Tag Archives: kesabaran

Part 8: Hampir putus asa

Perjuangan Gundi yang dahulunya super malas dan ingin menjadi rajin, mengalami lika-liku yang berpengaruh pada perilakunya. Sebenarnya secara bertahap dia mulai dewasa, tampaknya sabar menghadapi olokan, tertawaan, cibiran, dan sejenisnya dari lingkungan, terutama sekolah. Namun sesuatu telah terjadi tanpa sepengetahuan saya. Dia hampir putus asa ketika guru yang sudah memujinya dan beberapa teman yang mendukungnya mulai tak percaya padanya. Sebenarnya dia masih terus menghubungiku melalui sms. Namun akhir-akhir ini dia tampak lesu, kurang bergairah, dan senyum itu kelihatannya dipaksakan. Amir jarang laporan, hanya sesekali ketika aku bertanya lebih dahulu.

Keadaan di atas membuatku sadar bahwa sudah sebulan ini aku kurang fokus menangani Gundi. Tadinya ku rasa Gundi Insya Allah dapat memperjuangkan sifat baiknya dan mampu menghadapi tantangan apa saja dari guru maupun teman-temannya. Aku jadi merasa bersalah. Mengapa aku begitu tega menurunkan skala prioritas dalam mendukung niat baik Gundi? Kepentingan manakah yang mengalahkan perhatianku pada Gundi? Sejauh manakah aku telah mengabaikan tugas khusus ini? Ya Allah, ampuni hamba. Gundi, maafkan ibu. Kau jangan seperti itu sayang, ibu tak tahan mengingat wajahmu seperti itu. Ibu telah teledor, kurang perhatian terhadap upayamu, kurang jeli memperhatikan perkembanganmu. Kau mungkin sungkan pada ibu. Kau mungkin melihat ibu amat sibuk dengan urusan Eco-school, olimpiade dan lainnya. Ah tidak. Ibu tak boleh seperti ini. Ya Gundi, ibu akan mendekat padamu lagi.

Hah? Terkejut aku ketika di depan meja ada Gundi yang sedang duduk sambil menundukkan kepala.

“Gun.”

Dia hanya mengangkat kepala dan … senyum itu hilang. Wajahnya pucat sekali. Ku berikan segelas air dan diminumnya hingga habis.

“Ada apa sayang? Bolehkah ibu mendengar ceritamu?”

“Saya bersalah Bu.”

“Apa salahmu sayang?”

“Saya memang tak pantas sekolah di sini.”

“Mengapa kau berkata begitu?”

“Maafkan saya Bu, mungkin Ibu kecewa padaku. Semua orang kecewa padaku. Saya tak layak sekolah, sebaikya saya bekerja saja Bu.”

“Sayang, itu bukan suara hatimu. Sekarang pergilah sholat, tak perlu kau ceritakan sekarang.”

“Ya Bu, terima kasih.”

“Ibu yang meminta maaf padamu sampai tak menghiraukanmu. Sebulan sudah perjuanganmu demi masa depan yang kau cita-citakan. Silakan ke Mushola dan masuk ke kelas. nanti saja istirahat siang atau pulang sekolah.”

Dia berdiri dan meninggalkan ruang guru menuju Mushola. Alhamdulillah, di masih menurut untuk melakukan kebaikan. Namun rasanya ada sesuatu yang berbeda. Belum sempat ku nalar sikap Gundi barusan, Amir datang.

“Amir, maafkan ibu. Sebulan ini ibu terlupa tak begitu memperhatikan Gundi. Bagaimana menurutmu dan berita apa yang aka kau sampaikan pada ibu?”

“Sebelumnya saya meminta maaf bu, sebab sayapun sibuk dengan pelajaran dan membantu teman-teman. Tak terasa Bu, ternyata Gundi juga agak jarang bertanya padaku, malah mendekati Dono cs. Mungkin awalnya bertujuan baik Bu, namun lama-lama dia seperti terkena arus kebiasaan Dono. Saya tak mau bersaing dengan Dono untuk merebut Gundi kembali. Itulah Bu sekilas infonya. Tadi guru olah raga menghukum mereka dan nilai praktik di bawah KKM, nilai sikap C. Saya baru sadar kalau Gundi sedang dalam perjuangan, tampaknya dia down Bu. Maaf saya ke kelas dahulu, nanti malam ibu bisa tilpun saya.”

“OK thx sayang. Do your best.”

“Yes mom, Insya Allah.”

Ya Allah, bagaimana ini? Hamba salah telah meninggalkannya sebulan ini. Berikan petunjukMu ya Allah, apa yang harus hamba lakukan?

“Bu Etna, dipanggil kepala sekolah.”

“Oh iya pak, terima kasih. Sekarang saya akan ke sana. Di ruang KS ya?”

“Iya Bu.”

Ada apa ya kepala sekolah memanggilku? Apakah sehubungan dengan kasus Gundi? Apakah pak guru olah raga (OR) tadi itu habis lapor dan … ehmm … entahlah. Ya sudah tak perlu menduga-duga, pusing deh jadinya. Salahku sendiri sih, kok sebulan menjauh dari Gundi. Sekarang kalau Gundi benar-benar ingin keluar dari sekolah, karena tak tahan lagi menghadapi tantangan demi tantangan yang tak kunjung berhenti, terus mau apa coba?? Memaksakan kehendak pada Gundi?? Hehehe tak bisa seperti itu. Ah … suara hati memprotes.

Iklan

Part 6: Perubahannya masih diragukan

Perjuangan Gundi untuk mengubah dirinya dari super malas menjadi rajin, baik  cara berpakaian, berbicara, keterlibatan dalam pembelajaran, kerajinan mengerjakan tugas, dan lainnya tidaklah mudah. Banyak hambatan yang harus dihadapinya, baik situasi rumah, teman sekelas, maupun guru. Itulah konsekuensi yang harus dihadapinya. Hanya menyesali kesalahan sebelumnya, tentu tak ada gunanya. Alhamdulillah kesadaran dirinya terus meningkat. Dia memang merasa menyesal telah banyak ketinggalan, namun dia terus berdoa dan berjuang. Sopan santunnya makin bagus, kerajinannya juga meningkat.

Ternyata jalan menuju kebaikan tak mudah seperti membalikkan tangan. Proses yang ditempuhnya tak semulus jalan aspal yang baru dipoles. Insya Allah Gundi mampu mengatasi rintangan demi rintangan, tetap berjuang demi masa depannya. Aku optimis melihat starting pointnya dan langkah awalnya. Semoga dia bisa, amin. Eh … HP-ku berbunyi, ada sms masuk. Amir … Insya Allah dia melaporkan perkembangan baik dari Gundi.

“Ibu maaf mengganggu. Saya besok mau menghadap, namun sebagian ingin saya infokan sekarang. Mohon doanya Bu, kasihan Gundi.”

Hah? Ada apa dengan dia? Wah aku tadi sudah berdebar juga, namun malam ini aku baru mau sms Gundi. Mengapa tadi siang aku tak segera bertanya ke Gundi atau Amir? Kepekaan ini tak boleh diabaikan, bisa berakibat pada Gundi. Aku sudah menunda sesuatu yang penting.

“Amir, ada apa dengannya?”

“Tadi guru bahasa Inggris marah ke kelas akibat Gundi, sehingga tak jadi mengajar. Gundi merasa bersalah dan pergi ke Musholah tak balik lagi. Dono menghasut teman-teman. Bu maaf pulsa tinggal sedikit.”

“Oh maaf sayang, smskan nomormu biar ibu isi. Masalah Gundi penting, kasihan dia. OK ibu sms Gundi saja, thx informasimu. Terus bimbing dia ya.”

“Maaf Bu tidak apa-apa, saya sudah siap membeli pulsa dan dananya sudah ada. Besok pagi saja saya menghadap. Wass.”

“OK sayang, terima kasih banyak. Sebenarnya ibu ada dana untuk pembinaan siswa yang ibu sisihkan dari uang les anak-anak, hehehe. Ya sudah besok pagi saja. Take care and do the best.”

Aku langsung sms Gundi, bermaksud untuk mengetahui keadaannya sekaligus jalan yang ditempuhnya untuk menghadapi besok. Sudah 1 jam dia belum juga membalas sms. Ya dia memang membantu ibunya berjualan, namun aku sudah minta dia untuk selalu membawa HP-nya. Pulsa juga sudah terisi cukup banyak. Mungkin dia belum siap menjawab. Aku hanya bisa berdoa untuknya. Mungkin dia sedang mengerjakan PR bahasa Inggris dan lainnya, atau mungkin dia sedang mengatur perasaannya. Insya Allah dia baik-baik saja. Aku benar-benar  memikirkannya. Tidur malam pun terbangun 3 x, akhirnya aku sholat kemudian membuka laptop dan mulai mengetik.

Sebelum jam 6 pagi aku sudah di sekolah, minum teh hijau hangat dan mendengarkan penjelasan Amir. Anak ini memang luar biasa, tanggung jawabnya besar. Sebenarnya tak mudah bagi anak seusia Amir mampu mengatur dan mengendalikan teman-temannya. Subhanallah, sungguh luar biasa dia. Terima kasih ya Allah.

“Dono memang keterlaluan Bu. Mungkin dia iri pada Gundi yang sekarang banyak mendapat perhatian dari teman-teman dan beberapa guru serta wali kelas. Apalagi teman-teman yang sering dia suruh-suruh dan menurut itu sekarang sudah meninggalkannya. Kasihan juga.”

“Amir, maksudmu kau kasihan pada Dono?”

“Ya Bu, kasihan. Dia belum menyadari kesalahannya. Saya membayangkan kalau dia begitu terus, dia bisa gagal dalam meraih cita-citanya.”

“Sayang, anak seperti itu mungkin tak punya cita-cita.”

“Ya tentu punyalah Bu, malah mungkin cita-citanya tinggi sekali tak mengukur keadaan dirinya. Dia tak merintis jalan untuk mencapainya.”

“Eh sayang, kita kok membicarakan Dono, hehehe. Terus langkah kita untuk Gundi bagaimana?”

Lho aku kan seharusnya mencatat keadaan Dono dan harus membantunya juga. Aku malahan tak ingin memikirkan Dono, hehehe tak adil donk. Amir ini hebat sekali, lebih adil, lebih perhatian terhadap temannya, alhamdulillah.

“Ya nanti Insya Allah saya bisa mendekatinya lagi Bu. Maaf bel kurang 10 menit saya harus membantu teman piket. Nanti siang dilanjut ya Bu.”

“Oh iya sayang, maafkan ibu. OK Good luck. Keep doing your best.”

“Thx mom, Insya Allah, I will.”

Ketika bel sudah berbunyi, ada sms masuk dari Amir yang mengabarkan bahwa Gundi belum hadir di kelas. Aku bergegas ke Mushola, eh … dia juga tak ada. Aku menuju ke depan, barangkali dia terlambat dan di hukum untuk membersihkan halaman atau apa. Tak ada juga. Berarti dia tak masuk sekolah. Sebaiknya ku sms saja. Setelah ku tunggu beberapa saat juga tak ada balasan. Kemudian aku menilpunnya, tak juga dibalas. Oh aku belum ke BK. Eh … tak ada. Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Berilah petunjuk.

Aku kembali ke ruang guru dan duduk. Lemas rasanya badan ini; pikiranpun tak tahu mau berpikir apa.  Gagalkah aku membinanya? Mengapa dia kemarin tak menghubungiku dan tak membalas sms maupun tilpun? Hah? Siapa di sana itu? Sepintas tampak seorang siswa sedang duduk menghadap salah seorang guru. Ya beliau guru bahasa Inggris. Anak itu Gundi ya dia Gundi. Ehmm … mungkin kemarin dia berusaha meyelesaikan PR itu sebab hari ini harus dikumpulkan. Dia menunduk dan guru itu mungkin mengoreksi pekerjaannya. Bagaimanapun saya lega, walau tak tahu proses yang sedang berlangsung di sana. Bukalah pintu hati guru tersebut ya Allah, agar perubahan Gundi yang dia lakukan bertahap ini mendapat peluang untuk terus maju. Kasihan Gundi, perubahannya masih diragukan oleh beberapa guru. Insya Allah hal ini menjadi pelajaran yang baik baginya, amin. Aku percaya bahwa Allah SWT memberikan ujian sesuai dengan kemampuan seseorang.

Part 5: Dia sekarang sudah rajin

Pembinaan terhadap Gundi yang awalnya super malas, masih terus kulakukan. Ku ingin Gundi menjadi contoh perjuangan seorang anak yang tadinya pemalas menjadi rajin. Bagaimanapun aku tak mungkin memaksakan kehendak untuk mengubah Gundi menjadi orang lain. Dia harus tetap sebagai dirinya. Untuk itu aku harus membangkitkan kesadaran dirinya bahwa selama ini dia salah melangkah. Pikiran dan perasaannya harus dikonflikkan, sehingga dia berpikir keras dan hati nuraninya turut berbicara. Aku tak hanya menggunakan Konflik Kognitif, namun juga Konflik Afektif. Melalui hipnotis halus (Hypno-heart dalam hypno-teaching), secara bertahap dengan kasih sayang, alhamdulillah akhirnya Gundi dapat tersugesti oleh layananku. Sebenarnya tak ada sesuatu yang sulit, walau menangani anak yang super malas sekalipun. Kuncinya adalah memberikan perhatian dan mendengarkan.

Sore ini aku harus sms Gundi. Ah … mungkin dia masih sibuk membantu ibunya. Sebaiknya setelah sholat Isya’ sajalah. Sebenarnya aku ingin mengetahui perkembangannya dan keluarganya. Amir tutor sebaya yang peduli pada Gundi ternyata sudah bergerak lebih dahulu sebelum ku minta. Dia memang anak hebat; semua teman suka padanya. Dia suka menolong, rajin, dan juga pandai. Walau peringkat 3, namun dia mampu menjelaskan dan bertanya balik kepada teman-temannya. Tak hanya kelasnya, kelas lainpun sering bertanya dan meminjam catatannya. Apa sekarang ku sms Amir ya? Ya, sebaiknya begitu.

“Amir, bagaimana perkembangan Gundi, teman-temanmu, juga guru yang mengajar kalian pada jam-jam setelah ibu?” terkirim, bagus. Beberapa menit kemudian ada sms masuk, eh … saya kira Amir, ternyata Gundi.

“Ass. Ibu, mulai hari ini saya membantu ibuku berjualan. Doakan laku banyak ya Bu. Tadi sepulang sekolah saya sudah belajar Fisika. Di sekolah Amir sudah menjelaskan. Tadi waktu pulang, kami semua bersalam-salaman. Saya menangis Bu dan teman-teman memaafkan saya. Wass.”

Ya Allah, airmata hamba menetes. Alhamdulillah, terima kasih Amir, Gundi, semuanya. Hasil awal sudah mulai tampak. Aku harus membalas smsnya.

“Alhamdulillah sayang. Membantu ibumu? Bagus sekali, namun atur waktumu dengan baik ya. Bawalah bukumu barangkali bisa belajar dan malam nanti kau harus mengerjakan PR. Selamat.”

Sebaiknya ku sms Amir saja. Dia sudah tak perlu membalas sms. Lho … sms dari Amir.

“Ass. Maaf terlambat balas. Tadi sip, lancar Bu, besok saya ke ruang ibu ya, pagi jam ke nol. Terima kasih. Wass.” hehehe singkat, padat, dan jelas. Thx anakku.

“Alhamdulillah, thx sayang.” balasku.

Pagi harinya aku sudah berada di sekolah sekitar jam 05.30. Sepintas ku lihat Amir sudah berada di Mushola. Musholanya dekat dengan ruang guru dan tempat mejaku juga dekat dengan pintu menuju Mushola. Baru selesai merapikan buku dan membuat teh hijau tanpa gula, Amir sudah mengucap salam dan duduk di samping meja. Kami berdiskusi tentang keadaan kelas. Sesuatu yang masih berat bagi Gundi adalah beberapa guru yang belum bisa menerima perubahan Gundi yang cepat itu. Wajarlah, perubahan sikap memang tak bisa cepat, perlu waktu. Gundi harus terus berupaya memacu dirinya untuk tidak kembali malas. Alhamdulillah, Amir dapat mewakiliku mengawasi perkembangan Gundi. Ada satu masalah lagi, yaitu Dono anak yang agak sok menurut mereka, tetap tak suka pada Gundi. Namun teman-teman Dono tak mau memihak Dono. Demikian penjelasan Amir.

“Ibu amat berterima kasih padamu sayang, bimbinglah Gundi. Insya Allah dia mampu bertahan dan terus berjuang melawan kemalasannya.”

“Iya Bu sama-sama. Saya senang mendapat tugas ini. Saya ke kelas dulu ya Bu.

“Iya silakan. Do the best.”

“Yes mom, Insya Allah.”

Hari ini aku tak ada jam di kelas Gundi, besok baru ada. Kegiatan hari ini lancar dan sebelum Maghrib aku sudah sampai di rumah. Tadi setelah istirahat siang, beberapa guru membicarakan Gundi, termasuk wali kelasnya.

“Saya tadi waktu mengajar di kelas Gundi, eh dia berubah lho. Ganteng, rapih, bersih, tidak seperti biasanya. Hehehe.”

“Ah tak mungkinlah. Anak lusuh seperti itu mana bisa berubah 360 derajad.”

“Besok Bapak mengajar kelas Gundi tho? Buktikan saja.”

“Iya benar, tadi saya masuk kelasnya dan dia mau lho piket menghapus papan.”

“Piket? Itu bukan bukti berubah.”

“Lho ketika tanya jawab, dia juga mengangkat tangan dan jawabannya benar.”

“Buktinya waktu bahasa Inggris dia tak memiliki catatan dan PRnya belum dikerjakan.”

“Bapak dan ibu-ibu, sebagai wali kelas saya melihat sendiri perubahannya. Ya namanya super malas menjadi rajin, tidak bisa secepat itu. Beberapa PR sudah dikerjakannya, belum semua.”

“Berarti dia tidak suka pelajaranku ya bu.”

“Buka begitu. Bertahap bu.”

“Ayo pulang, pulang. Besok lagi. Nanti anaknya tersandung batu lho, dibicarakan terus. Selamat bu, bina terus Gundi itu.”

“Ya kita semua donk, masak hanya wali kelas saja.”

Begitulah pembicaraan di ruang guru. Untung dalam Minggu ini pembinaan Gundi melalui sms. Namaku tak disebut, alhamdulillah. Tak mudah bagi Gundi dan aku harus mendampinginya terus. Alhamdulillah Amir dan hampir teman sekelas mendukung Gundi. Insya Allah Gundi berhasil melewati kerikil-kerikil yang mungkin tajam terasa dikakinya. Dia harus ku sms lagi nanti malam. Kasihan keadaan keluarganya masih seperti itu. Ekonomi juga tak memungkinkan bagi Gundi untuk membeli banyak buku. Insya Allah bisa, merambat namun pasti. Amin.

Apa keistimewaan dari warna hijau?

Dari hasil diskusi dengan siswa tentang ‘Warna Hijau’ yang sudah ku posting terdahulu, dapat disimpulkan bahwa siswa telah memahami dan menyadari pentingnya warna hijau dalam kehidupan. Diskusi berikut ini mengacu pada keistimewaan warna hijau.

“Ibu, apakah tugas tentang bahasan keistimewaan warna hijau ini kami diskusikan dahulu dalam kelompok? Biar kami mempunyai kesempatan untuk menyatukan pendapat Bu.”

“Oh ya sayang, silakan. Ibu senang sekali kalian dapat berinisiatif untuk menyatukan pendapat. Itu bagus, apapun yang perlu didiskusikan, diskusikan dahulu dalam kelompok kecil, sehingga dalam diskusi klasikal, pendapat-pendapat kalian lebih mudah disatukan dan wawasan kalian tentunya lebih luas, penalaran lebih mantap. Insya Allah belajar kailian tentang sesuatu dapat tuntas, tas, tas, he he he.”

“Hahaha … iya Bu, iya, Insya Allah. Terima kasih.”

Senang sekali melihat dan mendengar anak-anak antusias dalam belajar, walau pada awalnya belum seperti ini. Dengan kesabaran ternyata kita dapat melayani mereka membiasakan berlatih nalar, mengeluarkan pendapat, bertukar pikiran, dan meningkatkan cara-cara baik dalam berdiskusi.

“Ibu tampaknya banyak kelompok yang sudah siap dengan simpulannya.”

“Oh ya, ayo anak-anak kita diskusikan bersama hasil kelompok kalian. Silakan.”

“Menurut pendapat kelompok kami, warna hijau memang istimewa dalam kehidupan kita. Mulai dari dedaunan yang dapat mengurangi panasnya bumi, menyembuhkan stress, dan penggunaan warna hijau diantaranya untuk trafic light.”

“Bagus sayang, silakan kelompok lain.”

“Ya benar, Allah SWT menyukai warna hijau. Buktinya daun-daun itu umumnya berwarna hijau yang dapat mengatasi polusi lingkungan hidup, jiwa dan raga kita.”

“Benar, ayo kelompok lain.”

“Hal-hal yang memperlancar hidup kita sering disimbulkan dengan warna hijau. Contohnya traffic light, hijau berarti jalan terus. Mata hijau karena melihat uang banyak yang akan memperlancar hidup kita. Hehehe.”

Hua ha ha ha. Para siswa tertawa mendengar temannya mengatakan mata hijau. Aku pun tak tahan menahan tawa. Tampak ada wakil kelompok lain yang kemudian mengangkat tangan dan berdiri.

“Ibu, Allah SWT dan Rosulullah SAW gemar terhadap warna hijau. Di dalam ayat-ayat Al-Qur’an telah dituliskan tentang warna hijau yang membuat orang menjadi nyaman.”

“Ya sayang, kau benar. Makanya kita harus menyadari bahwa kita sesungguhnya menyukai warna hijau yang menjadi kegemaran Allah SWT yang menciptakan warna hijau itu dan juga hijau inipun merupakan kegemaran Rosulullah SAW. Alhamdulillah, marilah hal ini kita sosialisasikan baik pada lingkungan terdekat maupun masyarakat luas. Terima kasih atas semua masukannya.”

Para siswa perlu sekali diajak untuk menyadari kebesaran Allah SWT dalam pembelajaran apapun. Pembentukan karakter bangsa harus selalu disisipkan diantara pembahasan konsep yang aplikatif. Sungguh, pembelajaran akan hidup dan sangat menyenangkan. Dengan begitu, kita telah mengaplikasikan IMTAQ dan CTL dalam pembelajaran. Baik kurikulum lama mapupun baru kedua hal ini tak akan ditinggalkan, bahkan ketika saya sekolah dahulu, guru juga sudah melaksanakannya. UP TO DATE lah. Okay Guraru, Insya Allah bermanfaat.

Mengapa kau mencintaiku? (Bagian 4)

Setelah siuman, ternyata aku telah berada di kamar pasien sendirian. Aku berusaha duduk dan ku pencet bel panggilan. Tak berapa lama terdengar suara sepatu suster yang sedang berlari dan masuk ke kamarku.

“Alhamdulillah ibu sudah siuman.”

“Sus panggil aku mbak saja, aku masih muda lho.”

“Maaf ibu, saya tak berani melanggar aturan pekerjaan. Ibu bukan berarti sudah tua; saya harus menghormati ibu sebagai pasien atau tamu kami.”

“Ya sudah tidak apa-apa. Maksudku tadi kekeluargaan saja, tak perlu formal. Namun RS ini disiplin ya, OK itu baik. Sus tolong antar aku ke ruang pasien tadi ya.”

“Iya Bu, sebentar.” Jawabnya.

Tak berapa lama dokter masuk.

“Alhamdulillah, ibu sudah siuman. Pihak rumah sakit tadi sempat bingung.”

“Oh maafkan saya Dok. Saya amat terkejut, sehigga tak sadarkan diri. Dok, mengapa dia? Sakit apa dia dok?” tanyaku.

“Sekeluarga mengalami kecelakaan dan hanya dia yang hidup, namun lumpuh dan sulit berbicara. Keadaannya kritis dan kami tak sanggup menolong. Dia menyebut namamu dan meminta kami untuk membuka dompetnya. Kami tanggap apa yang dimaksudkannya. Setelah kami temukan nomor HP ibu, kami segera menghubungi, sebab khawatir tak sempat menemuinya. Sekarang saya membawa berita yang sangat mengejutkan, rasanya aneh tetapi nyata-nyata terjadi.”

“Ap … apa maksud dokter? Ada apa dengannya? Tolong dok saya ingin menjumpainya sekarang. Tolong jangan melarang saya.”

Aku memaksakan diri untuk berdiri. Karena tempat tidurnya agak tinggi, aku hentakkan badanku, maksudku akan meloncat turun. Astaqfirullah … aku hampir jatuh, untung si suster dengan sigap memegangku. Dokter dan suster itu tertawa. Hah? Mengapa mereka malah tertawa? Lucukah aku? Apa aku tadi salah dengar? Apa tadi yang dikatakan dokter? Berita yang mengejutkan. Maksudnya berita baikkah? Insya Allah.

“Maaf kalau kata-kata saya tadi ada yang salah. Maksudnya ada berita yang sangat baik untuk ibu.”

Alhamdulillah, dokter ini bagaimana sih.

“Maksud dokter …”

“Alhamdulillah, sebuah mukjizat telah terjadi. Ternyata kesehatannya membaik bu. Dia memiliki lagi kekuatan hidup setelah melihatmu. Bersediakah kau merawatnya? Kalau iya, kalian kita nikahkan disini, tentunya menunggu keputusan keluargamu.”

Aku terpaku mendengarkan penjelasan dokter. Aku memang terlalu mencintainya. Kuputuskan sekarang saja untuk merawatnya. Dia dan aku sudah sebatang kara. Aku menganggukkan kepala dan ku tilpun ibu angkatku yang juga sudah janda.

***

Now I understand why did you go last time without any reason. Ya … ya, sekarang aku paham … mengapa dulu kau pergi tanpa suatu alasan. Mungkin kebingunganmu dahulu itu karena ada suatu masalah yang membuat kita harus berpisah, namun kau tak tega padaku untuk menjelaskannya. Apakah ketika itu kau dipaksa untuk menikah dengan gadis pilihan orang tuamu, apakah kau memang telah dijodohkan sejak kecil, namun kau tak tahu sebelumnya. Tak masalah bagiku. Hati kita masih selalu dekat, bahkan menyatu. Apakah selama 3 tahun ini kau telah beristri? Mungkin tidak, karena sampai sekarang kau tetap sendiri, tak seorang wanitapun ada di sampingmu. Apakah ketika itu kau menolak untuk dinikahkan? Itupun tak masalah bagiku. Buktinya, sekarang Allah SWT telah menyatukan kita kembali. Aku tak akan bertanya mas, aku memang tak perlu bertanya. Ku telah memilikimu kembali. Selama ini aku juga tak salah, memang benar … walau jauh di mata ternyata hati kita selalu menyatu. Aku tak pernah menyalahkanmu, Allah SWT telah membuka pintu hati kita sejak dulu hingga sekarang, alhamdulillah.

***

Dengan penuh cinta dan kasih sayang ku rawat dia. Senyumnya mulai mekar, bicaranya mulai banyak dan jelas. Kami menjalani hidup ini dengan bahagia. Terima kasih ya Allah, Kau telah mempertemukan kami kembali dan Kau beri hamba kesempatan untuk merawatnya dan menyayanginya. Allahu Akbar.

***

“Yangtiiii … yangkuuung … di belakang ya …? Ini lho … kami membawa jus kesukaan Eyang.”

Ehmm … Fitri putriku satu-satunya dan kedua cucuku pada datang. Oh ya mereka libur semester. Hehehe aku dibawakan jus. Mereka tahu jus itu kesukaanku dahulu. Sudah lama, bahkan semenjak merawat mas aku tak pernah ingat untuk membuat jus. Fitri adalah bayi tabung. Alhamdulillah dengan kesabaran akhirnya kami bisa memiliki Fitri dan lucunya, suami Fitri adalah anak tunggal dari dokter yang merawat mas di rumah sakit dulu. Dan sudah kehendak Allah SWT, ternyata suster yang menolong kami dulu itu menjadi istri pak dokter. Hehehe dunia ini rasanya kok menjadi sempit ya. Cucuku yang pertama Umar, kuliah di FK Unair dan adiknya Umi terkabul keinginannya kuliah di Farmasi Unair. Allahu Akbar, Allah Maha Besar.

The End

Mengapa kau mencintaiku? (Bagian 3)

Tahun keempat. Aku duduk di cafe yang biasa kami datangi. Ku minum jus kesukaanku dan kubeli minuman kesukaannya pula. Aku merenung membayangkannya. Terima kasih ya Allah, hamba dapat membayangkan sifat-sifat baiknya dengan jelas. Insya Allah hati kami masih tetap bersatu. HP ku bergetar … ada tilpun masuk.

“Ya benar, ini saya I’is yang bicara.” ucapku dengan penuh tanda tanya.

“Hah? Apa mbak? Agak keras sedikit ya, maaf suara mbak kurang jelas, nih agak putus-putus.”

“Yaya begitu sudah lebih jelas. Apa? Aku diminta ke rumah sakit? Rumah sakit mana? Sebentar jangan ditutup dulu, saya akan mengambil kertas untuk mencatat.”

Ku buka tasku, alhamdulillah ada kertas. Pensil … ehmm pensilku di mana ya? Oh ini.

“Mbak, maaf dektekan kembali, pelan-pelan ya. Sudah kucatat mbak, terima kasih. Ehmm apa mbak? Oh segera? Yaya mbak sekarang saya akan langsung menuju RS.”

Ku terima tilpun dari rumah sakit umum, katanya seorang pasien ingin bertemu denganku sebelum ajalnya tiba. Siapa dia? Aku tak berani berpikir yang bukan-bukan. Aku langsung naik taksi menuju rumah sakit.

Ya Allah, siapakah orang yang ingin bertemu dengan hamba tersebut? Hamba sadar selama ini hamba sedang menjalani ujianMu. Tak henti-hentinya hamba terus saja berharap agar Engkau dapat mempertemukan kami kembali yang selama 3 tahun ini telah terpisahkan oleh keadaan yang tak hamba mengerti. Hamba percaya kepadaMu ya Allah bahwa semua ini demi kebaikan kami. Alhamdulillah aku bisa tenang dan dapat bertahan selama 3 tahun terpisah darinya. Terngiang kembali lagu Koes Plus:

The time has come that we must be apart
The memory is still in my mind but you have gone
And you leave me alone.

Ehmm … however I can survive and I still survive, although we were seperated.

Hehehe, Survive … kan kata ini ada dalam lagu Bondan Prakoso: “I will survive.” Aku akan bertahan … ya aku harus dapat bertahan, walau apapun yang terjadi. Toh tak terpikirkan olehku untuk mencari gantinya. Ehmm … aku dapat merasakan bahwa saat-saat tertentu hati kita masih menyatu. Aku merasakan kehadiranmu. Ehmm … ku ingat kata-kata ibu: “Walau jauh di mata, namun dekat di hati.” Aku merasakan bahwa nun jauh di sana, kaupun sedang memikirkanku. Aku percaya bahwa kaupun berpikir kalau aku dapat bertahan dan selalu setia menunggumu, hingga … Allah SWT mempertemukan kita kembali, dalam keadaan apapun. Aku sudah amat bersyukur bahwa kita pernah berdua, menjalin persahabatan bagai kakak adik yang saling membantu dan mendukung. Sharing ideas and experiences, give and take, dan saling mengingatkan. Kau telah menuntunku untuk selalu mendekat padaNya, hingga sampai kinipun Al Qur’an darimu selalu berada dalam genggamanku, ke mana-mana ada bersamaku. Alhamdulillah, rasanya begitu indah walau hanya mengenangmu seperti ini.

***

Sampai di RS aku berjalan cepat berlari lambat agar segera sampai ke ruang yang dimaksud. Ruang 2o2. Oh lantai 2. Banyak sekali orang di situ, OK aku naik tangga saja. Bismillahirrohmanirrohim, ku ketuk pintu kamar nomor 202. Pintunya telah di buka, seseorang membukanya … suster. Aku tak terpikir untuk berterima kasih. Mataku menatap seorang pasien terbaring di tempat tidur itu. Siapa dia? Lelaki? Ya Allah, siapa dia? Kakiku seakan kaku, ya aku tak bisa menggerakkannya. Suster itu menuntunku, mendekat … makin dekat.

“Mas, benarkah yang terbaring dihadapanku ini kau?” ratapku.

Oh dia memang kekasihku. Dia menggangguk lemas dan aku … terjatuh pingsan.

To be continued –> Part 4.

Sepenggal Kisah Perjuangan Ibuku

Bulan Desember mengingatkanku pada kasih ibu yang tak pernah padam dan tak pernah putus, walau apapun yang terjadi. Ibuku, sosok perempuan yang selalu mengisi hidupnya untuk menyenangkan keluarga dan orang lain. Ibu berjuang tanpa mengenal lelah, senyumnya selalu menghiasi wajah. Begitu besar kasih sayangnya. Kesabarannya tiada tara; ketabahan menghadapi masalah tak tertandingkan; keuletan upayanya tak terbayangkan; kedisiplinannya membuat kami patuh; tutur katanya sangat menyejukkan hati. Rasa syukur dan keikhlasannya tak pernah sirna. Subhanallah.

Bapak bekerja di kantor Gubernur, ibu di rumah merawat dan mendidik kami bertujuh tanpa pembantu. Ibu mengandung adik yang nomor 8. Kami membagi tugas rumah sesuai pilihan. Ibu pandai membuat masakan bergizi dan mengatur menu hingga selera makan kami tak pernah hilang. Kami tak pernah sakit yang serius dan Ibu tak pernah menyiapkan obat. Kata beliau air adalah obat; buah sayur, protein nabati juga mengandung obat. Memasaknya harus sesuai dengan sifat bahan. Vitamin dan mineral sudah banyak dalam asupan tersebut, ibu tak perlu menyiapkan vitamin tablet atau lainnya. Subhanallah, terima kasih ya Allah.

Bapak selalu tampak segar dan suka humor. Sosialnya besar terhadap siapa saja. Beliau wafat di usia 43 tahun, akibat tekanan darah tinggi dan serangan jantung. Suatu ketika bapak mendapat tilpun dari seseorang, beliau terkejut dan pingsan. Selama 7 hari bapak di rumah sakit. Beliau tampak lemah, kemudian tak sadarkan diri. Sebelum pingsan beliau sempat menggenggam tangan ibu, menciumnya dan meminta maaf. Menurut berita terjadi ketegangan di kantor. Saat itu bapak menjabat kepala urusan perumahan. Bulan terakhir kudengar banyak terjadi kekacauan urusan kepemilikan tanah/rumah. Beliau tak pernah mau menerima pemberian/upeti. Ya Allah, terimalah arwahnya di sisiMu beserta amal ibadahnya dan ampuni semua dosanya, amin YRA.

Sepeninggal bapak, ibu yang mengandung 9 bulan mengurus segalanya sendiri. Kakak laki-laki SMA kelas II selalu menjaga kami. Kakak perempuan dan aku kelas II SMP bertugas mengurus rumah, memasak, merawat adik yang masih SD, TK dan satu lagi belum sekolah. Ibu berpesan bahwa kita harus mengencangkan ikat pinggang, tak ada lagi uang saku. Semua harus membawa bekal. Jajanan tidak boleh membeli, harus membuat sendiri. Semua kegiatan harus sesuai jadwal. Alhamdulillah, kebiasaan ini terbawa hingga anak cucu.

Suatu hari ibu mengumpulkan kami, kakak dan aku. Ibu menjelaskan bahwa diakhir hayatnya bapak tergoda oleh sekretarisnya. Semua gaji dan HR bapak sudah diambil. Perempuan itu sering mengajak bapak makan enak, hingga bapak terkena tekanan darah tinggi. Rumah Malang beserta surat-surat di meja diambil oleh kolonel Bambang S, yang kemudian mengalami kecelakaan, badannya hancur. Allah Maha Adil. Jangan marah, kecewa, atau sedih. Kita perjuangkan hidup ini dan pasrah kepada Allah SWT. Uang simpanan di Malang hilang. Beliau tak pernah menabung di bank. Perempuan itu datang dan meminta maaf, ibu memaafkannya. Kalian harus dewasa, lakukan yang terbaik, jangan nakal, malas, atau apapun yang tak disukai Allah SWT. Harus baik pada orang, namun tetap waspada. Bertemanlah dengan orang baik. Itulah nasehat ibu yang selalu kuingat. Ibu hebat sekali. Terima kasih ya Allah.

Semula Ibu dan kakak berjualan nasi, kemudian ibu bekerja di kantin. Sorenya ibu memberi les bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Aku memberi les seluruh pelajaran untuk SD/SMP. Kehidupan kami makin membaik. Agar kami bisa kuliah, ibu bekerja pada Kedutaan Besar Indonesia di Polandia selama 3 tahun. Istri duta besar, teman sekolah beliau. Ibu wafat di usia 72 tahun, karena kesalahan obat generik dari Puskesmas. Di akhir hayatnya ibu tersenyum bahagia. Beliau ikut merasakan kesuksesan putra-putrinya dan mendidik sebagian cucu hingga menjadi pemimpin yang dapat diteladani. Demikianlah perjuangan ibuku yang amat dahsyat. Semoga arwahnya diterima di sisi Allah SWT beserta amal ibadahnya dan diampuni dosa-dosanya, amin YRA. Insya Allah kami keluarga besar R. Soebiyakto alm. dapat terus mengikuti jejak beliau hingga perjuangan meningkatkan pendidikan bangsa Indonesia terwujud, amin YRA.

Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2013

Surabaya, 04 Desember 2013