Tag Archives: kerajinan

Part 5: Dia sekarang sudah rajin

Pembinaan terhadap Gundi yang awalnya super malas, masih terus kulakukan. Ku ingin Gundi menjadi contoh perjuangan seorang anak yang tadinya pemalas menjadi rajin. Bagaimanapun aku tak mungkin memaksakan kehendak untuk mengubah Gundi menjadi orang lain. Dia harus tetap sebagai dirinya. Untuk itu aku harus membangkitkan kesadaran dirinya bahwa selama ini dia salah melangkah. Pikiran dan perasaannya harus dikonflikkan, sehingga dia berpikir keras dan hati nuraninya turut berbicara. Aku tak hanya menggunakan Konflik Kognitif, namun juga Konflik Afektif. Melalui hipnotis halus (Hypno-heart dalam hypno-teaching), secara bertahap dengan kasih sayang, alhamdulillah akhirnya Gundi dapat tersugesti oleh layananku. Sebenarnya tak ada sesuatu yang sulit, walau menangani anak yang super malas sekalipun. Kuncinya adalah memberikan perhatian dan mendengarkan.

Sore ini aku harus sms Gundi. Ah … mungkin dia masih sibuk membantu ibunya. Sebaiknya setelah sholat Isya’ sajalah. Sebenarnya aku ingin mengetahui perkembangannya dan keluarganya. Amir tutor sebaya yang peduli pada Gundi ternyata sudah bergerak lebih dahulu sebelum ku minta. Dia memang anak hebat; semua teman suka padanya. Dia suka menolong, rajin, dan juga pandai. Walau peringkat 3, namun dia mampu menjelaskan dan bertanya balik kepada teman-temannya. Tak hanya kelasnya, kelas lainpun sering bertanya dan meminjam catatannya. Apa sekarang ku sms Amir ya? Ya, sebaiknya begitu.

“Amir, bagaimana perkembangan Gundi, teman-temanmu, juga guru yang mengajar kalian pada jam-jam setelah ibu?” terkirim, bagus. Beberapa menit kemudian ada sms masuk, eh … saya kira Amir, ternyata Gundi.

“Ass. Ibu, mulai hari ini saya membantu ibuku berjualan. Doakan laku banyak ya Bu. Tadi sepulang sekolah saya sudah belajar Fisika. Di sekolah Amir sudah menjelaskan. Tadi waktu pulang, kami semua bersalam-salaman. Saya menangis Bu dan teman-teman memaafkan saya. Wass.”

Ya Allah, airmata hamba menetes. Alhamdulillah, terima kasih Amir, Gundi, semuanya. Hasil awal sudah mulai tampak. Aku harus membalas smsnya.

“Alhamdulillah sayang. Membantu ibumu? Bagus sekali, namun atur waktumu dengan baik ya. Bawalah bukumu barangkali bisa belajar dan malam nanti kau harus mengerjakan PR. Selamat.”

Sebaiknya ku sms Amir saja. Dia sudah tak perlu membalas sms. Lho … sms dari Amir.

“Ass. Maaf terlambat balas. Tadi sip, lancar Bu, besok saya ke ruang ibu ya, pagi jam ke nol. Terima kasih. Wass.” hehehe singkat, padat, dan jelas. Thx anakku.

“Alhamdulillah, thx sayang.” balasku.

Pagi harinya aku sudah berada di sekolah sekitar jam 05.30. Sepintas ku lihat Amir sudah berada di Mushola. Musholanya dekat dengan ruang guru dan tempat mejaku juga dekat dengan pintu menuju Mushola. Baru selesai merapikan buku dan membuat teh hijau tanpa gula, Amir sudah mengucap salam dan duduk di samping meja. Kami berdiskusi tentang keadaan kelas. Sesuatu yang masih berat bagi Gundi adalah beberapa guru yang belum bisa menerima perubahan Gundi yang cepat itu. Wajarlah, perubahan sikap memang tak bisa cepat, perlu waktu. Gundi harus terus berupaya memacu dirinya untuk tidak kembali malas. Alhamdulillah, Amir dapat mewakiliku mengawasi perkembangan Gundi. Ada satu masalah lagi, yaitu Dono anak yang agak sok menurut mereka, tetap tak suka pada Gundi. Namun teman-teman Dono tak mau memihak Dono. Demikian penjelasan Amir.

“Ibu amat berterima kasih padamu sayang, bimbinglah Gundi. Insya Allah dia mampu bertahan dan terus berjuang melawan kemalasannya.”

“Iya Bu sama-sama. Saya senang mendapat tugas ini. Saya ke kelas dulu ya Bu.

“Iya silakan. Do the best.”

“Yes mom, Insya Allah.”

Hari ini aku tak ada jam di kelas Gundi, besok baru ada. Kegiatan hari ini lancar dan sebelum Maghrib aku sudah sampai di rumah. Tadi setelah istirahat siang, beberapa guru membicarakan Gundi, termasuk wali kelasnya.

“Saya tadi waktu mengajar di kelas Gundi, eh dia berubah lho. Ganteng, rapih, bersih, tidak seperti biasanya. Hehehe.”

“Ah tak mungkinlah. Anak lusuh seperti itu mana bisa berubah 360 derajad.”

“Besok Bapak mengajar kelas Gundi tho? Buktikan saja.”

“Iya benar, tadi saya masuk kelasnya dan dia mau lho piket menghapus papan.”

“Piket? Itu bukan bukti berubah.”

“Lho ketika tanya jawab, dia juga mengangkat tangan dan jawabannya benar.”

“Buktinya waktu bahasa Inggris dia tak memiliki catatan dan PRnya belum dikerjakan.”

“Bapak dan ibu-ibu, sebagai wali kelas saya melihat sendiri perubahannya. Ya namanya super malas menjadi rajin, tidak bisa secepat itu. Beberapa PR sudah dikerjakannya, belum semua.”

“Berarti dia tidak suka pelajaranku ya bu.”

“Buka begitu. Bertahap bu.”

“Ayo pulang, pulang. Besok lagi. Nanti anaknya tersandung batu lho, dibicarakan terus. Selamat bu, bina terus Gundi itu.”

“Ya kita semua donk, masak hanya wali kelas saja.”

Begitulah pembicaraan di ruang guru. Untung dalam Minggu ini pembinaan Gundi melalui sms. Namaku tak disebut, alhamdulillah. Tak mudah bagi Gundi dan aku harus mendampinginya terus. Alhamdulillah Amir dan hampir teman sekelas mendukung Gundi. Insya Allah Gundi berhasil melewati kerikil-kerikil yang mungkin tajam terasa dikakinya. Dia harus ku sms lagi nanti malam. Kasihan keadaan keluarganya masih seperti itu. Ekonomi juga tak memungkinkan bagi Gundi untuk membeli banyak buku. Insya Allah bisa, merambat namun pasti. Amin.

Iklan

I love teaching

Sejak kecil aku senang bermain sekolah-sekolahan dan aku menjadi guru. Kami benar-benar belajar lho, bahkan PR (pekerjaan rumah/home work) kami kerjakan bersama. Kami saat itu tak mengenal diskusi atau sejenisnya, namun ternyata itulah yang kami lakukan. Aku tertawa sendiri ketika teringat masa itu, hehehe.

Ketika duduk di bangku SMP bapak wafat dan aku bersama kedua kakak membantu ibu mencari sesuap nasi, agar ibu dan kami 8 bersaudara dapat hidup sehat dan kami dapat melanjutkan sekolah. Ketika itu, beberapa saat kami sekeluarga sempat tidak mampu membeli beras, apalagi daging. Alhamdulillah, ibu pandai memasak. Singkong sebagai pengganti nasi, ternyata hingga kini kami menyukainya.

Ibu menjual nasi bungkus dan kakak membantu beliau. Pendapatan ibu ditambah uang pensiun bapak, belum cukup untuk keperluan sekolah. Ketika itu aku berupaya mencari jalan keluar dan akhirnya aku memberi les privat anak-anak SD dan SMP. Aku dipanggil bu guru kecil. Panggilan ini membuatku makin senang menjadi guru, sehingga aku selalu berupaya agar murid-murid lesku sukses semua.

Suatu hari seorang ibu berkata kepadaku, bu guru kecil, kalau bu guru bisa membantu anakku hingga mendapat ranking kelas, paling tidak ranking 2 atau 3, maka akan kubayar banyak sekali. Ku anggukkan kepalaku dan sejak hari itu aku meningkatkan belajarku agar bisa mengajar lebih baik lagi.

Syukur alhamdulillah, muridku itu bisa peringkat 2 dan aku dibelikan sepeda engkol yang bagus serta uang yang banyak sekali. Ayah wafat dalam usia 43 tahun, ibu berusia 36 tahun. Aku meminta ibu untuk menolak semua orang yang melamar beliau, sebab penghasilan kami sudah cukup untuk hidup tenang, sehat dan semua bisa sekolah. Di saat terakhir, ibu tidak lagi berjualan nasi, namun menjadi guru bahasa Jawa, bahasa Belanda, dan Bahasa Inggris.

I love teaching. Aku sangat menyukai bahkan mencintai pekerjaanku sebagai guru. Ketika itu ibuku berpesan bahwa guru itu harus dapat digugu lan ditiru. Dianut dan diteladani. Kau senang mengajar, maka menjadilah guru untuk dirimu sendiri. Setelah itu keberhasilanmu yang membuat kau dapat dianut dan diteladani, tularkan ke murid-muridmu. Asuh mereka dengan hati, panjangkan nalarnya sedikit demi sedikit. Sabar dan telatenlah melakukan pekerjaan yang kaucintai ini.

Mengapa aku menyukai mengajar? Menurutku, teaching is the best job in the world, hehehe sungguh lho. A teacher never gets bored. Apakah karena aku suka sekali menjadi guru, bahkan sejak aku masih anak-anak, maka selama ini aku tak pernah merasa bosan? Mungkin iya, mungkin ada alasan yang lain. Apakah faktor keturunan? Karena bapak dan ibuku pernah menjadi guru? Hehehe, mungkin juga ya.

Ketika kita berpikir lebih dalam, faktor penyebabnya dapat berasal dari anak didik. Banyak hal yang menyenangkan di saat mendidik mereka. Maksudku bukan hanya disebabkan oleh berbedanya murid dari tahun ke tahun, namun sebenarnya juga disebabkan oleh keunikan murid yang terjadi setiap harinya. Hal ini amat berbeda dengan bekerja di kantor menghadapi komputer dan kertas.

Guru menghadapi murid dan membantu pengembangan nalar serta karakternya. Pekerjaan yang dilakukan oleh guru itu amat abstrak, Nothing is predictable, Nothing is ever the same. Tak ada yang dapat diprediksi, Tak ada yang pernah sama. Itulah tantangan yang sungguh amat indah dalam hidup ini, tantangan untuk beradaptasi. So, what it more important in my job is the ability to adapt, to improvise, to take quick decisions. Every minute in class is a challenge and this is really exciting. Allahu Akbar. Insya Allah aku masih dapat melakukannya sampai akhir hayat, sehingga dapat terus mendampingi bangsa yang setiap saat masih memerlukan kami, amin YRA.