Category Archives: Pembinaan Karakter

Part 8: Hampir putus asa

Perjuangan Gundi yang dahulunya super malas dan ingin menjadi rajin, mengalami lika-liku yang berpengaruh pada perilakunya. Sebenarnya secara bertahap dia mulai dewasa, tampaknya sabar menghadapi olokan, tertawaan, cibiran, dan sejenisnya dari lingkungan, terutama sekolah. Namun sesuatu telah terjadi tanpa sepengetahuan saya. Dia hampir putus asa ketika guru yang sudah memujinya dan beberapa teman yang mendukungnya mulai tak percaya padanya. Sebenarnya dia masih terus menghubungiku melalui sms. Namun akhir-akhir ini dia tampak lesu, kurang bergairah, dan senyum itu kelihatannya dipaksakan. Amir jarang laporan, hanya sesekali ketika aku bertanya lebih dahulu.

Keadaan di atas membuatku sadar bahwa sudah sebulan ini aku kurang fokus menangani Gundi. Tadinya ku rasa Gundi Insya Allah dapat memperjuangkan sifat baiknya dan mampu menghadapi tantangan apa saja dari guru maupun teman-temannya. Aku jadi merasa bersalah. Mengapa aku begitu tega menurunkan skala prioritas dalam mendukung niat baik Gundi? Kepentingan manakah yang mengalahkan perhatianku pada Gundi? Sejauh manakah aku telah mengabaikan tugas khusus ini? Ya Allah, ampuni hamba. Gundi, maafkan ibu. Kau jangan seperti itu sayang, ibu tak tahan mengingat wajahmu seperti itu. Ibu telah teledor, kurang perhatian terhadap upayamu, kurang jeli memperhatikan perkembanganmu. Kau mungkin sungkan pada ibu. Kau mungkin melihat ibu amat sibuk dengan urusan Eco-school, olimpiade dan lainnya. Ah tidak. Ibu tak boleh seperti ini. Ya Gundi, ibu akan mendekat padamu lagi.

Hah? Terkejut aku ketika di depan meja ada Gundi yang sedang duduk sambil menundukkan kepala.

“Gun.”

Dia hanya mengangkat kepala dan … senyum itu hilang. Wajahnya pucat sekali. Ku berikan segelas air dan diminumnya hingga habis.

“Ada apa sayang? Bolehkah ibu mendengar ceritamu?”

“Saya bersalah Bu.”

“Apa salahmu sayang?”

“Saya memang tak pantas sekolah di sini.”

“Mengapa kau berkata begitu?”

“Maafkan saya Bu, mungkin Ibu kecewa padaku. Semua orang kecewa padaku. Saya tak layak sekolah, sebaikya saya bekerja saja Bu.”

“Sayang, itu bukan suara hatimu. Sekarang pergilah sholat, tak perlu kau ceritakan sekarang.”

“Ya Bu, terima kasih.”

“Ibu yang meminta maaf padamu sampai tak menghiraukanmu. Sebulan sudah perjuanganmu demi masa depan yang kau cita-citakan. Silakan ke Mushola dan masuk ke kelas. nanti saja istirahat siang atau pulang sekolah.”

Dia berdiri dan meninggalkan ruang guru menuju Mushola. Alhamdulillah, di masih menurut untuk melakukan kebaikan. Namun rasanya ada sesuatu yang berbeda. Belum sempat ku nalar sikap Gundi barusan, Amir datang.

“Amir, maafkan ibu. Sebulan ini ibu terlupa tak begitu memperhatikan Gundi. Bagaimana menurutmu dan berita apa yang aka kau sampaikan pada ibu?”

“Sebelumnya saya meminta maaf bu, sebab sayapun sibuk dengan pelajaran dan membantu teman-teman. Tak terasa Bu, ternyata Gundi juga agak jarang bertanya padaku, malah mendekati Dono cs. Mungkin awalnya bertujuan baik Bu, namun lama-lama dia seperti terkena arus kebiasaan Dono. Saya tak mau bersaing dengan Dono untuk merebut Gundi kembali. Itulah Bu sekilas infonya. Tadi guru olah raga menghukum mereka dan nilai praktik di bawah KKM, nilai sikap C. Saya baru sadar kalau Gundi sedang dalam perjuangan, tampaknya dia down Bu. Maaf saya ke kelas dahulu, nanti malam ibu bisa tilpun saya.”

“OK thx sayang. Do your best.”

“Yes mom, Insya Allah.”

Ya Allah, bagaimana ini? Hamba salah telah meninggalkannya sebulan ini. Berikan petunjukMu ya Allah, apa yang harus hamba lakukan?

“Bu Etna, dipanggil kepala sekolah.”

“Oh iya pak, terima kasih. Sekarang saya akan ke sana. Di ruang KS ya?”

“Iya Bu.”

Ada apa ya kepala sekolah memanggilku? Apakah sehubungan dengan kasus Gundi? Apakah pak guru olah raga (OR) tadi itu habis lapor dan … ehmm … entahlah. Ya sudah tak perlu menduga-duga, pusing deh jadinya. Salahku sendiri sih, kok sebulan menjauh dari Gundi. Sekarang kalau Gundi benar-benar ingin keluar dari sekolah, karena tak tahan lagi menghadapi tantangan demi tantangan yang tak kunjung berhenti, terus mau apa coba?? Memaksakan kehendak pada Gundi?? Hehehe tak bisa seperti itu. Ah … suara hati memprotes.

Iklan

Part 7: Dia berjuang menghapus cap super malasnya

Gundi si anak malas itu ternyata masih terus berupaya untuk menjadi anak baik dan rajin. Namun tak mudah baginya utuk menghilangkan cap yang sudah terlanjur menempel. Dia sudah dikenal sebagai anak super malas. Beberapa guru masih tak percaya terhadap perjuangan Gundi. Beberapa teman Gundi juga mulai terhasut oleh Dono si ego itu.

Sambil mengoreksi pekerjaan siswa, saya terus mengamati Gundi yang sedang menghadap guru bahasa Inggris. Nah itu dia berdiri dan menerima buku tugasnya dari bu guru BIG (bahasa Inggris). Dia kelihatan mulai berjalan menuju pintu depan dan … oh gurunya juga mengikutinya dari belakang. Saya keluar untuk melihat tujuan mereka. Lega sekali saya, ketika mereka menuju kelas. Jadi jam 1 dan 2 bahasa Inggris. Segera saya sms Amir. Dia segera membalas, katanya jam 1 dan 2 bahasa Inggris dan baru saja bu BIG masuk kelas bersama Gundi. Hehehe dengan cepat saya sms lagi dia, bertanya apa yang mereka kerjakan selama menunggu. Amir membalas, diminta membuat dialog dengan topik anak malas. Hah? Berarti guru itu menyindir Gundi, kasihan anak itu.

Pada jam pelajaran ke 3 dan 4 saya mengajar di kelas sebelah kelas Gundi. Saya merasa rindu padanya. Ingin sekali saya menghiburnya, untuk tetap sabar menghadapi semua tantangan. Oleh sebab itu saya sengaja nyasar (salah kelas) agar dapat melihatnya, hehehe. Setelah saya memberi salam dan dijawab dengan lantang oleh siswa, saya masuk dan berdiri di salah satu bangku siswa agar bisa melihat Gundi. Sebelum berbicara, beberapa siswa mengingatkan saya. Alhamdulillah saya dapat melihat Gundi. Dia senyum dan menganggukkan kepala. Alhamdulillah, berarti pertemuannya dengan bu BIG beres. Mungkin dia bisa mengambil hati beliau. Insya Allah begitu.

“Ibuuu … salah masuk.”

“Ibu seharusnya di kelas sebelah.”

“Oh ya? I’m so sorry. Hehehe I’m growing older. OK see you next.”

“It’s OK mom. It doesn’s matter.”

“No mom, you still look young.”

“Really?”

Ha ha ha ha. Kami semua tertawa berbarengan. Lucu juga mereka. Selagi saya melangkah menuju pintu keluar, sempat terlihat 2 siswa yang duduk di bangku paing depan dan pojok dekat pintu berbisik-bisik. Entahlah apa karena saya terlalu peka atau keGRan, saya dekati mereka.

“Sayang, apa yang kalian bicarakan?”

“Tidak ada kok bu, tidak ada apa-apa.”

“Ehmm mungkin memang tak ada apa-apa, namun kau tahu bahwa ibu bisa menebak?”

“Iya bu, maaf. Saya bisikkan ke dia kalau sebenarnya ibu sengaja masuk kelas ini, untuk melihat Gundi.”

Kucubit pipi gadis manis itu sambil tersenyum.

“Kau tahu saja sayang, thx.”

“Maaf Ibupun selalu tahu. Sampai sepandai-pandai nyontek ibu juga tahu, hehehe telepati ya bu.”

Saya mengucapkan salam, kemudian dengan perlahan meninggalkan kelas sambil tersenyum bahagia. Ehmm apapun yang kita lakukan, walau diusahakan tak kentara, namun ada saja siswa yang peka. Hehehe mereka juga bisa membaca perilaku kita, bahkan mungkin mereka bisa lebih peka. Contohnya Amir – luar biasa, untuk hal-hal tertentu justru saya yang belajar dari dia. Subhanallah. Gadis manis tadi itu ibunya psikiater dan ayahnya dokter anak. Hehehe pantas deh, faktor gen. Kalau Amir rasanya memang asli kehebatan ibunya mendidik dia sejak janin. Dasar pendidikan agamanya juga amat bagus, perilakunya aduhai. Tentulah semua itu berasal dari rumah dan tak tergoyahkan oleh keadaan lingkungan di luar rumah.

Kelas yang berada di sebelah kelas Gundi ini sebenarnya tak ada anak yang malas. Namun tingkat berpikir mereka agak homogen, sehingga terasa lebih pasif. Semua kejadian yang perlu mendapat perhatian sudah saya catat di buku harian khusus, hanya saja tak mungkin diungkap di sini. Kali ini saya fokus pada pembinaan Gundi. Setelah pembelajaran jam ke 3 dan 4 ini selesai saya segera menuju ruang guru sebab ada pengumuman penting dari kepala sekolah. Nanti jam ke 5 dan 6 saya mengajar di kelas Gundi.

Kepala sekolah dan 4 waka sudah siap di ruang guru, namun guru yang sudah di tempat baru sekitar 30%. Sambil menunggu guru lain, saya minum teh hangat dan merapikan file pembelajaran.  Setelah kehadiran guru sekitar 80%, pengarahan di mulai. Waka kurikulum menagih perangkat mengajar dan mengingatkan untuk segera entry nilai harian dan tugas. Kepala sekolah menjelaskan tentang program adhiwiyata dan panitianya.  Bel masuk berbunyi dan waka humas menutup rapat singkat ini. Alhamdulillah lancar, pertanyaan hanya satu dan sumbang saran juga satu. Notulen tampak mencatat masukan dan proses rapat.

Ketika saya membuka HP ternyata Gundi sms minta maaf belum berberita sebab sibuk belajar dan membantu ibunya. Guru BIG sudah beres. Alhamdulillah. Saya bergegas menuju kelas Gundi. Di tengah jalan bertemu dengan guru BIG. Beliau titip pesan kalau nanti Gundi diminta ke ruang guru. Wao ada apa lagi ya. Ah sudahlah, suatu konsekuensi memang harus diterima. Insya Allah semua itu untuk kebaikan Gundi.

Di kelas Gundi tak banyak yang bisa saya ceritakan. Pada kegiatan inti para siswa mengerjakan soal di kelompok masing-masing. Setiap kelompok terdiri atas 4-5 siswa, seorang siswa menjadi leader dan seorang siswa lagi adalah tutor sebaya. Setelah itu wakil kelompok (bukan tutor dan bukan leader) menulis hasil diskusi di papan yang kemudian diplenokan. Gundi termasuk wakil yang harus menulis di papan. Alhamdulillah lancar dan keyakinannya membuat dia tampak makin mantap. Pembelajaran dirangkum melalui tanya jawab dan masing-masing kelompok mengumpulkan hasil kelompok dan dilampiri revisi hasil masukan.

Namun pada akhir pelajaran sesuatu terjadi. Dono si ego itu menjegal kaki Gundi ketika balik ke bangku sehabis menghapus papan. Gundi terjatuh dan ketika berdiri dia dipukul oleh Dono. Segera Amir dkk melerai mereka dan saya membawa mereka ke BP dengan melibatkan Humas Kesiswaan. Sayangnya, semua guru menyalahka Gundi sedang teman-temannya membenarkan Gundi. Besok akan diadakan sidang lanjutan dengan menghadirkan kedua orang tua/wali siswa. Ada-ada saja, kasihan Gundi. Insya Allah kerikil-kerikil itu tak tajam dan Gundi mampu  menghalaunya.

Part 6: Perubahannya masih diragukan

Perjuangan Gundi untuk mengubah dirinya dari super malas menjadi rajin, baik  cara berpakaian, berbicara, keterlibatan dalam pembelajaran, kerajinan mengerjakan tugas, dan lainnya tidaklah mudah. Banyak hambatan yang harus dihadapinya, baik situasi rumah, teman sekelas, maupun guru. Itulah konsekuensi yang harus dihadapinya. Hanya menyesali kesalahan sebelumnya, tentu tak ada gunanya. Alhamdulillah kesadaran dirinya terus meningkat. Dia memang merasa menyesal telah banyak ketinggalan, namun dia terus berdoa dan berjuang. Sopan santunnya makin bagus, kerajinannya juga meningkat.

Ternyata jalan menuju kebaikan tak mudah seperti membalikkan tangan. Proses yang ditempuhnya tak semulus jalan aspal yang baru dipoles. Insya Allah Gundi mampu mengatasi rintangan demi rintangan, tetap berjuang demi masa depannya. Aku optimis melihat starting pointnya dan langkah awalnya. Semoga dia bisa, amin. Eh … HP-ku berbunyi, ada sms masuk. Amir … Insya Allah dia melaporkan perkembangan baik dari Gundi.

“Ibu maaf mengganggu. Saya besok mau menghadap, namun sebagian ingin saya infokan sekarang. Mohon doanya Bu, kasihan Gundi.”

Hah? Ada apa dengan dia? Wah aku tadi sudah berdebar juga, namun malam ini aku baru mau sms Gundi. Mengapa tadi siang aku tak segera bertanya ke Gundi atau Amir? Kepekaan ini tak boleh diabaikan, bisa berakibat pada Gundi. Aku sudah menunda sesuatu yang penting.

“Amir, ada apa dengannya?”

“Tadi guru bahasa Inggris marah ke kelas akibat Gundi, sehingga tak jadi mengajar. Gundi merasa bersalah dan pergi ke Musholah tak balik lagi. Dono menghasut teman-teman. Bu maaf pulsa tinggal sedikit.”

“Oh maaf sayang, smskan nomormu biar ibu isi. Masalah Gundi penting, kasihan dia. OK ibu sms Gundi saja, thx informasimu. Terus bimbing dia ya.”

“Maaf Bu tidak apa-apa, saya sudah siap membeli pulsa dan dananya sudah ada. Besok pagi saja saya menghadap. Wass.”

“OK sayang, terima kasih banyak. Sebenarnya ibu ada dana untuk pembinaan siswa yang ibu sisihkan dari uang les anak-anak, hehehe. Ya sudah besok pagi saja. Take care and do the best.”

Aku langsung sms Gundi, bermaksud untuk mengetahui keadaannya sekaligus jalan yang ditempuhnya untuk menghadapi besok. Sudah 1 jam dia belum juga membalas sms. Ya dia memang membantu ibunya berjualan, namun aku sudah minta dia untuk selalu membawa HP-nya. Pulsa juga sudah terisi cukup banyak. Mungkin dia belum siap menjawab. Aku hanya bisa berdoa untuknya. Mungkin dia sedang mengerjakan PR bahasa Inggris dan lainnya, atau mungkin dia sedang mengatur perasaannya. Insya Allah dia baik-baik saja. Aku benar-benar  memikirkannya. Tidur malam pun terbangun 3 x, akhirnya aku sholat kemudian membuka laptop dan mulai mengetik.

Sebelum jam 6 pagi aku sudah di sekolah, minum teh hijau hangat dan mendengarkan penjelasan Amir. Anak ini memang luar biasa, tanggung jawabnya besar. Sebenarnya tak mudah bagi anak seusia Amir mampu mengatur dan mengendalikan teman-temannya. Subhanallah, sungguh luar biasa dia. Terima kasih ya Allah.

“Dono memang keterlaluan Bu. Mungkin dia iri pada Gundi yang sekarang banyak mendapat perhatian dari teman-teman dan beberapa guru serta wali kelas. Apalagi teman-teman yang sering dia suruh-suruh dan menurut itu sekarang sudah meninggalkannya. Kasihan juga.”

“Amir, maksudmu kau kasihan pada Dono?”

“Ya Bu, kasihan. Dia belum menyadari kesalahannya. Saya membayangkan kalau dia begitu terus, dia bisa gagal dalam meraih cita-citanya.”

“Sayang, anak seperti itu mungkin tak punya cita-cita.”

“Ya tentu punyalah Bu, malah mungkin cita-citanya tinggi sekali tak mengukur keadaan dirinya. Dia tak merintis jalan untuk mencapainya.”

“Eh sayang, kita kok membicarakan Dono, hehehe. Terus langkah kita untuk Gundi bagaimana?”

Lho aku kan seharusnya mencatat keadaan Dono dan harus membantunya juga. Aku malahan tak ingin memikirkan Dono, hehehe tak adil donk. Amir ini hebat sekali, lebih adil, lebih perhatian terhadap temannya, alhamdulillah.

“Ya nanti Insya Allah saya bisa mendekatinya lagi Bu. Maaf bel kurang 10 menit saya harus membantu teman piket. Nanti siang dilanjut ya Bu.”

“Oh iya sayang, maafkan ibu. OK Good luck. Keep doing your best.”

“Thx mom, Insya Allah, I will.”

Ketika bel sudah berbunyi, ada sms masuk dari Amir yang mengabarkan bahwa Gundi belum hadir di kelas. Aku bergegas ke Mushola, eh … dia juga tak ada. Aku menuju ke depan, barangkali dia terlambat dan di hukum untuk membersihkan halaman atau apa. Tak ada juga. Berarti dia tak masuk sekolah. Sebaiknya ku sms saja. Setelah ku tunggu beberapa saat juga tak ada balasan. Kemudian aku menilpunnya, tak juga dibalas. Oh aku belum ke BK. Eh … tak ada. Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Berilah petunjuk.

Aku kembali ke ruang guru dan duduk. Lemas rasanya badan ini; pikiranpun tak tahu mau berpikir apa.  Gagalkah aku membinanya? Mengapa dia kemarin tak menghubungiku dan tak membalas sms maupun tilpun? Hah? Siapa di sana itu? Sepintas tampak seorang siswa sedang duduk menghadap salah seorang guru. Ya beliau guru bahasa Inggris. Anak itu Gundi ya dia Gundi. Ehmm … mungkin kemarin dia berusaha meyelesaikan PR itu sebab hari ini harus dikumpulkan. Dia menunduk dan guru itu mungkin mengoreksi pekerjaannya. Bagaimanapun saya lega, walau tak tahu proses yang sedang berlangsung di sana. Bukalah pintu hati guru tersebut ya Allah, agar perubahan Gundi yang dia lakukan bertahap ini mendapat peluang untuk terus maju. Kasihan Gundi, perubahannya masih diragukan oleh beberapa guru. Insya Allah hal ini menjadi pelajaran yang baik baginya, amin. Aku percaya bahwa Allah SWT memberikan ujian sesuai dengan kemampuan seseorang.

Part 5: Dia sekarang sudah rajin

Pembinaan terhadap Gundi yang awalnya super malas, masih terus kulakukan. Ku ingin Gundi menjadi contoh perjuangan seorang anak yang tadinya pemalas menjadi rajin. Bagaimanapun aku tak mungkin memaksakan kehendak untuk mengubah Gundi menjadi orang lain. Dia harus tetap sebagai dirinya. Untuk itu aku harus membangkitkan kesadaran dirinya bahwa selama ini dia salah melangkah. Pikiran dan perasaannya harus dikonflikkan, sehingga dia berpikir keras dan hati nuraninya turut berbicara. Aku tak hanya menggunakan Konflik Kognitif, namun juga Konflik Afektif. Melalui hipnotis halus (Hypno-heart dalam hypno-teaching), secara bertahap dengan kasih sayang, alhamdulillah akhirnya Gundi dapat tersugesti oleh layananku. Sebenarnya tak ada sesuatu yang sulit, walau menangani anak yang super malas sekalipun. Kuncinya adalah memberikan perhatian dan mendengarkan.

Sore ini aku harus sms Gundi. Ah … mungkin dia masih sibuk membantu ibunya. Sebaiknya setelah sholat Isya’ sajalah. Sebenarnya aku ingin mengetahui perkembangannya dan keluarganya. Amir tutor sebaya yang peduli pada Gundi ternyata sudah bergerak lebih dahulu sebelum ku minta. Dia memang anak hebat; semua teman suka padanya. Dia suka menolong, rajin, dan juga pandai. Walau peringkat 3, namun dia mampu menjelaskan dan bertanya balik kepada teman-temannya. Tak hanya kelasnya, kelas lainpun sering bertanya dan meminjam catatannya. Apa sekarang ku sms Amir ya? Ya, sebaiknya begitu.

“Amir, bagaimana perkembangan Gundi, teman-temanmu, juga guru yang mengajar kalian pada jam-jam setelah ibu?” terkirim, bagus. Beberapa menit kemudian ada sms masuk, eh … saya kira Amir, ternyata Gundi.

“Ass. Ibu, mulai hari ini saya membantu ibuku berjualan. Doakan laku banyak ya Bu. Tadi sepulang sekolah saya sudah belajar Fisika. Di sekolah Amir sudah menjelaskan. Tadi waktu pulang, kami semua bersalam-salaman. Saya menangis Bu dan teman-teman memaafkan saya. Wass.”

Ya Allah, airmata hamba menetes. Alhamdulillah, terima kasih Amir, Gundi, semuanya. Hasil awal sudah mulai tampak. Aku harus membalas smsnya.

“Alhamdulillah sayang. Membantu ibumu? Bagus sekali, namun atur waktumu dengan baik ya. Bawalah bukumu barangkali bisa belajar dan malam nanti kau harus mengerjakan PR. Selamat.”

Sebaiknya ku sms Amir saja. Dia sudah tak perlu membalas sms. Lho … sms dari Amir.

“Ass. Maaf terlambat balas. Tadi sip, lancar Bu, besok saya ke ruang ibu ya, pagi jam ke nol. Terima kasih. Wass.” hehehe singkat, padat, dan jelas. Thx anakku.

“Alhamdulillah, thx sayang.” balasku.

Pagi harinya aku sudah berada di sekolah sekitar jam 05.30. Sepintas ku lihat Amir sudah berada di Mushola. Musholanya dekat dengan ruang guru dan tempat mejaku juga dekat dengan pintu menuju Mushola. Baru selesai merapikan buku dan membuat teh hijau tanpa gula, Amir sudah mengucap salam dan duduk di samping meja. Kami berdiskusi tentang keadaan kelas. Sesuatu yang masih berat bagi Gundi adalah beberapa guru yang belum bisa menerima perubahan Gundi yang cepat itu. Wajarlah, perubahan sikap memang tak bisa cepat, perlu waktu. Gundi harus terus berupaya memacu dirinya untuk tidak kembali malas. Alhamdulillah, Amir dapat mewakiliku mengawasi perkembangan Gundi. Ada satu masalah lagi, yaitu Dono anak yang agak sok menurut mereka, tetap tak suka pada Gundi. Namun teman-teman Dono tak mau memihak Dono. Demikian penjelasan Amir.

“Ibu amat berterima kasih padamu sayang, bimbinglah Gundi. Insya Allah dia mampu bertahan dan terus berjuang melawan kemalasannya.”

“Iya Bu sama-sama. Saya senang mendapat tugas ini. Saya ke kelas dulu ya Bu.

“Iya silakan. Do the best.”

“Yes mom, Insya Allah.”

Hari ini aku tak ada jam di kelas Gundi, besok baru ada. Kegiatan hari ini lancar dan sebelum Maghrib aku sudah sampai di rumah. Tadi setelah istirahat siang, beberapa guru membicarakan Gundi, termasuk wali kelasnya.

“Saya tadi waktu mengajar di kelas Gundi, eh dia berubah lho. Ganteng, rapih, bersih, tidak seperti biasanya. Hehehe.”

“Ah tak mungkinlah. Anak lusuh seperti itu mana bisa berubah 360 derajad.”

“Besok Bapak mengajar kelas Gundi tho? Buktikan saja.”

“Iya benar, tadi saya masuk kelasnya dan dia mau lho piket menghapus papan.”

“Piket? Itu bukan bukti berubah.”

“Lho ketika tanya jawab, dia juga mengangkat tangan dan jawabannya benar.”

“Buktinya waktu bahasa Inggris dia tak memiliki catatan dan PRnya belum dikerjakan.”

“Bapak dan ibu-ibu, sebagai wali kelas saya melihat sendiri perubahannya. Ya namanya super malas menjadi rajin, tidak bisa secepat itu. Beberapa PR sudah dikerjakannya, belum semua.”

“Berarti dia tidak suka pelajaranku ya bu.”

“Buka begitu. Bertahap bu.”

“Ayo pulang, pulang. Besok lagi. Nanti anaknya tersandung batu lho, dibicarakan terus. Selamat bu, bina terus Gundi itu.”

“Ya kita semua donk, masak hanya wali kelas saja.”

Begitulah pembicaraan di ruang guru. Untung dalam Minggu ini pembinaan Gundi melalui sms. Namaku tak disebut, alhamdulillah. Tak mudah bagi Gundi dan aku harus mendampinginya terus. Alhamdulillah Amir dan hampir teman sekelas mendukung Gundi. Insya Allah Gundi berhasil melewati kerikil-kerikil yang mungkin tajam terasa dikakinya. Dia harus ku sms lagi nanti malam. Kasihan keadaan keluarganya masih seperti itu. Ekonomi juga tak memungkinkan bagi Gundi untuk membeli banyak buku. Insya Allah bisa, merambat namun pasti. Amin.

Part 4: Kerajinannya tampak meningkat

Gundi anak super malas itu telah bangkit secara bertahap, kerajinannya tampak meningkat. Dalam seminggu ini aku harus melayani anak lain, sehingga layanan untuk Gundi ku lakukan melalui sms. Dia ku pinjami sebuah HP dengan pulsa yang sudah terisi, agar hubungan kami lancar. Secara rutin ku monitor dia agar tahu sejauh mana perkembangan perubahan sikapnya. Kalau ada apa-apa, sewaktu-waktu aku bisa memanggilnya. Dia harus berlatih meningkatkan diri. Oleh sebab itu ku berikan suatu kepercayaan, agar dia dapat berlatih mandiri. Insya Allah muncul kebanggaan dalam dirinya dan dia dapat bangkit untuk menghadapi tantangan yang bisa terjadi setiap saat. Kalau setiap hari dia kulayani di ruang guru, tentunya dapat menarik perhatian siapapun.

Agar aku tak lupa pada kasus Gundi, ku minta salah satu tutor sebaya yang masih peduli pada Gundi untuk selalu memberi informasi melalui sms atau langsung ke ruang guru. Untuk sementara Gundi sudah ku beritahu bahwa konsultasinya melalui sms.

“Gun, maaf ya. Sebaiknya sementara ini konsultasinya melalui sms saja, biar tak menjadi bahan pembicaraan. Melalui sms kita bisa lebih leluasa. Kapan saja, di mana saja, iya kan?”

“Iya Bu saya mengerti maksud Ibu. Stempel saya terlampau parah, kasihan Ibu.”

“Eh … sayang, kok kasihan pada ibu. Maksudmu apa?”

“Maaf kalau salah bicara Bu. Maksud saya, Ibu sudah berupaya membantu saya dan saya sedang menjalankan saran Ibu, tahu-tahu ada yang iri atau apa. Sulit Bu menjelaskannya, saya ingin positif dan akan menjauhi yang negatif.”

Bel tanda masuk berbunyi. Dia harus segera masuk ke kelas.

“Ya ya ibu mengerti kok. Sudah sana masuk. Senyum lho jangan lupa.”

Diciumnya tanganku sambil tersenyum. Senyum itu sudah lumayan, tak terlalu dipaksakan. Kasihan, aku tak tega setiap melihat dan mengingatnya. Aku harus segera sms Amir, tutor sebaya yang bisa membantu setiap saat.

“Amir, nanti istirahat siang segera ke ruang ibu ya, thx.” OK sms ini sudah terkirim.

Aku harus segera keliling kelas bersama guru piket yang lain. Kami biasanya berduaan, ada yang ke arah depan dan ke arah belakang. Ada 2 jam kosong. Oh ya nanti ada 2 siswa akan konsultasi olimpiade. Alhamdulillah, hari ini aktivitasku cukup padat. Setelah keliling, aku akan membuka laptop menyiapkan materi olimpiade yang sudah ku rapikan di folder lomba. Rita dan Dwi yang akan mengkoordinir teman-temannya nanti akan membawa flashdisk, Insya Allah tak lupa. Tak masalah sih, aku memiliki 2 flashdisk yang biasa dipinjam anak-anak. Kalau begitu, agar tak lama melayani anak olimpiade sebaiknya setelah piket akan ku copy file materi olimpiade itu.

“Bu Etna, ayo piket keliling.”

“Oh ya Bu, he he he maaf.”

“Tidak apa-apa, biasanya Ibu yang menungguku. Nih saya mau makan tidak ada temannya, jadi ya piket saja dulu. Eh … Bu, itu si Gundi kok sering ke Ibu ada apa? Minta les ya? Minta tambahan nilai?”

Nah kan. Ibu-ibu ini memang sering berbeda dibanding bapak-bapak, he he he maaf. Maksudku, beliau ini seringkali mempertanyakan sesuatu dengan dilandasi oleh kecurigaan yang tak berarti. Tampaknya Ibu X ini menuduh Gundi sekaligus saya. Lho … beliau kan wali kelas Gundi? Oh … makanya dia bertanya begitu, ehmm … pantas. Sebaiknya aku tak berpandangan negatif, ambil sisi baiknya saja. Bismillah.

“Bu informasi dari BK, Gundi anak orang tak mampu. Jadi tak mungkin dia les kimia. Nilai? Guru-guru sendiri pada menambah nilainya. Semula di bawah KKM menjadi pas KKM. Senyampang Ibu wali kelasnya, bolehkah saya memberi nilai dia tetap di bawah KKM?”

“Ooo begitu toh ceritanya. BK ini bagaimana sih saya kok malah tak tahu itu. Harusnya ya diberi bea siswa anak miskin.”

“Kata BK sudah Bu.”

“Wah saya kok belum tahu ya.”

“Coba ibu cek daftar bea siswa yang sudah dibagikan ke wali kelas.”

“Ya mungkin di rumah bu. Sudahlah, gampang nanti saya minta lagi saja. Sekarang ayo piket.”

Kami berdua ke bagian arah belakang. Untunglah. Andaikan ke arah depan, wah malu juga agak terlambat. Sambil berjalan dan mencatat hal-hal penting, ku ajak ibu X membahas masalah Gundi.

“Bu, nilai Gundi untuk sisipan asli saja ya.”

“Terserah bu Etna, ibu biasanya bagaimana. Kan ibu selalu memberi remidi toh? Ya laporkan sekalian hasilnya itu.”

“OK bu. Menurut ibu bagaimana dengan Gundi?” saya coba memancing pembicaraan.

“Ehmm … dia kan terkenal malas, badannya lusuh lagi. Tak seorangpun mendekatinya.”

“Maksud ibu?” saya sengaja meminta penjelasan.

“Ya saya tak ambil resikolah. Perkara nilai kan terserah dewan guru juga. Oh ya saya titip dibina saja oleh ibu, kan bu Etna dari dulu dekat sama anak.”

“Ya Insya Allah bu.”

Nah berarti aku lebih leluasa membina Gundi, alhamdulillah. Selesai piket, aku segera menyiapkan materi olimpiade. Tak terasa istirahat siang telah tiba. Rita, Dwi, dan Amir datang bersamaan. Setelah berbincang singkat, kuserahkan 2 flashdisk kepada mereka.

“Terima kasih Bu. Seperti biasa akan kami print out dan foto copy. Lusa di lab kimia ya Bu, sementara ada 14 siswa.”

“Excellent. OK thx, see you next and do the best, please.”

Mereka selalu mencium tangan pada awal dan akhir pertemuan. Di jalanpun ketika berpapasan ya selalu begitu, alhamdulillah. Tinggal Amir yang masih bersamaku. Kami berunding tentang perubahan Gundi dan ku minta padanya untuk menerima Gundi dengan baik. Amir sanggup dan katanya anak-anak salut atas upayaku. Mereka senang Gundi sudah berubah, badannya tak lusuh lagi, tubuhnya bersih, sudah mulai senyum dan mendekat ke bangku Amir dan sekitarnya. Alhamdulillah.

“Mir kau juga jemput bola ya, kasihan Gundi. Hargailah peningkatannya.”

“Iya Bu, terima kasih atas kepercayaan Ibu pada saya. Pamit dulu ya Bu.”

Begitulah kisah Gundi, teman-teman sekelasnya, dan Ibu Wali Kelasnya. Insya Allah semua lancar dan sukses. Gundi, Ibu nanti sore akan sms kalau kau belum laporan. Anakku sayang, kau termasuk hebat. Kerajinanmu sudah tampak meningkat. Ternyata kaupun merasa rugi selama ini. Sekarang kau mulai menyadari kesalahanmu dahulu hingga kau ketinggalan dalam banyak hal dibanding teman-teman seusiamu. Insya Allah tak ada aral melintang. Berdoa dan berjuanglah anakku, doa ibu selalu menyertaimu.

Part 3: Dia berupaya menjadi anak yang baik

Berikut ini lanjutan reportase pembinaan karakter khusus untuk anak yang semula super malas. Sudah 2 artikel yang ku publish, pertama kisah tentang Gundi yang super malas, dan di artikel kedua dia sudah mulai berubah, alhamdulillah. Hingga artikel ini ku publish, dia tampak berupaya menjadi anak yang baik. Terlihat bahwa dia mempunyai keinginan kuat untuk mengubah sikap. Pada awalnya dia merasa sangat sulit dan mengalami kegagalan yang berulang. Rasa malasnya sering muncul tanpa disadari.

Siang ini dia datang ke ruang guru untuk menceritakan keadaannya.  Alhamdulillah aku bisa lancar membina anak-anak di ruang guru, sebab tempatnya di ujung ruangan, sehingga tak terganggu dan tak mengganggu siapapun. Bicara kami juga cukup pelan, Insya Allah tak terdengar oleh yang lain. Sekarang penampilan Gundi sudah lebih baik. Rambutnya sudah rapi, baju dan seluruh penampilan dirinya tak seperti sebelumnya. Perubahannya cukup banyak, alhamdulillah. Gundi, ibu ingin sekali melayanimu secara total. Insya Allah kau benar-benar tersugesti oleh kesungguhan ibu dan tanggung jawab ibu yang besar kepadamu. Semoga Allah SWT mengirimkan engkau ke sini nak. Insya Allah motivasi internalmu bangkit.

“Ayo sayang, duduk sini. OK, ceritakan mengapa kau tampak sedih. Barangkali dengan berbagi, ibu dapat membantumu.”

“Iya Bu, maafkan saya. Sebenarnya sebagai laki-laki saya tak ingin menjadi cengeng Bu. Namun ibu tadi ternyata dapat membaca wajah saya, sekali lagi maaf ya Bu.”

“Sudahlah sayang, dari awal ibu sudah berniat untuk membantumu.”

“Bu, orang tua saya tuh sering bertengkar, hampir setiap hari, pagi siang sore malam, saya sedih memiliki orang tua seperti itu.”

“Lho katanya tidak mau cengeng, ayo teruskan ceritamu.”

Saya ambil beberapa lembar tissue dan saya berikan kepadanya.

“Saya anak kedua Bu, kakakku Giri tahun lalu sudah lulus dari SMA swasta terus bekerja. Dia ingin kuliah sore untuk menjadi guru, tetapi orang tua kami marah. Dia tidak boleh menjadi guru, katanya lebih baik berdagang. Sedangkan kami tak mempunyai modal. Kata bapak bisa meminjam uang di bank. Kami berdua bingung karena rumah kami itu juga rumah nenek, suratnya tidak ada, tidak bisa untuk jaminan.”

“Wah … kau ini juga memikirkan hal-hal seperti itukah? Sebaiknya tidak usah ikutan, biar kakakmu dengan orang tuamu, kau belajar saja. Kalau tentang orang tuamu yang suka marah, ya nanti ibu mencoba mencari cara bagaimana mengatasinya.”

“Ibu, tak mungkin Bu, orang tuaku mau bercerai, hik hik hik.”

“Lho laki-laki kok menangis, sudahlah sayang kau harus kuat, nilaimu jelek sekali, sekarang ingin rajin, eh … bisa-bisa kau stress berat karena bingung dan kecewa lho. Malasmu bisa kambuh lagi, terus bisa tidak naik kelas. Ayo ibu mendampingimu, tetapi jangan seperti ini. Laki-laki tidak boleh begitu.”

“Ibu, masih ada rahasia yang lebih penting lagi, ibu ada waktu?”

“Ya sayang, katakan sekarang.”

“Kami mau diusir sama nenek, karena orang tua bertengkar terus. Kami tidak tahu mau tinggal dimana, saya rasanya malas sekolah, semua kak Giri yang membiayai. Kasihan dia. Sejak masuk SMA saya sudah sangat malas, pelajarannya sulit-sulit, tidak ada buku yang dapat saya beli. Situasi di rumah panas, ayah juga kena PHK. Ibu sekarang berjualan, tetapi uangnya diambili ayah terus. Hik hik hik.”

“Sabar sayang, sudah jangan menangis, sementara ibu tak dapat membantu apa-apa, kau masuk kelas dulu, itu bel sudah berbunyi. Pesanku, keinginanmu mengubah sikap lanjutkan, jangan malas lagi, Insya Allah ibu terus membantumu.”

Dia berdiri, diciumnya tanganku dan berjalan menuju kelasnya. Aku termenung, pikiran ini berputar mencari jalan ke luar yang pantas dan sesuai untuk Gundi, namun tetap belum ku temukan. Ah tak ada yang sulit, aku harus bisa, bisa, Insya Allah bisa. Keluarga Gundi memiliki masalah yang tergolong rumit. Namun aku tak bisa meninggalkan Gundi tanpa solusi. Kakaknya Giri, juga kasihan. Kalau cerita Gundi apa adanya, maka kasihan juga ibunya. Mengapa ayahnya begitu? Mungkin karena tidak dapat membiayai kedua anaknya, si ayah itu malu. Kalau dia mau berjualan dengan istrinya, kan bisa dapat uang kontan terus. Ini mungkin menjadi pemicu si ayah di PHK, karena marah-marah terus, bagaimana dapat bekerja dengan baik? Apakah si ayah ini peminum ya? Kemungkinan begitu, karena suka mengambil uang dagangan istrinya. Kalau makanan kan sudah disiapkan si istri. Masalah Gundi kompleks sekali, namun aku tetap akan berupaya untuk membantunya.

To be continued

Part 2: Anak super malas itu mulai berubah

Gundi anak super malas yang telah ku publish, mulai ingin berubah. Alhamdulillah. Artikel ini sebagai lanjutan laporan pembinaanku terhadapnya. Walau tak mudah, Insya Allah tak sulit, itulah yang ku alami selama melayaninya. Gundi (nama samaran) akhirnya menyadari kekurangannya dan ingin mengubah sikap dari malas menjadi rajin. Artikel ini mengungkapkan langkah awal Gundi dalam mengubah karakter. Aku harus terus memotivasinya agar pembinaan karakter yang agak khusus ini tidak kandas di tengah jalan. Mungkin sulit bagi Gundi untuk mengubah diri sendiri tanpa perhatian dan bantuan orang lain.

Pagi ini saya berada di kelas Gundi pada jam pertama dan kedua. Doa awal telah berlangsung dan aku sudah mencatat kehadiran siswa. Ketika tanya jawab tentang prasyarat pengetahuan berlangsung, Gundi tampak serius. Wajah acuh yang selama ini terlihat sekali, sudah mulai hilang, alhamdulillah. Kalau beberapa tahap awal dapat dia lakukan dengan baik, Insya Allah dia akan berhasil melawan sisi negatif dalam dirinya yang selama ini menguasai perasaan dan pikirannya.

Alhamdulillah, kegiatan pembelajaran ini dapat berjalan lancar. Ku dekati Gundi ketika anak-anak berdiskusi dalam kelompok kecil. Buku tulisnya baru dan bersampul cokelat. Ada buku paket kimia dan dia sedang mengutip catatan di papan. Namun ada sesuatu yang berbeda, wajahnya tampak sedih. Mengapa dia sedih? Selama aku mengajar, tak pernah dia bersedih. Wah … aku harus membantunya sampai tuntas. Sedih juga merupakan faktor penghambat, bagaimana dia dapat belajar dengan baik kalau dia sering bersedih.

Sejak awal aku sudah mengira kalau ada sesuatu yang membuat dia tertekan, sehingga dia menjadi anak malas bahkan super malas. Sayang, ibu akan tetap melayanimu. Ibu akan berupaya membantumu, apakah sekedar motivasi atau lebih. Eh … ternyata bathin ini turut berbicara.

“Bagaimana khabarmu?”

“Ehm … baik Bu. Maaf Bu, saya sudah berusaha meninggalkan sifat malas jauh-jauh, tetapi masih sering gagal.”

“Sabarlah, sesuatu yang telah terbiasa memang sulit dibuang. Lakukanlah secara bertahap. Langkah awalmu, akan menentukan langkah berikutnya. Apa yang sudah kau lakukan selama 2 hari ini?”

“Saya mandi lebih bersih dari biasanya, mencuci rambut dan menyisir dengan rapi. Saya mulai sholat lagi. Pakaian kuseterika dahulu, kamar kubersihkan dan buku-buku kuatur. Saya membuat jadwal kegiatan dan berusaha mematuhinya, membeli beberapa buku tulis.”

“Bagus sekali. Langkah awalmu sudah baik. Selalu lakukan yang terbaik ya.”

“Bu ….”

“Ya sayang?”

“Tadi malam saya mendengarkan musik sambil tiduran, akhirnya tertidur hingga pagi. Hari ini ada 3 PR, kimia, fisika dan biologi. Biologinya tadi pagi sudah mengutip dari teman-teman. Tetapi kimia dan fisika belum mengerjakan Bu.”

“Sudahlah tidak apa-apa, asal kau terus berjuang ya.”

“Terima kasih Ibu tidak marah. Tetapi nanti saya kena marah lagi Bu, fisika jamnya setelah kimia.”

“Sayang, kau telah berusaha dan ibu menghargai usahamu. Tentang fisika, sudah tentu kau harus terima resikonya. Hadapilah, upayakan lebih sopan.”

“Bu saya minta ijin, bolehkah mengutip tugas fisika sebentar?”

“Menurut aturan, permintaanmu tidak dapat kuijinkan.”

Tadi Gundi sudah mulai tersenyum, garis-garis sedih di wajahnya tertutup oleh senyumnya. Namun sekarang wajah itu tampak aneh. Apakah dia merasa kecewa dengan jawaban tadi? Aku kan harus mendidiknya menjadi anak yang tahu aturan. Aku harus membantu dia menjadi pribadi yang baik, tak sekedar malas menjadi rajin. Insya Allah dia bisa menyadari bahwa semua sifat yang tak disukai Allah SWT harus dibuangnya jauh-jauh. Namun mengapa sekarang wajahnya berubah seperti itu?  Apa yang dia pikir dan rasakan?

“Gun, mengutip pekerjaan teman itu tidak benar. Kalau ditanya kaupun juga tidak mampu menjawabnya. Iya kan? Sebaiknya kau nanti menurutlah pada guru fisikamu, perhatikan dan ikuti dengan baik. Kalau kurang mengerti segera bertanya ke teman terdekatmu.”

Dia menatapku dan mata itu kembali tampak sedih, walau sekarang sudah tersenyum lagi.

“Terima kasih sarannya Bu, akan saya lakukan.”

“Sayang, kalau ibu boleh tahu, mengapa kau bersedih?”

“Bagaimana ibu tahu kalau saya sedih?”

“Wajahmu nak, ibu dapat membaca dari garis-garis di wajahmu.”

“Ceritanya panjang Bu, nanti saja saya ke ruang ibu, istirahat siang.”

“OK sayang, do the best and take care.”

“Thanks mom.”

Gundi sudah berusaha untuk menjadi anak rajin, walaupun usaha itu belum optimal. Mendengarkan musik sambil tiduran, itu yang dikatakan tadi. Sebenarya tak masalah, asalkan sudah mengerjakan semua tugas. Hal ini juga harus dibahas; tadi aku belum sempat menegurnya. Nanti istirahat siang dia mau ke ruang guru. Semoga langkah berikutnya ini dapat berhasil. Ku pikir kasihan juga anak ini. Tegakah aku membiarkan dan meninggalkannya? Ya tak mungkinlah, sesibuk apapun aku dalam menanganinya, tetap harus tuntas.

To be continued