Tag Archives: perjuangan

Part 7: Dia berjuang menghapus cap super malasnya

Gundi si anak malas itu ternyata masih terus berupaya untuk menjadi anak baik dan rajin. Namun tak mudah baginya utuk menghilangkan cap yang sudah terlanjur menempel. Dia sudah dikenal sebagai anak super malas. Beberapa guru masih tak percaya terhadap perjuangan Gundi. Beberapa teman Gundi juga mulai terhasut oleh Dono si ego itu.

Sambil mengoreksi pekerjaan siswa, saya terus mengamati Gundi yang sedang menghadap guru bahasa Inggris. Nah itu dia berdiri dan menerima buku tugasnya dari bu guru BIG (bahasa Inggris). Dia kelihatan mulai berjalan menuju pintu depan dan … oh gurunya juga mengikutinya dari belakang. Saya keluar untuk melihat tujuan mereka. Lega sekali saya, ketika mereka menuju kelas. Jadi jam 1 dan 2 bahasa Inggris. Segera saya sms Amir. Dia segera membalas, katanya jam 1 dan 2 bahasa Inggris dan baru saja bu BIG masuk kelas bersama Gundi. Hehehe dengan cepat saya sms lagi dia, bertanya apa yang mereka kerjakan selama menunggu. Amir membalas, diminta membuat dialog dengan topik anak malas. Hah? Berarti guru itu menyindir Gundi, kasihan anak itu.

Pada jam pelajaran ke 3 dan 4 saya mengajar di kelas sebelah kelas Gundi. Saya merasa rindu padanya. Ingin sekali saya menghiburnya, untuk tetap sabar menghadapi semua tantangan. Oleh sebab itu saya sengaja nyasar (salah kelas) agar dapat melihatnya, hehehe. Setelah saya memberi salam dan dijawab dengan lantang oleh siswa, saya masuk dan berdiri di salah satu bangku siswa agar bisa melihat Gundi. Sebelum berbicara, beberapa siswa mengingatkan saya. Alhamdulillah saya dapat melihat Gundi. Dia senyum dan menganggukkan kepala. Alhamdulillah, berarti pertemuannya dengan bu BIG beres. Mungkin dia bisa mengambil hati beliau. Insya Allah begitu.

“Ibuuu … salah masuk.”

“Ibu seharusnya di kelas sebelah.”

“Oh ya? I’m so sorry. Hehehe I’m growing older. OK see you next.”

“It’s OK mom. It doesn’s matter.”

“No mom, you still look young.”

“Really?”

Ha ha ha ha. Kami semua tertawa berbarengan. Lucu juga mereka. Selagi saya melangkah menuju pintu keluar, sempat terlihat 2 siswa yang duduk di bangku paing depan dan pojok dekat pintu berbisik-bisik. Entahlah apa karena saya terlalu peka atau keGRan, saya dekati mereka.

“Sayang, apa yang kalian bicarakan?”

“Tidak ada kok bu, tidak ada apa-apa.”

“Ehmm mungkin memang tak ada apa-apa, namun kau tahu bahwa ibu bisa menebak?”

“Iya bu, maaf. Saya bisikkan ke dia kalau sebenarnya ibu sengaja masuk kelas ini, untuk melihat Gundi.”

Kucubit pipi gadis manis itu sambil tersenyum.

“Kau tahu saja sayang, thx.”

“Maaf Ibupun selalu tahu. Sampai sepandai-pandai nyontek ibu juga tahu, hehehe telepati ya bu.”

Saya mengucapkan salam, kemudian dengan perlahan meninggalkan kelas sambil tersenyum bahagia. Ehmm apapun yang kita lakukan, walau diusahakan tak kentara, namun ada saja siswa yang peka. Hehehe mereka juga bisa membaca perilaku kita, bahkan mungkin mereka bisa lebih peka. Contohnya Amir – luar biasa, untuk hal-hal tertentu justru saya yang belajar dari dia. Subhanallah. Gadis manis tadi itu ibunya psikiater dan ayahnya dokter anak. Hehehe pantas deh, faktor gen. Kalau Amir rasanya memang asli kehebatan ibunya mendidik dia sejak janin. Dasar pendidikan agamanya juga amat bagus, perilakunya aduhai. Tentulah semua itu berasal dari rumah dan tak tergoyahkan oleh keadaan lingkungan di luar rumah.

Kelas yang berada di sebelah kelas Gundi ini sebenarnya tak ada anak yang malas. Namun tingkat berpikir mereka agak homogen, sehingga terasa lebih pasif. Semua kejadian yang perlu mendapat perhatian sudah saya catat di buku harian khusus, hanya saja tak mungkin diungkap di sini. Kali ini saya fokus pada pembinaan Gundi. Setelah pembelajaran jam ke 3 dan 4 ini selesai saya segera menuju ruang guru sebab ada pengumuman penting dari kepala sekolah. Nanti jam ke 5 dan 6 saya mengajar di kelas Gundi.

Kepala sekolah dan 4 waka sudah siap di ruang guru, namun guru yang sudah di tempat baru sekitar 30%. Sambil menunggu guru lain, saya minum teh hangat dan merapikan file pembelajaran.  Setelah kehadiran guru sekitar 80%, pengarahan di mulai. Waka kurikulum menagih perangkat mengajar dan mengingatkan untuk segera entry nilai harian dan tugas. Kepala sekolah menjelaskan tentang program adhiwiyata dan panitianya.  Bel masuk berbunyi dan waka humas menutup rapat singkat ini. Alhamdulillah lancar, pertanyaan hanya satu dan sumbang saran juga satu. Notulen tampak mencatat masukan dan proses rapat.

Ketika saya membuka HP ternyata Gundi sms minta maaf belum berberita sebab sibuk belajar dan membantu ibunya. Guru BIG sudah beres. Alhamdulillah. Saya bergegas menuju kelas Gundi. Di tengah jalan bertemu dengan guru BIG. Beliau titip pesan kalau nanti Gundi diminta ke ruang guru. Wao ada apa lagi ya. Ah sudahlah, suatu konsekuensi memang harus diterima. Insya Allah semua itu untuk kebaikan Gundi.

Di kelas Gundi tak banyak yang bisa saya ceritakan. Pada kegiatan inti para siswa mengerjakan soal di kelompok masing-masing. Setiap kelompok terdiri atas 4-5 siswa, seorang siswa menjadi leader dan seorang siswa lagi adalah tutor sebaya. Setelah itu wakil kelompok (bukan tutor dan bukan leader) menulis hasil diskusi di papan yang kemudian diplenokan. Gundi termasuk wakil yang harus menulis di papan. Alhamdulillah lancar dan keyakinannya membuat dia tampak makin mantap. Pembelajaran dirangkum melalui tanya jawab dan masing-masing kelompok mengumpulkan hasil kelompok dan dilampiri revisi hasil masukan.

Namun pada akhir pelajaran sesuatu terjadi. Dono si ego itu menjegal kaki Gundi ketika balik ke bangku sehabis menghapus papan. Gundi terjatuh dan ketika berdiri dia dipukul oleh Dono. Segera Amir dkk melerai mereka dan saya membawa mereka ke BP dengan melibatkan Humas Kesiswaan. Sayangnya, semua guru menyalahka Gundi sedang teman-temannya membenarkan Gundi. Besok akan diadakan sidang lanjutan dengan menghadirkan kedua orang tua/wali siswa. Ada-ada saja, kasihan Gundi. Insya Allah kerikil-kerikil itu tak tajam dan Gundi mampu  menghalaunya.

Iklan

Part 6: Perubahannya masih diragukan

Perjuangan Gundi untuk mengubah dirinya dari super malas menjadi rajin, baik  cara berpakaian, berbicara, keterlibatan dalam pembelajaran, kerajinan mengerjakan tugas, dan lainnya tidaklah mudah. Banyak hambatan yang harus dihadapinya, baik situasi rumah, teman sekelas, maupun guru. Itulah konsekuensi yang harus dihadapinya. Hanya menyesali kesalahan sebelumnya, tentu tak ada gunanya. Alhamdulillah kesadaran dirinya terus meningkat. Dia memang merasa menyesal telah banyak ketinggalan, namun dia terus berdoa dan berjuang. Sopan santunnya makin bagus, kerajinannya juga meningkat.

Ternyata jalan menuju kebaikan tak mudah seperti membalikkan tangan. Proses yang ditempuhnya tak semulus jalan aspal yang baru dipoles. Insya Allah Gundi mampu mengatasi rintangan demi rintangan, tetap berjuang demi masa depannya. Aku optimis melihat starting pointnya dan langkah awalnya. Semoga dia bisa, amin. Eh … HP-ku berbunyi, ada sms masuk. Amir … Insya Allah dia melaporkan perkembangan baik dari Gundi.

“Ibu maaf mengganggu. Saya besok mau menghadap, namun sebagian ingin saya infokan sekarang. Mohon doanya Bu, kasihan Gundi.”

Hah? Ada apa dengan dia? Wah aku tadi sudah berdebar juga, namun malam ini aku baru mau sms Gundi. Mengapa tadi siang aku tak segera bertanya ke Gundi atau Amir? Kepekaan ini tak boleh diabaikan, bisa berakibat pada Gundi. Aku sudah menunda sesuatu yang penting.

“Amir, ada apa dengannya?”

“Tadi guru bahasa Inggris marah ke kelas akibat Gundi, sehingga tak jadi mengajar. Gundi merasa bersalah dan pergi ke Musholah tak balik lagi. Dono menghasut teman-teman. Bu maaf pulsa tinggal sedikit.”

“Oh maaf sayang, smskan nomormu biar ibu isi. Masalah Gundi penting, kasihan dia. OK ibu sms Gundi saja, thx informasimu. Terus bimbing dia ya.”

“Maaf Bu tidak apa-apa, saya sudah siap membeli pulsa dan dananya sudah ada. Besok pagi saja saya menghadap. Wass.”

“OK sayang, terima kasih banyak. Sebenarnya ibu ada dana untuk pembinaan siswa yang ibu sisihkan dari uang les anak-anak, hehehe. Ya sudah besok pagi saja. Take care and do the best.”

Aku langsung sms Gundi, bermaksud untuk mengetahui keadaannya sekaligus jalan yang ditempuhnya untuk menghadapi besok. Sudah 1 jam dia belum juga membalas sms. Ya dia memang membantu ibunya berjualan, namun aku sudah minta dia untuk selalu membawa HP-nya. Pulsa juga sudah terisi cukup banyak. Mungkin dia belum siap menjawab. Aku hanya bisa berdoa untuknya. Mungkin dia sedang mengerjakan PR bahasa Inggris dan lainnya, atau mungkin dia sedang mengatur perasaannya. Insya Allah dia baik-baik saja. Aku benar-benar  memikirkannya. Tidur malam pun terbangun 3 x, akhirnya aku sholat kemudian membuka laptop dan mulai mengetik.

Sebelum jam 6 pagi aku sudah di sekolah, minum teh hijau hangat dan mendengarkan penjelasan Amir. Anak ini memang luar biasa, tanggung jawabnya besar. Sebenarnya tak mudah bagi anak seusia Amir mampu mengatur dan mengendalikan teman-temannya. Subhanallah, sungguh luar biasa dia. Terima kasih ya Allah.

“Dono memang keterlaluan Bu. Mungkin dia iri pada Gundi yang sekarang banyak mendapat perhatian dari teman-teman dan beberapa guru serta wali kelas. Apalagi teman-teman yang sering dia suruh-suruh dan menurut itu sekarang sudah meninggalkannya. Kasihan juga.”

“Amir, maksudmu kau kasihan pada Dono?”

“Ya Bu, kasihan. Dia belum menyadari kesalahannya. Saya membayangkan kalau dia begitu terus, dia bisa gagal dalam meraih cita-citanya.”

“Sayang, anak seperti itu mungkin tak punya cita-cita.”

“Ya tentu punyalah Bu, malah mungkin cita-citanya tinggi sekali tak mengukur keadaan dirinya. Dia tak merintis jalan untuk mencapainya.”

“Eh sayang, kita kok membicarakan Dono, hehehe. Terus langkah kita untuk Gundi bagaimana?”

Lho aku kan seharusnya mencatat keadaan Dono dan harus membantunya juga. Aku malahan tak ingin memikirkan Dono, hehehe tak adil donk. Amir ini hebat sekali, lebih adil, lebih perhatian terhadap temannya, alhamdulillah.

“Ya nanti Insya Allah saya bisa mendekatinya lagi Bu. Maaf bel kurang 10 menit saya harus membantu teman piket. Nanti siang dilanjut ya Bu.”

“Oh iya sayang, maafkan ibu. OK Good luck. Keep doing your best.”

“Thx mom, Insya Allah, I will.”

Ketika bel sudah berbunyi, ada sms masuk dari Amir yang mengabarkan bahwa Gundi belum hadir di kelas. Aku bergegas ke Mushola, eh … dia juga tak ada. Aku menuju ke depan, barangkali dia terlambat dan di hukum untuk membersihkan halaman atau apa. Tak ada juga. Berarti dia tak masuk sekolah. Sebaiknya ku sms saja. Setelah ku tunggu beberapa saat juga tak ada balasan. Kemudian aku menilpunnya, tak juga dibalas. Oh aku belum ke BK. Eh … tak ada. Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Berilah petunjuk.

Aku kembali ke ruang guru dan duduk. Lemas rasanya badan ini; pikiranpun tak tahu mau berpikir apa.  Gagalkah aku membinanya? Mengapa dia kemarin tak menghubungiku dan tak membalas sms maupun tilpun? Hah? Siapa di sana itu? Sepintas tampak seorang siswa sedang duduk menghadap salah seorang guru. Ya beliau guru bahasa Inggris. Anak itu Gundi ya dia Gundi. Ehmm … mungkin kemarin dia berusaha meyelesaikan PR itu sebab hari ini harus dikumpulkan. Dia menunduk dan guru itu mungkin mengoreksi pekerjaannya. Bagaimanapun saya lega, walau tak tahu proses yang sedang berlangsung di sana. Bukalah pintu hati guru tersebut ya Allah, agar perubahan Gundi yang dia lakukan bertahap ini mendapat peluang untuk terus maju. Kasihan Gundi, perubahannya masih diragukan oleh beberapa guru. Insya Allah hal ini menjadi pelajaran yang baik baginya, amin. Aku percaya bahwa Allah SWT memberikan ujian sesuai dengan kemampuan seseorang.

Mengapa kau mencintaiku? (Bagian 3)

Tahun keempat. Aku duduk di cafe yang biasa kami datangi. Ku minum jus kesukaanku dan kubeli minuman kesukaannya pula. Aku merenung membayangkannya. Terima kasih ya Allah, hamba dapat membayangkan sifat-sifat baiknya dengan jelas. Insya Allah hati kami masih tetap bersatu. HP ku bergetar … ada tilpun masuk.

“Ya benar, ini saya I’is yang bicara.” ucapku dengan penuh tanda tanya.

“Hah? Apa mbak? Agak keras sedikit ya, maaf suara mbak kurang jelas, nih agak putus-putus.”

“Yaya begitu sudah lebih jelas. Apa? Aku diminta ke rumah sakit? Rumah sakit mana? Sebentar jangan ditutup dulu, saya akan mengambil kertas untuk mencatat.”

Ku buka tasku, alhamdulillah ada kertas. Pensil … ehmm pensilku di mana ya? Oh ini.

“Mbak, maaf dektekan kembali, pelan-pelan ya. Sudah kucatat mbak, terima kasih. Ehmm apa mbak? Oh segera? Yaya mbak sekarang saya akan langsung menuju RS.”

Ku terima tilpun dari rumah sakit umum, katanya seorang pasien ingin bertemu denganku sebelum ajalnya tiba. Siapa dia? Aku tak berani berpikir yang bukan-bukan. Aku langsung naik taksi menuju rumah sakit.

Ya Allah, siapakah orang yang ingin bertemu dengan hamba tersebut? Hamba sadar selama ini hamba sedang menjalani ujianMu. Tak henti-hentinya hamba terus saja berharap agar Engkau dapat mempertemukan kami kembali yang selama 3 tahun ini telah terpisahkan oleh keadaan yang tak hamba mengerti. Hamba percaya kepadaMu ya Allah bahwa semua ini demi kebaikan kami. Alhamdulillah aku bisa tenang dan dapat bertahan selama 3 tahun terpisah darinya. Terngiang kembali lagu Koes Plus:

The time has come that we must be apart
The memory is still in my mind but you have gone
And you leave me alone.

Ehmm … however I can survive and I still survive, although we were seperated.

Hehehe, Survive … kan kata ini ada dalam lagu Bondan Prakoso: “I will survive.” Aku akan bertahan … ya aku harus dapat bertahan, walau apapun yang terjadi. Toh tak terpikirkan olehku untuk mencari gantinya. Ehmm … aku dapat merasakan bahwa saat-saat tertentu hati kita masih menyatu. Aku merasakan kehadiranmu. Ehmm … ku ingat kata-kata ibu: “Walau jauh di mata, namun dekat di hati.” Aku merasakan bahwa nun jauh di sana, kaupun sedang memikirkanku. Aku percaya bahwa kaupun berpikir kalau aku dapat bertahan dan selalu setia menunggumu, hingga … Allah SWT mempertemukan kita kembali, dalam keadaan apapun. Aku sudah amat bersyukur bahwa kita pernah berdua, menjalin persahabatan bagai kakak adik yang saling membantu dan mendukung. Sharing ideas and experiences, give and take, dan saling mengingatkan. Kau telah menuntunku untuk selalu mendekat padaNya, hingga sampai kinipun Al Qur’an darimu selalu berada dalam genggamanku, ke mana-mana ada bersamaku. Alhamdulillah, rasanya begitu indah walau hanya mengenangmu seperti ini.

***

Sampai di RS aku berjalan cepat berlari lambat agar segera sampai ke ruang yang dimaksud. Ruang 2o2. Oh lantai 2. Banyak sekali orang di situ, OK aku naik tangga saja. Bismillahirrohmanirrohim, ku ketuk pintu kamar nomor 202. Pintunya telah di buka, seseorang membukanya … suster. Aku tak terpikir untuk berterima kasih. Mataku menatap seorang pasien terbaring di tempat tidur itu. Siapa dia? Lelaki? Ya Allah, siapa dia? Kakiku seakan kaku, ya aku tak bisa menggerakkannya. Suster itu menuntunku, mendekat … makin dekat.

“Mas, benarkah yang terbaring dihadapanku ini kau?” ratapku.

Oh dia memang kekasihku. Dia menggangguk lemas dan aku … terjatuh pingsan.

To be continued –> Part 4.

Sepenggal Kisah Perjuangan Ibuku

Bulan Desember mengingatkanku pada kasih ibu yang tak pernah padam dan tak pernah putus, walau apapun yang terjadi. Ibuku, sosok perempuan yang selalu mengisi hidupnya untuk menyenangkan keluarga dan orang lain. Ibu berjuang tanpa mengenal lelah, senyumnya selalu menghiasi wajah. Begitu besar kasih sayangnya. Kesabarannya tiada tara; ketabahan menghadapi masalah tak tertandingkan; keuletan upayanya tak terbayangkan; kedisiplinannya membuat kami patuh; tutur katanya sangat menyejukkan hati. Rasa syukur dan keikhlasannya tak pernah sirna. Subhanallah.

Bapak bekerja di kantor Gubernur, ibu di rumah merawat dan mendidik kami bertujuh tanpa pembantu. Ibu mengandung adik yang nomor 8. Kami membagi tugas rumah sesuai pilihan. Ibu pandai membuat masakan bergizi dan mengatur menu hingga selera makan kami tak pernah hilang. Kami tak pernah sakit yang serius dan Ibu tak pernah menyiapkan obat. Kata beliau air adalah obat; buah sayur, protein nabati juga mengandung obat. Memasaknya harus sesuai dengan sifat bahan. Vitamin dan mineral sudah banyak dalam asupan tersebut, ibu tak perlu menyiapkan vitamin tablet atau lainnya. Subhanallah, terima kasih ya Allah.

Bapak selalu tampak segar dan suka humor. Sosialnya besar terhadap siapa saja. Beliau wafat di usia 43 tahun, akibat tekanan darah tinggi dan serangan jantung. Suatu ketika bapak mendapat tilpun dari seseorang, beliau terkejut dan pingsan. Selama 7 hari bapak di rumah sakit. Beliau tampak lemah, kemudian tak sadarkan diri. Sebelum pingsan beliau sempat menggenggam tangan ibu, menciumnya dan meminta maaf. Menurut berita terjadi ketegangan di kantor. Saat itu bapak menjabat kepala urusan perumahan. Bulan terakhir kudengar banyak terjadi kekacauan urusan kepemilikan tanah/rumah. Beliau tak pernah mau menerima pemberian/upeti. Ya Allah, terimalah arwahnya di sisiMu beserta amal ibadahnya dan ampuni semua dosanya, amin YRA.

Sepeninggal bapak, ibu yang mengandung 9 bulan mengurus segalanya sendiri. Kakak laki-laki SMA kelas II selalu menjaga kami. Kakak perempuan dan aku kelas II SMP bertugas mengurus rumah, memasak, merawat adik yang masih SD, TK dan satu lagi belum sekolah. Ibu berpesan bahwa kita harus mengencangkan ikat pinggang, tak ada lagi uang saku. Semua harus membawa bekal. Jajanan tidak boleh membeli, harus membuat sendiri. Semua kegiatan harus sesuai jadwal. Alhamdulillah, kebiasaan ini terbawa hingga anak cucu.

Suatu hari ibu mengumpulkan kami, kakak dan aku. Ibu menjelaskan bahwa diakhir hayatnya bapak tergoda oleh sekretarisnya. Semua gaji dan HR bapak sudah diambil. Perempuan itu sering mengajak bapak makan enak, hingga bapak terkena tekanan darah tinggi. Rumah Malang beserta surat-surat di meja diambil oleh kolonel Bambang S, yang kemudian mengalami kecelakaan, badannya hancur. Allah Maha Adil. Jangan marah, kecewa, atau sedih. Kita perjuangkan hidup ini dan pasrah kepada Allah SWT. Uang simpanan di Malang hilang. Beliau tak pernah menabung di bank. Perempuan itu datang dan meminta maaf, ibu memaafkannya. Kalian harus dewasa, lakukan yang terbaik, jangan nakal, malas, atau apapun yang tak disukai Allah SWT. Harus baik pada orang, namun tetap waspada. Bertemanlah dengan orang baik. Itulah nasehat ibu yang selalu kuingat. Ibu hebat sekali. Terima kasih ya Allah.

Semula Ibu dan kakak berjualan nasi, kemudian ibu bekerja di kantin. Sorenya ibu memberi les bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Aku memberi les seluruh pelajaran untuk SD/SMP. Kehidupan kami makin membaik. Agar kami bisa kuliah, ibu bekerja pada Kedutaan Besar Indonesia di Polandia selama 3 tahun. Istri duta besar, teman sekolah beliau. Ibu wafat di usia 72 tahun, karena kesalahan obat generik dari Puskesmas. Di akhir hayatnya ibu tersenyum bahagia. Beliau ikut merasakan kesuksesan putra-putrinya dan mendidik sebagian cucu hingga menjadi pemimpin yang dapat diteladani. Demikianlah perjuangan ibuku yang amat dahsyat. Semoga arwahnya diterima di sisi Allah SWT beserta amal ibadahnya dan diampuni dosa-dosanya, amin YRA. Insya Allah kami keluarga besar R. Soebiyakto alm. dapat terus mengikuti jejak beliau hingga perjuangan meningkatkan pendidikan bangsa Indonesia terwujud, amin YRA.

Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2013

Surabaya, 04 Desember 2013

I love teaching

Sejak kecil aku senang bermain sekolah-sekolahan dan aku menjadi guru. Kami benar-benar belajar lho, bahkan PR (pekerjaan rumah/home work) kami kerjakan bersama. Kami saat itu tak mengenal diskusi atau sejenisnya, namun ternyata itulah yang kami lakukan. Aku tertawa sendiri ketika teringat masa itu, hehehe.

Ketika duduk di bangku SMP bapak wafat dan aku bersama kedua kakak membantu ibu mencari sesuap nasi, agar ibu dan kami 8 bersaudara dapat hidup sehat dan kami dapat melanjutkan sekolah. Ketika itu, beberapa saat kami sekeluarga sempat tidak mampu membeli beras, apalagi daging. Alhamdulillah, ibu pandai memasak. Singkong sebagai pengganti nasi, ternyata hingga kini kami menyukainya.

Ibu menjual nasi bungkus dan kakak membantu beliau. Pendapatan ibu ditambah uang pensiun bapak, belum cukup untuk keperluan sekolah. Ketika itu aku berupaya mencari jalan keluar dan akhirnya aku memberi les privat anak-anak SD dan SMP. Aku dipanggil bu guru kecil. Panggilan ini membuatku makin senang menjadi guru, sehingga aku selalu berupaya agar murid-murid lesku sukses semua.

Suatu hari seorang ibu berkata kepadaku, bu guru kecil, kalau bu guru bisa membantu anakku hingga mendapat ranking kelas, paling tidak ranking 2 atau 3, maka akan kubayar banyak sekali. Ku anggukkan kepalaku dan sejak hari itu aku meningkatkan belajarku agar bisa mengajar lebih baik lagi.

Syukur alhamdulillah, muridku itu bisa peringkat 2 dan aku dibelikan sepeda engkol yang bagus serta uang yang banyak sekali. Ayah wafat dalam usia 43 tahun, ibu berusia 36 tahun. Aku meminta ibu untuk menolak semua orang yang melamar beliau, sebab penghasilan kami sudah cukup untuk hidup tenang, sehat dan semua bisa sekolah. Di saat terakhir, ibu tidak lagi berjualan nasi, namun menjadi guru bahasa Jawa, bahasa Belanda, dan Bahasa Inggris.

I love teaching. Aku sangat menyukai bahkan mencintai pekerjaanku sebagai guru. Ketika itu ibuku berpesan bahwa guru itu harus dapat digugu lan ditiru. Dianut dan diteladani. Kau senang mengajar, maka menjadilah guru untuk dirimu sendiri. Setelah itu keberhasilanmu yang membuat kau dapat dianut dan diteladani, tularkan ke murid-muridmu. Asuh mereka dengan hati, panjangkan nalarnya sedikit demi sedikit. Sabar dan telatenlah melakukan pekerjaan yang kaucintai ini.

Mengapa aku menyukai mengajar? Menurutku, teaching is the best job in the world, hehehe sungguh lho. A teacher never gets bored. Apakah karena aku suka sekali menjadi guru, bahkan sejak aku masih anak-anak, maka selama ini aku tak pernah merasa bosan? Mungkin iya, mungkin ada alasan yang lain. Apakah faktor keturunan? Karena bapak dan ibuku pernah menjadi guru? Hehehe, mungkin juga ya.

Ketika kita berpikir lebih dalam, faktor penyebabnya dapat berasal dari anak didik. Banyak hal yang menyenangkan di saat mendidik mereka. Maksudku bukan hanya disebabkan oleh berbedanya murid dari tahun ke tahun, namun sebenarnya juga disebabkan oleh keunikan murid yang terjadi setiap harinya. Hal ini amat berbeda dengan bekerja di kantor menghadapi komputer dan kertas.

Guru menghadapi murid dan membantu pengembangan nalar serta karakternya. Pekerjaan yang dilakukan oleh guru itu amat abstrak, Nothing is predictable, Nothing is ever the same. Tak ada yang dapat diprediksi, Tak ada yang pernah sama. Itulah tantangan yang sungguh amat indah dalam hidup ini, tantangan untuk beradaptasi. So, what it more important in my job is the ability to adapt, to improvise, to take quick decisions. Every minute in class is a challenge and this is really exciting. Allahu Akbar. Insya Allah aku masih dapat melakukannya sampai akhir hayat, sehingga dapat terus mendampingi bangsa yang setiap saat masih memerlukan kami, amin YRA.