini. Tak berapa lama ku lihat beliau tertidur lagi.

Ehmm … pandai sekali pak tua itu mengatur waktu. Ternyata benar, pendidikan terjadi seumur hidup. Never too old to learn, ehmm … kalimat ini selalu ku ingat. Mengapa? Hahaha tuh tertulis di tas kecil yang selalu menjadi inspirasiku. ”Tas tangan kecilku inspirasiku.” Tas ini hampir selalu ku bawa ke mana-mana. Bayangkan, ibu tua tadi usianya hampir 100 tahun, masih ingin sekali belajar sms dll. HP-nya keren lagi. Lebih-lebih si pak tua yang menakjubkan itu. Allahu akbar. Semoga kita bisa seperti bapak dan ibu itu, selalu menolong dengan tulus ikhlas dan belajar sepanjang hayat. Amin ya rabbal alamin.

image

Guru Sepanjang Hayat

Ketika berbelanja di sebuah super market, saya melihat tas tangan kecil dari kain yang dapat ku gunakan untuk tempat minum, sedikit makanan, dan charger laptop/power bank ketika saya home schooling. Langsung tas kain berwarna merah itu ku beli dengan harga 6 ribu rupiah. Sebenarnya ada warna lain, namun yang merah ini lebih kecil dan ada sesutu yang menarik, yaitu kalimat yang tertulis di tas itu. Sudah 2 bulan ini tas itu setiap hari selalu menemaniku ke mana saja ku pergi. Mengapa tas itu langsung ku beli tanpa pertimbangan yang lama? Tas itu rasanya amat sesuai untukku, terutama tulisanya, hehehe. Tas tangan kecilku ini adalah inspirasiku, hehehe.

Siang ini saya sedang duduk menunggu siswa yang les privat, sambil online. Ku ingat akan tas itu, maka ku buatlah topik ini dan mulai ku ketik kata demi kata yang keluar begitu saja dari hatiku sambil senyum-senyum. Postingan ini tadinya tentang sosok-sosok guru yang ku idolakan, yaitu mendiang ibuku sendiri, ibu Soewarni guru fisika SMP, dan almarhumah ibu Mardiyah guru kimia SMA. Namun sejenak ku merenung dan akhirnya ku ganti dengan kisahku sendiri.

Bangsaku, bisakah kita menjadi pendidik sepanjang hayat? Insya Allah bisa. Ayah, ibu, siapapun, sebenarnya adalah guru, pendidik atau edukator bagi anak-anaknya. Masih ingatkah tentang Long Life Education? Pendidikan terjadi seumur hidup, bahkan sejak ruh ditiupkan oleh Allah SWT ke janin di kandungan ibu hingga kita akan masuk ke liang kubur. Berarti Education is our life. Pendidikan benar-benar merupakan kehidupan kita sehari-hari. Jadi Insya Allah kita mampu menjadi pendidik sepanjang hayat, apalagi sehari-hari bekerjanya memang menjadi guru seperti saya, walau sudah pensiun. 

Setiap akan mendidik, seseorang harus selalu belajar. Belajar tentang materi atau hal lain yang akan disampaikan. Selain itu perbedaan individu anak didik harus dipelajari. Seorang ibu yang anaknya 3, sifat ketiga anak tersebut juga berbeda; apalagi guru. Artinya, seorang pendidik selalu belajar. Menjadi pendidik sepanjang hayat, berarti pula belajar sepanjang hayat, hehehe. Wajarlah kalau saya mempunyai niat yang kuat untuk tetap melayani bangsa sepanjang hayat di kandung badan, hehehe. Tas merahku itu bertuliskan “Never too old to learn.” Hahaha. Tak pernah merasa tua untuk belajar, ehmm … kata-kata ini keren sekali kan? Itulah sebabnya tas tangan kecil itu langsung ku beli. Warna merah tak masalah, tulisan itu yang telah menginspirasiku. Insya Allah secuil tulisan sederhana ini bermanfaat bagi pembaca, amin.

Kasihan Ibuku (Bagian 3)

Siang ini aku berangkat agak cepat, ingin survey untuk bahan tulisanku. Di angkot aku bertemu dengan Nindar, keponakan Sari bekas muridku yang telah kuceritakan pada bagian kedua. Tampaknya dia pulang dari sekolah dan sendirian. Nindar tak lupa padaku.

“Assalamu’alaikum nek.”

“Wa’alaikum salam sayang. Kakek tidak menjemputmu?”

“Tidak nek, Nindar biasa sendiri kok, kapan itu sekalian belanja.”

“Oh begitu. Ehm … Nindar berani ya.”

“Awalnya takut juga nek, tetapi Nindar harus hemat. Kalau berangkat dan pulang sekolah harus diantar kakek kan pengeluarannya bertambah. Kasihan ibuku nek.”

“Ya sayang, kau benar. Nenek turut bangga padamu. Apakah kau sering berkunjung ke ibumu sayang?”

“Ibuku yang mengantar uang bulanan Nindar. Nindar ini kos lho di rumah kakek dan tante Sari.”

“Kos? Maksudmu apa?”

“Iya hehehe. Nindar ini dititipkan ke kakek dan tante Sari nek. Sebenarnya Nindar kasihan sama ibu, harus bekerja siang dan malam terus menerus. Ayahku tidak bekerja nek, yang bekerja hanya ibu.”

“Maafkan nenek sayang, nenek tak bermaksud untuk membuatmu sedih.”

“Kata kakek dan tante Sari, Nindar tidak boleh bersedih terus. Nindar harus belajar dengan tekun agar kelak bisa bekerja menggantikan ibu. Ibu tentu lelah sekali nek.”

“Iya sayang. Namun kalau ibumu itu ikhlas melakukannya karena ingin kau dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sukses, Insya Allah ibumu tak merasakan lelah.”

“Iya nek, Insya Allah begitu. Kita harus selalu bersyukur ya Nek. Hidup Nindar ini masih lebih baik dibanding anak-anak jalanan itu ya.”

Nindar menunjuk anak-anak yang berjalan dan ada yang nongkrong di pinggir jalan. mereka adalah pengemis cilik. Aku mengangguk-anggukkan kepala sambil melihat mereka.

“Nek, kata orang ayahku itu pemalas. Ayah anaknya orang kaya, suka berfoya-foya. Sekarang kakek dan nenek dari ayah sudah meninggal. Di rumah tidak ada pembantu. Ibu sebelum ke kantor ya membereskan rumah dulu termasuk masak. Pulangnya malam dan masih harus masak lagi, seterika dan lainnya. Sebenarnya ayahku sakit, tetapi terlalu manja. Ibuku tak mau hamil lagi, aku dititipkan kakek karena mungkin ibu khawatir aku akan meniru ayah, karena setiap hari suka teriak-teriak, suka menyuruh dan lainnya.”

“Ya ya kasihan ibumu. Eh sayang, rumahmu sudah dekat lho. Bersiap-siaplah.”

“Nenek sekarang ke rumahku ya, biar kakek ada temannya, barangkali kakek ingin cerita-cerita.”

“OK sayang.”

Kami berdua turun dari angkot dan berjalan kaki. Mereka berdua, kakek dan cucu senang sekali ketika aku berada di sana agak lama. Nindar pamit untuk mengerjakan PR, tinggal aku dengan kakeknya yang masih bercerita. Dari ceritanya, ternyata beliau ini dulu bukan pegawai negeri, bekerja di swasta. Karena sering sakit, maka gajinya tak cukup untuk keluarga. Beliau mempunyai 2 putri,  Sari dan Sara ibu Nindar. Istrinya harus mencari dana untuk kehidupan keluarga dan beliau keluar masuk rumah sakit. Akhirnya istrinya kecapekan dan terkena sakit lever yang amat parah, kemudian wafat. Ibu Sari sangat luar biasa, telah mengatur semua, meninggalkan dana untuk Sara, Sari, beliau dan cucunya. Begitulah ceritanya. Kulihat jam sudah waktunya aku harus pamit.

“Pak, saya pamit dulu, lain kali mampir lagi.”

“Oh iya bu, terima kasih banyak atas kesediaan ibu berkunjung ke sini, semoga ibu tidak bosan dengan kami.”

Ketika akan keluar, Nindar berteriak katanya semua PR sudah selesai dikerjakan. Di luar tampak Sari baru tiba dengan membawa belanjaan. Dia sedikit terkejut, aku berada di rumahnya tanpa memberitahu dia. Iya ya tadi aku kok tidak sms ke dia.

“Maaf bu saya tidak tahu kalau ibu ke sini.”

“Oh tidak apa-apa sayang, memang tadi tidak direncanakan. Ibu bertemu Nindar di angkot dan ibu ikut kesini. Sekarang ibu harus memberi les privat. Lain kali saja mampir lagi.”

“Iya bu, terima kasih.”

“Nek, sebentar nek, tunggu Nindar.”

“Ada apa sayang?”

“Nindar kan belum mengucapkan terima kasih pada nenek dan Nindar kan harus minta maaf karena kelamaan mengerjakan PR, jadinya nenek hanya ditemani kakek. Sedang maksud Nindar tadi, Nindar ingin duduk-duduk sama nenek.”

“Hehehe, Nindar tak perlu meminta maaf, Nindar kan harus belajar. Oh ya nenek yang meminta maaf karena sekarang harus memberi les privat.”

Dia mengangguk-angguk dan mencium tanganku. Sari juga mencium tanganku dan si kakek juga tampak ingin bersalaman denganku. Setelah bersalaman, aku berjalan menuju jalan besar dan naik angkot. Sambil memberi les, terpikir olehku cerita Nindar dan kakeknya. Kasihan ibu Sari almarhumah dan ibu Nindar. Malam harinya Sari sms minta didoakan, dia sedang melengkapi persyaratan untuk kuliah S-2 di Australia dan memintaku untuk membantu Sara, paling tidak memotivasinya.

To be continued –> Bagian 4.