Category Archives: Pengalaman Mengajar

Apa keistimewaan dari warna hijau?

Dari hasil diskusi dengan siswa tentang ‘Warna Hijau’ yang sudah ku posting terdahulu, dapat disimpulkan bahwa siswa telah memahami dan menyadari pentingnya warna hijau dalam kehidupan. Diskusi berikut ini mengacu pada keistimewaan warna hijau.

“Ibu, apakah tugas tentang bahasan keistimewaan warna hijau ini kami diskusikan dahulu dalam kelompok? Biar kami mempunyai kesempatan untuk menyatukan pendapat Bu.”

“Oh ya sayang, silakan. Ibu senang sekali kalian dapat berinisiatif untuk menyatukan pendapat. Itu bagus, apapun yang perlu didiskusikan, diskusikan dahulu dalam kelompok kecil, sehingga dalam diskusi klasikal, pendapat-pendapat kalian lebih mudah disatukan dan wawasan kalian tentunya lebih luas, penalaran lebih mantap. Insya Allah belajar kailian tentang sesuatu dapat tuntas, tas, tas, he he he.”

“Hahaha … iya Bu, iya, Insya Allah. Terima kasih.”

Senang sekali melihat dan mendengar anak-anak antusias dalam belajar, walau pada awalnya belum seperti ini. Dengan kesabaran ternyata kita dapat melayani mereka membiasakan berlatih nalar, mengeluarkan pendapat, bertukar pikiran, dan meningkatkan cara-cara baik dalam berdiskusi.

“Ibu tampaknya banyak kelompok yang sudah siap dengan simpulannya.”

“Oh ya, ayo anak-anak kita diskusikan bersama hasil kelompok kalian. Silakan.”

“Menurut pendapat kelompok kami, warna hijau memang istimewa dalam kehidupan kita. Mulai dari dedaunan yang dapat mengurangi panasnya bumi, menyembuhkan stress, dan penggunaan warna hijau diantaranya untuk trafic light.”

“Bagus sayang, silakan kelompok lain.”

“Ya benar, Allah SWT menyukai warna hijau. Buktinya daun-daun itu umumnya berwarna hijau yang dapat mengatasi polusi lingkungan hidup, jiwa dan raga kita.”

“Benar, ayo kelompok lain.”

“Hal-hal yang memperlancar hidup kita sering disimbulkan dengan warna hijau. Contohnya traffic light, hijau berarti jalan terus. Mata hijau karena melihat uang banyak yang akan memperlancar hidup kita. Hehehe.”

Hua ha ha ha. Para siswa tertawa mendengar temannya mengatakan mata hijau. Aku pun tak tahan menahan tawa. Tampak ada wakil kelompok lain yang kemudian mengangkat tangan dan berdiri.

“Ibu, Allah SWT dan Rosulullah SAW gemar terhadap warna hijau. Di dalam ayat-ayat Al-Qur’an telah dituliskan tentang warna hijau yang membuat orang menjadi nyaman.”

“Ya sayang, kau benar. Makanya kita harus menyadari bahwa kita sesungguhnya menyukai warna hijau yang menjadi kegemaran Allah SWT yang menciptakan warna hijau itu dan juga hijau inipun merupakan kegemaran Rosulullah SAW. Alhamdulillah, marilah hal ini kita sosialisasikan baik pada lingkungan terdekat maupun masyarakat luas. Terima kasih atas semua masukannya.”

Para siswa perlu sekali diajak untuk menyadari kebesaran Allah SWT dalam pembelajaran apapun. Pembentukan karakter bangsa harus selalu disisipkan diantara pembahasan konsep yang aplikatif. Sungguh, pembelajaran akan hidup dan sangat menyenangkan. Dengan begitu, kita telah mengaplikasikan IMTAQ dan CTL dalam pembelajaran. Baik kurikulum lama mapupun baru kedua hal ini tak akan ditinggalkan, bahkan ketika saya sekolah dahulu, guru juga sudah melaksanakannya. UP TO DATE lah. Okay Guraru, Insya Allah bermanfaat.

Iklan

Ada apa dengan warna hijau?

Di suatu hari, aku mengajak para siswa untuk mendiskusikan warna hijau. Mulanya, hal ini tercetus dari pembahasan tentang penghijauan dengan penanaman sejuta pohon untuk mengatasi polusi udara.

“Anak-anak, sebelum melanjutkan diskusi tentang penghijauan, ibu ingin bertanya mengenai warna hijau. Mengapa Allah SWT menciptakan daun yang umumnya berwarna hijau?”

“Karena hijau itu menyejukkan Bu.”

“Semuanya tolong renungkan kembali, benarkah ketika kita melihat daun-daun yang berwarna hijau itu, kita merasakan sejuk?”

Mereka tampak mengangguk-angguk, sebagian berpikir dan berdiskusi. Dari wajah mereka tampak adanya kegembiraan dalam belajar. Ada yang berbicara sambil senyum. Giat sekali mereka berdiskusi, bahkan ada pula yang berdebat. Belajar apapun tidak mungkin terlalu teoritis. Guru harus selalu mengkaitkan teori abstrak dengan kehidupan, bahkan dalam mengajar dianjurkan memulai sesuatu dari hal yang nyata, konkrit dan secara bertahap menuju teori yang abstrak. Hal ini akan memotivasi siswa untuk menggerakkan nalarnya dengan lebih mudah, karena mereka merasa mengerti.

“Ibu bolehkah saya mengutarakan pendapat kelompok?”

Hah? Terbangun aku dari lamunanku.

“Ya ya sayang, silahkan.”

“Kelompok kami merasakan bahwa setiap memandang daun-daun yang hijau, kami merasa tenang. Yang semula ada rasa galau, eh … rasa itu berangsur-angsur hilang. Seakan ada gelombang yang menyusup masuk hingga rasa sejuk itu datang dan kami menjadi tenang kembali.”

“Iya Bu, diskusi di kelompok kami juga seperti itu. Maka disarankan kepada siapa saja ketika galau sebaiknya memandang daun-daun yang hijau.”

“Ya sayang, Allahu Akbar, Allah Maha Besar.”

“Alhamdulillah Bu, Allah SWT selalu melindungi kita.”

“Amin, Ya Robbal Alamin. Nah anak-anak, pertanyaan ibu berikutnya adalah mengapa warna hijau yang terpilih sebagai penyejuk dan penenang pikiran dan perasaan kita?”

Para siswa membahas pertanyaanku dalam kelompoknya masing-masing. Aku berkeliling mengamati jalannya diskusi. Mereka masih antusias untuk menjawab pertanyaanku. Semoga pertanyaanku tak terlalu sulit bagi mereka. Di suatu kelompok, ada yang bertanya.

“Bu, bolehkah kami menjelaskannya dengan konsep fisika?”

Aku tak menjawab, hanya mengangguk-anggukkan kepala sampil mengacungkan jempol. Mereka senang sekali dan melanjutkan pembahasannya. Beberapa saat kemudian ada yang sudah mengangkat tangan.

“Anak-anak kita bicarakan bersama hasil diskusi kelompok kalian. Ya silakan kelompok C berbicara.”

Di bangku mereka sudah diletakkan nama kelompoknya. Ada kelompok, A, B, dan seterusnya hingga H.

“Sejuk dan tenang yang kita rasakan disebabkan oleh pantulan cahaya dari warna hijau yang masuk ke kita melalui mata.”

“Bagus sayang, jadi pembahasan ini menyangkut fisika ya. Ilmu kimia kan bagian dari sain, termasuk fisika. Berarti kita sedang berfikir tentang kimia fisika. Siapa ingin menambahkan penjelasan ini?”

“Saya menyambung penjelasan kelompok C Bu. Retina mata menangkap cahaya dengan panjang gelombang tertentu, hingga getaran syaraf itu sampai ke otak. Makanya kita menjadi tenang.”

“Baik, namun mengapa kita berangsur-angsur menjadi tenang?”

“Ketenangan itu menunjukkan bahwa panjang gelombang yang dipantulkan oleh warna hijau sesuai dengan panjang gelombang syaraf otak kita yang jatuh pada zona ketenangan.”

“Kalian hebat, ibu bangga kepada kalian yang mampu menerapkan pengetahuan fisika ke dalam kimia dalam membahas masalah kehidupan. Ibu ingin kalian selalu bersikap seperti ini dalam belajar sain. Bring together all theories that you have learnt into the manner. So you can develop your cognitive gradually step by step. I love you full.”

“Yes mom, we’ll do the best. Thank you verry much, hehehe.”

Begitulah secuil cuplikan diskusi tentang seputar warna hijau. Mereka makin senang belajar kimia. Aku teringat murid jadul yang mengatakan bahwa ku harus mempertahankan cara mengajar kimia melalui CTL, humor, bertema dan integratif, antar sain, lingkungan hidup, dan tak meninggalkan IMTAQ. Terima kasih murid jadul, ibu selalu teringat pada kalian, salam perjuangan dan sukses selalu. Marilah kita kemas pembelajaran menjadi indah, seindah segala sesuatu yang telah Allah SWT titipkan kepada kita para guru. Insya Allah kita bisa. Amin.

Sesuatu yang baru bagi anak didik

Malam telah larut, namun aku masih berada di depan laptop. Setelah menjawab respon rekan-rekan guru tentang penelitianku yang sederhana waktu mengajar di SMA Trimurti, aku ingin menulis artikel yang berhubungan dengan siswa SMA Trimurti. Yah … malam ini memang sunyi sekali. Seisi rumah sudah tidur.

Kuteringat pada penelitian sederhanaku saat mengajar sebentar di SMA Trimurti Surabaya. Kubuka artikel tersebut dan terbaca olehku ucapan terima kasih dari Ibu Hadiastuti, guru kimia yang kugantikan sementara ketika beliau menunaikan ibadah haji. Kubaca kembali kata demi kata dan ya … memang benar ucapan bu Hadi bahwa cara mengajarku dalam memanfaatkan blog pribadi merupakan sesuatu yang baru bagi siswa dan guru di SMA Trimurti. Hal ini tampaknya merupakan salah satu penyebab hingga pada awal pembelajaran terasa agak kaku. Namun Alhamdulillah akhirnya semua berjalan lancar. Berikut adalah komentar dari ibu Hadiastuti dan penjelasanku pada beliau.

No Komen : 3 hadiastuti :: 27-11-2012 16:34:33

Alhamdullillah,  terima kasih banyak  atas segala bantuan yg telah diberikan. Tak terbayangkan menyelesaikan bahan ajar sebanyak itu dalam waktu yg sesingkat ini. “Pemanfaatan blog untuk media pengajaran” merupakan hal baru bagi saya dan siswa Trimurti. Hanya Allah SWT yg mampu membalas semua jerih payah ibu, amien.

:: Reply ::

Amien, Amien Ya Robbal Allamien.

Alhamdulillah, tugasku menggantikan Ibu selama naik Haji kurang lebih 7 minggu telah dapat kuselesaikan. Insya Allah batasan minimal tugas guru kimia kelas XII IPA sesuai dengan program telah dapat kupenuhi. Selebihnya adalah peningkatan siswa yang berasal dari mereka sendiri. Kejadian ini juga membuat saya tertegun dan makin senang berada ditengah-tengah mereka. Tak terasa kami makin akrab dan ketegangan yang semula timbul telah sirna. Mereka antusias sekali dan amat termotivasi untuk belajar lebih banyak melalui blog.

Kesediaanku menulis beberapa artikel yang mereka perlukan untuk menghadapi UAS belum kupenuhi, Insya Allah segera akan kulaksanakan. Untuk itu saya minta maaf sebesar-besarnya kepada para siswa dan juga kepada Ibu sebagai guru kimia mereka. Mungkin ketegangan yang timbul pada awal kehadiranku disebabkan oleh beberapa hal, yaitu kami belum saling mengenal, dan pemanfaatan blog sebagai media pembelajaran merupakan hal baru bagi mereka. Karena waktu penyesuaian kami yang berlangsung cepat dan peningkatan antusias belajar melalui blog sangat mengejutkan, maka saya memberanikan diri untuk melaporkan kejadian ini pada bangsa, khususnya bagi yang belum pernah menggunakan blog pribadi untuk pembelajaran.

Maafkan saya kalau terlalu berani melangkah, Insya Allah dengan demikian banyak yang akan meniru bagian yang patut ditiru dan memodifikasi atau meningkatkan bagian yang masih perlu peningkatan. Bagi siswa dan guru-guru Trimurti Surabaya, Insya Allah pembelajaran ini dapat menjadi gerakan pendahulu dan akan berlanjut dengan lebih baik. Kita tahu bahwa tak ada hal yang sulit, bila kita tidak mengatakan sulit. Semoga kita termasuk orang-orang yang tak pernah berkata sulit, apalagi tidak bisa.

Tentang secuil bantuan yang hanya selama 7 minggu ini adalah sudah menjadi tugasku Bu, kuingin tetap menjadi guru hingga akhir hayat. Saya tetap akan mendampingi Ibu dan para siswa yang harus berjuang mempersiapkan masa depannya. Marilah kita selalu berbuat yang terbaik dalam hidup ini, apapun tentu ada hikmahnya. Terima kasih atas komentar Ibu yang membuatku makin yakin untuk menjelaskan kejadian ini dalam Konferensi Nasional di UNAIR.

Kuteringat bagaimana kaku dan tegangnya suasana ketika pertama kali siswa merasakan sesuatu yang baru ini, baik pemanfaatan blog, maupun cara mendidikku. Insya Allah sesuatu yang baru ini dapat dilanjutkan oleh guru-guru dan para siswa di SMA Trimurti. Ayo mendidik rekan-rekan guru. Tak ada sesuatu yang sulit jika kita tak pernah menganggapnya sulit. Semoga bermanfaat dan salam perjuangan.

Learning something about nothing

“Learning something about nothing.” Kata-kata ini mengingatkanku sewaktu aku mengajar kimia di Secondary School, Penang, Malaysia. Selama 10 minggu aku di sana, sekitar bulan Juni-Juli di tahun 1983. Setiap mengajar aku selalu membawa media. Media yang paling kusuka adalah kartu. Mereka senang sekali, karena belajar melalui permainan kartu. Aku juga sering membawa carta, karena carta dapat berbicara banyak. Carta dapat digunakan sebagai bahan diskusi. Untuk praktikum, siswa tidak perlu berpindah tempat, karena kelasnya cukup modern. Bangku-bangkunya dapat diubah-ubah, ada meja panjang untuk demonstrasi dan ada peralatan laboratorium sederhana.

Suatu hari aku mengajar dengan membawa keranjang kecil tempat bahan kimia dan beberapa alat kimia. Rak tabung, tabung reaksi, spatula, dan gelas kimia. Siswa belajar menggunakan bahasa Inggris, kadang-kadang bahasa Malay. Setelah siswa mengerjakan praktikum, data pengamatan mereka kita diskusikan secara klasikal..

“Okay every body, we will discuss your data to conclude your observation about the solubility of salt in water. Please, tell us your data.”

“Mom in the first test tube, there is an unsaturated solution and the second test tube there is a saturated solution.”

“How do you know there are saturated and unsaturated solution?”

“From our observation, the first is an saturated solution, because in the second test tube the salt added is more than the first and apart of the salt can not disolve any more. It can be concluded that the fisrt is an unsaturated and the second is a saturated solution. That’s all.”

“Thx. dear. Where are the salt now?”

“Of course in the solution.”

“Yes correct, in the solution. Where are the position of the salt in the solution?”

“Certainly mix with water mom.”

“Yes correct. However, can you tell me what is really happening in the solution?”

“Oh mom, I’m sorry, we don’t know. We can not see inside the solution.”

“Yes dear, of course all of us can not see the inside of any solution. But we have to understand the knowledge. You have to learn the particles, although you can not see.”

“Oh mom. It’s always the problem. You ask me to think that we can not see. So abstract you know. It’s like “Learning something about nothing.” I’m sorry mom, anyway, it’s OK please help me to understand this concept. Actually we want to learn better than before.”

Mereka benar, memang sering terjadi loncatan nalar antara data hasil pengamatan, ketika dihubungkan dengan konsep abstrak yang sedang dipelajari. Mereka dapat melihat ketika garam dicampur dengan air dan diaduk, garamnya menyatu dengan air. Namun, apa yang terjadi di dalam larutan garam itu? Mengapa garam dapat bercampur dengan air? Itulah tantangan guru, guru harus mampu membimbing siswa untuk memahami konsep abstrak melalui data konkrit. Kalau guru tak berhasil mengkaitkannya, konsep tersebut hanya masuk ke dalam memori jangka pendek saja, karena proses belajarnya hanya di tinkat C-1, yaitu bersifat hafalan. Insya Allah akan kubahas dalam artikel lain.

Begitulah secuil cerita pengalamanku waktu mengajar di Malaysia. Akhirnya menyenangkan juga memiliki kesempatan mengajar disana. Bahasaku yang kacau ternyata tak masalah, karena bahasa mereka juga sama kacaunya. Seringkali mereka, baik siswa maupun guru, ataupun orang-orang disana mengucapkan kata-kata: Never mindlah, Okaylah, ya … di telingaku sampai sekarang masih terngiang kata-kata bahasa Inggris tetapi diberi akhiran -LAH. It’s true story, my own story.

Belajar untuk mengajar

Sudah puluhan tahun aku mengajar, namun ada saja siswa yang sulit memahami konsep-konsep yang kusajikan dalam pembelajaran, apalagi kalau waktunya terasa pas-pasan dan hanya bisa mengajar melalui diskusi kelompok kecil, katakanlah siswa yang duduknya berdekatan, tanya-jawab, dan pemberian informasi berupa penjelasan singkat. Ketika hal ini kusadari, aku segera belajar lagi agar aku mampu menjelaskan konsep yang abstrak dengan hati-hati, melalui contoh kehidupan sehari-hari dan tanya-jawab. Hari demi hari kulalui, namun banyak hal yang masih mengganjal. Mengapa siswa tertentu itu selalu berada di peringkat bawah? Mengapa mereka selalu remidi? Kurang pahamkah contoh yang kuberikan saat menerangkan konsep itu? Apa yang harus kulakukan?

Aku membuka-buka buku pelajaran, membuat catatan kecil, membuat skema sederhana. Keesokan harinya kurubah cara mengajarku, ketika menjelaskan konsep-konsep yang terkait satu sama lain, aku menjelaskannya dengan skema. Kutulis lebih dahulu skema itu di papan tulis, baru menjelaskannya. Eh ternyata ketika tanya jawab berlangsung, siswa yang biasanya remidi itu tetap tidak mampu memahami konsep secara langsung, seperti teman lainnya. Di kelas berikutnya kurubah lagi caraku menyajikan materi. Kujelaskan konsep itu sambil membuat skema di papan. Setahap demi setahap dengan kuselingi tanya jawab. Tetap kugunakan contoh sehari-hari yang mereka ketahui dan alami. Alhamdulillah, lumayan berhasil. Siswa peringkat bawah mulai dapat ikut menjawab pertanyaan yang tergolong mudah. Namun ketika ulangan harian, kelompok siswa terbawah masih mengalami remidi. Aku belajar lagi, aku harus berhasil.

Akhirnya kuberanikan diri bertanya kepada para siswa, khususnya kelompok terbawah, apa yang membuat mereka tidak paham dan bagaimana sebaiknya. Mereka menyatakan setiap konsep minta agar diberi contoh, dan kalau memungkinkan contoh sehari-hari dibahas dahulu baru ke teori abstrak. Ya Allah, ampuni hamba. Ternyata hamba melupakan sesuatu yang amat penting, yaitu teori belajar Piaget, bahwa mengajar mereka yang pikirannya masih konkrit harus dimulai dari hal-hal konkrit, terutama yang pernah mereka alami. Kemudian kuingat Ausubel yang menyatakan bahwa “Teach your students accordingly.”

Alhamdulillah, dengan belajar bagaimana cara terbaik untuk menyajikan suatu konsep, terutama disesuaikan dengan perbedaan individu siswa, dan mengusahakan agar siswa kelompok rendah terhindar dari remidi yang terus menerus, akhirnya mereka dapat lulus dengan nilai UNAS minimal 7,5. Menetes airmataku, mengingat kejadian itu. Kelompok siswa tersebut langsung ada yang memakai jilbab, ada pula yang mendekapku hingga aku hampir jatuh. Allahu akbar, terima kasih ya Allah.

Itulah secuil pengalamanku, belajar memang seumur hidup. Sekarangpun, sudah pensiun aku masih terus belajar dengan beberapa tujuan, salah satunya adalah menghindari terjadinya pikun, hehehe. Alhamdulillah, aku masih memiliki tekad dan niat yang kuat untuk tetap melayani bangsa. Insya Allah aku bisa terus menjadi guru sampai akhir hayat, amin YRA.