Tag Archives: diskusi kelas

Part 7: Dia berjuang menghapus cap super malasnya

Gundi si anak malas itu ternyata masih terus berupaya untuk menjadi anak baik dan rajin. Namun tak mudah baginya utuk menghilangkan cap yang sudah terlanjur menempel. Dia sudah dikenal sebagai anak super malas. Beberapa guru masih tak percaya terhadap perjuangan Gundi. Beberapa teman Gundi juga mulai terhasut oleh Dono si ego itu.

Sambil mengoreksi pekerjaan siswa, saya terus mengamati Gundi yang sedang menghadap guru bahasa Inggris. Nah itu dia berdiri dan menerima buku tugasnya dari bu guru BIG (bahasa Inggris). Dia kelihatan mulai berjalan menuju pintu depan dan … oh gurunya juga mengikutinya dari belakang. Saya keluar untuk melihat tujuan mereka. Lega sekali saya, ketika mereka menuju kelas. Jadi jam 1 dan 2 bahasa Inggris. Segera saya sms Amir. Dia segera membalas, katanya jam 1 dan 2 bahasa Inggris dan baru saja bu BIG masuk kelas bersama Gundi. Hehehe dengan cepat saya sms lagi dia, bertanya apa yang mereka kerjakan selama menunggu. Amir membalas, diminta membuat dialog dengan topik anak malas. Hah? Berarti guru itu menyindir Gundi, kasihan anak itu.

Pada jam pelajaran ke 3 dan 4 saya mengajar di kelas sebelah kelas Gundi. Saya merasa rindu padanya. Ingin sekali saya menghiburnya, untuk tetap sabar menghadapi semua tantangan. Oleh sebab itu saya sengaja nyasar (salah kelas) agar dapat melihatnya, hehehe. Setelah saya memberi salam dan dijawab dengan lantang oleh siswa, saya masuk dan berdiri di salah satu bangku siswa agar bisa melihat Gundi. Sebelum berbicara, beberapa siswa mengingatkan saya. Alhamdulillah saya dapat melihat Gundi. Dia senyum dan menganggukkan kepala. Alhamdulillah, berarti pertemuannya dengan bu BIG beres. Mungkin dia bisa mengambil hati beliau. Insya Allah begitu.

“Ibuuu … salah masuk.”

“Ibu seharusnya di kelas sebelah.”

“Oh ya? I’m so sorry. Hehehe I’m growing older. OK see you next.”

“It’s OK mom. It doesn’s matter.”

“No mom, you still look young.”

“Really?”

Ha ha ha ha. Kami semua tertawa berbarengan. Lucu juga mereka. Selagi saya melangkah menuju pintu keluar, sempat terlihat 2 siswa yang duduk di bangku paing depan dan pojok dekat pintu berbisik-bisik. Entahlah apa karena saya terlalu peka atau keGRan, saya dekati mereka.

“Sayang, apa yang kalian bicarakan?”

“Tidak ada kok bu, tidak ada apa-apa.”

“Ehmm mungkin memang tak ada apa-apa, namun kau tahu bahwa ibu bisa menebak?”

“Iya bu, maaf. Saya bisikkan ke dia kalau sebenarnya ibu sengaja masuk kelas ini, untuk melihat Gundi.”

Kucubit pipi gadis manis itu sambil tersenyum.

“Kau tahu saja sayang, thx.”

“Maaf Ibupun selalu tahu. Sampai sepandai-pandai nyontek ibu juga tahu, hehehe telepati ya bu.”

Saya mengucapkan salam, kemudian dengan perlahan meninggalkan kelas sambil tersenyum bahagia. Ehmm apapun yang kita lakukan, walau diusahakan tak kentara, namun ada saja siswa yang peka. Hehehe mereka juga bisa membaca perilaku kita, bahkan mungkin mereka bisa lebih peka. Contohnya Amir – luar biasa, untuk hal-hal tertentu justru saya yang belajar dari dia. Subhanallah. Gadis manis tadi itu ibunya psikiater dan ayahnya dokter anak. Hehehe pantas deh, faktor gen. Kalau Amir rasanya memang asli kehebatan ibunya mendidik dia sejak janin. Dasar pendidikan agamanya juga amat bagus, perilakunya aduhai. Tentulah semua itu berasal dari rumah dan tak tergoyahkan oleh keadaan lingkungan di luar rumah.

Kelas yang berada di sebelah kelas Gundi ini sebenarnya tak ada anak yang malas. Namun tingkat berpikir mereka agak homogen, sehingga terasa lebih pasif. Semua kejadian yang perlu mendapat perhatian sudah saya catat di buku harian khusus, hanya saja tak mungkin diungkap di sini. Kali ini saya fokus pada pembinaan Gundi. Setelah pembelajaran jam ke 3 dan 4 ini selesai saya segera menuju ruang guru sebab ada pengumuman penting dari kepala sekolah. Nanti jam ke 5 dan 6 saya mengajar di kelas Gundi.

Kepala sekolah dan 4 waka sudah siap di ruang guru, namun guru yang sudah di tempat baru sekitar 30%. Sambil menunggu guru lain, saya minum teh hangat dan merapikan file pembelajaran.  Setelah kehadiran guru sekitar 80%, pengarahan di mulai. Waka kurikulum menagih perangkat mengajar dan mengingatkan untuk segera entry nilai harian dan tugas. Kepala sekolah menjelaskan tentang program adhiwiyata dan panitianya.  Bel masuk berbunyi dan waka humas menutup rapat singkat ini. Alhamdulillah lancar, pertanyaan hanya satu dan sumbang saran juga satu. Notulen tampak mencatat masukan dan proses rapat.

Ketika saya membuka HP ternyata Gundi sms minta maaf belum berberita sebab sibuk belajar dan membantu ibunya. Guru BIG sudah beres. Alhamdulillah. Saya bergegas menuju kelas Gundi. Di tengah jalan bertemu dengan guru BIG. Beliau titip pesan kalau nanti Gundi diminta ke ruang guru. Wao ada apa lagi ya. Ah sudahlah, suatu konsekuensi memang harus diterima. Insya Allah semua itu untuk kebaikan Gundi.

Di kelas Gundi tak banyak yang bisa saya ceritakan. Pada kegiatan inti para siswa mengerjakan soal di kelompok masing-masing. Setiap kelompok terdiri atas 4-5 siswa, seorang siswa menjadi leader dan seorang siswa lagi adalah tutor sebaya. Setelah itu wakil kelompok (bukan tutor dan bukan leader) menulis hasil diskusi di papan yang kemudian diplenokan. Gundi termasuk wakil yang harus menulis di papan. Alhamdulillah lancar dan keyakinannya membuat dia tampak makin mantap. Pembelajaran dirangkum melalui tanya jawab dan masing-masing kelompok mengumpulkan hasil kelompok dan dilampiri revisi hasil masukan.

Namun pada akhir pelajaran sesuatu terjadi. Dono si ego itu menjegal kaki Gundi ketika balik ke bangku sehabis menghapus papan. Gundi terjatuh dan ketika berdiri dia dipukul oleh Dono. Segera Amir dkk melerai mereka dan saya membawa mereka ke BP dengan melibatkan Humas Kesiswaan. Sayangnya, semua guru menyalahka Gundi sedang teman-temannya membenarkan Gundi. Besok akan diadakan sidang lanjutan dengan menghadirkan kedua orang tua/wali siswa. Ada-ada saja, kasihan Gundi. Insya Allah kerikil-kerikil itu tak tajam dan Gundi mampu  menghalaunya.

Iklan

Apa keistimewaan dari warna hijau?

Dari hasil diskusi dengan siswa tentang ‘Warna Hijau’ yang sudah ku posting terdahulu, dapat disimpulkan bahwa siswa telah memahami dan menyadari pentingnya warna hijau dalam kehidupan. Diskusi berikut ini mengacu pada keistimewaan warna hijau.

“Ibu, apakah tugas tentang bahasan keistimewaan warna hijau ini kami diskusikan dahulu dalam kelompok? Biar kami mempunyai kesempatan untuk menyatukan pendapat Bu.”

“Oh ya sayang, silakan. Ibu senang sekali kalian dapat berinisiatif untuk menyatukan pendapat. Itu bagus, apapun yang perlu didiskusikan, diskusikan dahulu dalam kelompok kecil, sehingga dalam diskusi klasikal, pendapat-pendapat kalian lebih mudah disatukan dan wawasan kalian tentunya lebih luas, penalaran lebih mantap. Insya Allah belajar kailian tentang sesuatu dapat tuntas, tas, tas, he he he.”

“Hahaha … iya Bu, iya, Insya Allah. Terima kasih.”

Senang sekali melihat dan mendengar anak-anak antusias dalam belajar, walau pada awalnya belum seperti ini. Dengan kesabaran ternyata kita dapat melayani mereka membiasakan berlatih nalar, mengeluarkan pendapat, bertukar pikiran, dan meningkatkan cara-cara baik dalam berdiskusi.

“Ibu tampaknya banyak kelompok yang sudah siap dengan simpulannya.”

“Oh ya, ayo anak-anak kita diskusikan bersama hasil kelompok kalian. Silakan.”

“Menurut pendapat kelompok kami, warna hijau memang istimewa dalam kehidupan kita. Mulai dari dedaunan yang dapat mengurangi panasnya bumi, menyembuhkan stress, dan penggunaan warna hijau diantaranya untuk trafic light.”

“Bagus sayang, silakan kelompok lain.”

“Ya benar, Allah SWT menyukai warna hijau. Buktinya daun-daun itu umumnya berwarna hijau yang dapat mengatasi polusi lingkungan hidup, jiwa dan raga kita.”

“Benar, ayo kelompok lain.”

“Hal-hal yang memperlancar hidup kita sering disimbulkan dengan warna hijau. Contohnya traffic light, hijau berarti jalan terus. Mata hijau karena melihat uang banyak yang akan memperlancar hidup kita. Hehehe.”

Hua ha ha ha. Para siswa tertawa mendengar temannya mengatakan mata hijau. Aku pun tak tahan menahan tawa. Tampak ada wakil kelompok lain yang kemudian mengangkat tangan dan berdiri.

“Ibu, Allah SWT dan Rosulullah SAW gemar terhadap warna hijau. Di dalam ayat-ayat Al-Qur’an telah dituliskan tentang warna hijau yang membuat orang menjadi nyaman.”

“Ya sayang, kau benar. Makanya kita harus menyadari bahwa kita sesungguhnya menyukai warna hijau yang menjadi kegemaran Allah SWT yang menciptakan warna hijau itu dan juga hijau inipun merupakan kegemaran Rosulullah SAW. Alhamdulillah, marilah hal ini kita sosialisasikan baik pada lingkungan terdekat maupun masyarakat luas. Terima kasih atas semua masukannya.”

Para siswa perlu sekali diajak untuk menyadari kebesaran Allah SWT dalam pembelajaran apapun. Pembentukan karakter bangsa harus selalu disisipkan diantara pembahasan konsep yang aplikatif. Sungguh, pembelajaran akan hidup dan sangat menyenangkan. Dengan begitu, kita telah mengaplikasikan IMTAQ dan CTL dalam pembelajaran. Baik kurikulum lama mapupun baru kedua hal ini tak akan ditinggalkan, bahkan ketika saya sekolah dahulu, guru juga sudah melaksanakannya. UP TO DATE lah. Okay Guraru, Insya Allah bermanfaat.

Ada apa dengan warna hijau?

Di suatu hari, aku mengajak para siswa untuk mendiskusikan warna hijau. Mulanya, hal ini tercetus dari pembahasan tentang penghijauan dengan penanaman sejuta pohon untuk mengatasi polusi udara.

“Anak-anak, sebelum melanjutkan diskusi tentang penghijauan, ibu ingin bertanya mengenai warna hijau. Mengapa Allah SWT menciptakan daun yang umumnya berwarna hijau?”

“Karena hijau itu menyejukkan Bu.”

“Semuanya tolong renungkan kembali, benarkah ketika kita melihat daun-daun yang berwarna hijau itu, kita merasakan sejuk?”

Mereka tampak mengangguk-angguk, sebagian berpikir dan berdiskusi. Dari wajah mereka tampak adanya kegembiraan dalam belajar. Ada yang berbicara sambil senyum. Giat sekali mereka berdiskusi, bahkan ada pula yang berdebat. Belajar apapun tidak mungkin terlalu teoritis. Guru harus selalu mengkaitkan teori abstrak dengan kehidupan, bahkan dalam mengajar dianjurkan memulai sesuatu dari hal yang nyata, konkrit dan secara bertahap menuju teori yang abstrak. Hal ini akan memotivasi siswa untuk menggerakkan nalarnya dengan lebih mudah, karena mereka merasa mengerti.

“Ibu bolehkah saya mengutarakan pendapat kelompok?”

Hah? Terbangun aku dari lamunanku.

“Ya ya sayang, silahkan.”

“Kelompok kami merasakan bahwa setiap memandang daun-daun yang hijau, kami merasa tenang. Yang semula ada rasa galau, eh … rasa itu berangsur-angsur hilang. Seakan ada gelombang yang menyusup masuk hingga rasa sejuk itu datang dan kami menjadi tenang kembali.”

“Iya Bu, diskusi di kelompok kami juga seperti itu. Maka disarankan kepada siapa saja ketika galau sebaiknya memandang daun-daun yang hijau.”

“Ya sayang, Allahu Akbar, Allah Maha Besar.”

“Alhamdulillah Bu, Allah SWT selalu melindungi kita.”

“Amin, Ya Robbal Alamin. Nah anak-anak, pertanyaan ibu berikutnya adalah mengapa warna hijau yang terpilih sebagai penyejuk dan penenang pikiran dan perasaan kita?”

Para siswa membahas pertanyaanku dalam kelompoknya masing-masing. Aku berkeliling mengamati jalannya diskusi. Mereka masih antusias untuk menjawab pertanyaanku. Semoga pertanyaanku tak terlalu sulit bagi mereka. Di suatu kelompok, ada yang bertanya.

“Bu, bolehkah kami menjelaskannya dengan konsep fisika?”

Aku tak menjawab, hanya mengangguk-anggukkan kepala sampil mengacungkan jempol. Mereka senang sekali dan melanjutkan pembahasannya. Beberapa saat kemudian ada yang sudah mengangkat tangan.

“Anak-anak kita bicarakan bersama hasil diskusi kelompok kalian. Ya silakan kelompok C berbicara.”

Di bangku mereka sudah diletakkan nama kelompoknya. Ada kelompok, A, B, dan seterusnya hingga H.

“Sejuk dan tenang yang kita rasakan disebabkan oleh pantulan cahaya dari warna hijau yang masuk ke kita melalui mata.”

“Bagus sayang, jadi pembahasan ini menyangkut fisika ya. Ilmu kimia kan bagian dari sain, termasuk fisika. Berarti kita sedang berfikir tentang kimia fisika. Siapa ingin menambahkan penjelasan ini?”

“Saya menyambung penjelasan kelompok C Bu. Retina mata menangkap cahaya dengan panjang gelombang tertentu, hingga getaran syaraf itu sampai ke otak. Makanya kita menjadi tenang.”

“Baik, namun mengapa kita berangsur-angsur menjadi tenang?”

“Ketenangan itu menunjukkan bahwa panjang gelombang yang dipantulkan oleh warna hijau sesuai dengan panjang gelombang syaraf otak kita yang jatuh pada zona ketenangan.”

“Kalian hebat, ibu bangga kepada kalian yang mampu menerapkan pengetahuan fisika ke dalam kimia dalam membahas masalah kehidupan. Ibu ingin kalian selalu bersikap seperti ini dalam belajar sain. Bring together all theories that you have learnt into the manner. So you can develop your cognitive gradually step by step. I love you full.”

“Yes mom, we’ll do the best. Thank you verry much, hehehe.”

Begitulah secuil cuplikan diskusi tentang seputar warna hijau. Mereka makin senang belajar kimia. Aku teringat murid jadul yang mengatakan bahwa ku harus mempertahankan cara mengajar kimia melalui CTL, humor, bertema dan integratif, antar sain, lingkungan hidup, dan tak meninggalkan IMTAQ. Terima kasih murid jadul, ibu selalu teringat pada kalian, salam perjuangan dan sukses selalu. Marilah kita kemas pembelajaran menjadi indah, seindah segala sesuatu yang telah Allah SWT titipkan kepada kita para guru. Insya Allah kita bisa. Amin.

Part 1: Bagaimana cara menangani anak super malas?

Saat membuka catatan harian, aku terhenti pada tulisan tentang ‘Anak Super Malas. Aku teringat pada anak didikku yang sangat malas dan hampir membuat aku kehilangan kesabaran. Ketika pembelajaran kimia berlangsung dan anak-anak sedang mengerjakan soal di bangku masing-masing, ku datangi dia. Namanya Gundi (nama samaran), pakaiannya lusuh, rambut tak terawat, bajunya sering dikeluarkan, tidak memakai kaos kaki, sepatu diinjak, dan kakinya diseret kalau berjalan.

images (12)

“Gun, mana pekerjaanmu?”

“Belum Bu.”

“Mana bukumu, ibu ingin melihatnya.”

“Saya belum mengerjakan, apa yang mau ibu lihat?”

“Kemarikan buku tugasmu itu, ibu mau melihat catatanmu sebelumnya.”

“Belum Bu.’

“Buku yang kau pegang itu berikan ibu.”

Dengan malas dan wajah cemberut Gundi memberikan bukunya. Sampulnya lusuh tanpa nama. Halaman pertama Fisika, halaman berikutnya Kimia. Diket.: …. Ditanya: …. Jawab: Kosong. Catatannya amburadul sekali. Halaman berikutnya Fisika lagi. Ya ampun, sabar … sabar, aku harus sabar.

“Dimana buku catatan kimiamu?”

“Ya yang ibu pegang itu, masih campur dengan Fisika.”

Aku  bingung harus bagaimana. Ehmm … semua guru mengatakan bahwa anak ini sulit sekali dibina. Sudah hampir satu semester belajar di kelas X namun catatan saja seperti itu. Dari 3 kelas yang ku bina, dialah yang paling menjengkelkan. Aku belum menemukan titik terang untuk membuatnya sadar. Ku pandang wajahnya, dia segera menunduk. Kalau aku bicara lagi, tentu akan emosi. Ya …  sudahlah mendingan biar saja untuk sementara. Akhirnya aku melangkah pergi dan melihat kelompok lain. Hampir semua siswa bekerja dengan baik, saling menjelaskan, pekerjaannya tampak rapi dan sistematis. Ya ada sih beberapa siswa yang lambat bekerja dan selalu dibantu teman. Namun siswa yang satu ini sungguh berbeda. Apa yang harus hamba lakukan ya Allah?

Dua hari setelah kejadian itu, aku masuk lagi ke kelas Gundi. Pada waktu berdoa, ku lirik dia, ya ampun … dia memegang HP seperti sedang sms. Ehmm … aku melanjutkan berdoa. Setelah selesai doa, saya mengoreksi PR siswa dan membahas dua soal yang sulit. Gundi tampak acuh sekali. Sementara saya tak memperhatikannya dulu, sebab harus segera masuk ke kegiatan inti. Alhasil proses pembelajaran ini lancar. Diskusi kelompok dan diskusi kelas telah selesai. Selagi siswa mencatat pembahasan dari papan tulis, ku dekati Gundi.

“Mana buku pekerjaanmu?”

“Ini Bu.”

“Kau mengerjakan sendiri?”

“Tidak Bu, nyontoh anak-anak.”

“Sudah kau pelajari?”

“Sudah Bu, sambil menulis tadi.”

“Apakah kau sudah mengerti?”

“Mungkin.”

“OK silakan kerjakan di papan. Ingat bahwa siapapun yang bersedia mengerjakan soal di papan, berarti bisa. Kalau belum paham benar, sebaiknya belajar dulu sampai paham.”

“Ya.”

Namun dengan malas dia berdiri dan berjalan menuju papan tulis.

“Berhenti dahulu. Masukkan bajumu, kaki jangan diseret dan betulkan sepatumu. Mulai sekarang sepatu itu jangan diinjak lagi.”

Setelah baju dimasukkan, eh … dia berjalan dengan langkah tegap menuju papan. Berjalannya aneh dan lucu,  setiap melangkah kakinya diangkatnya tinggi-tinggi. Teman-temannya tak ada yang tertawa, sebab semua anak tak menyukainya. Sampai di papan Gundi terus menulis.

“Stop, letakkan bukumu di meja ibu dan lanjutkan lagi. Ingat peraturannya.”

Diketahui dan ditanyakan sudah ditulis, maka jawaban harus dapat dikerjakan tanpa melihat buku. Gundi terdiam sesaat, kemudian ditulisnya suatu rumus dan dihapus kembali. Dia mulai tampak resah dan malu. Tak lama dia mengambil bukunya dan duduk.

“Mengapa tak jadi kau jawab soalnya?”

“Tidak bisa Bu.”

Apa yang harus ku lakukan? Inilah sebenar-benarnya tantangan bagi guru. Insya Allah aku bisa, ya harus bisa membina karakternya. Malas adalah salah satu karakter yang harus dirubah. Kalau hal ini terbawa sampai tua, tentulah dia akan kecewa di belakang hari. Malasnya Gundi ini tergolong parah; bayangkan … berpakaian rapi saja malas. Pakai sepatu dengan benar, malas. Eh berjalan juga malas, seperti ingin terbang saja. Allah SWT sudah memberi kita kaki untuk berjalan, eh … dia malas menggunakan kakinya dengan baik. Malasnya bukan main, rambutpun seperti tidak pernah disisir. Astaqfirullah.

“Mengapa kau tadi maju ke papan kalau tak bisa?”

“Tadi saya merasa bisa.”

“Ehm … apa?”

“Saya sudah berusaha lho bu.”

“OK. Apa yang akan kau lakukan nanti?”

“Saya masih pusing Bu, malu selalu tidak bisa.”

“Malu? Baguslah kalau kau merasa malu. Kau sudah mulai menyadari kekuranganmu. Sebenarnya tidak ada sesuatu yang sulit, asalkan kau mau menyadari bahwa malas itu sangat menghambat kemajuanmu. Ibu mau bertanya, akibat dari malasmu itu apa?”

“Banyak Bu, hampir semua tugas tidak kukerjakan. Sampai cara berpakaian, cara berjalan dll juga menunjukkan bahwa saya malas. Saya malu sekali Bu, semoga mulai detik ini saya dapat berubah. Ibu benar, makin lama teman-teman makin acuh karena saya juga acuh pada diri sendiri.”

“Kuncinya ada pada diri sendiri sayang, ibu merasa gembira kau dapat menyadari hal itu. Tentu saja kau menjadi malu sekali. Coba lihat seluruh penampilanmu, sebenarnya sudah lama ibu berpikir, mengapa kau bisa seperti ini? Kau sungguh anak yang malas. Mulai detik ini ubahlah sikapmu nak, perjuangkan hidupmu, lakukan yang terbaik untuk masa depanmu. Ibu setuju sekali, lakukan sekarang juga, jangan ditunda dan senyumlah sayang.”

Dia memaksakan dirinya untuk tersenyum. Seperti ada sesuatu dalam hidupnya yang membuatnya malas. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi. Lusa aku harus menemuinya lagi dan harus rutin membinanya. Titik terang sudah mulai terlihat, aku tak boleh menyia-nyiakan hal ini.

To be continued.

Belajar untuk mengajar

Sudah puluhan tahun aku mengajar, namun ada saja siswa yang sulit memahami konsep-konsep yang kusajikan dalam pembelajaran, apalagi kalau waktunya terasa pas-pasan dan hanya bisa mengajar melalui diskusi kelompok kecil, katakanlah siswa yang duduknya berdekatan, tanya-jawab, dan pemberian informasi berupa penjelasan singkat. Ketika hal ini kusadari, aku segera belajar lagi agar aku mampu menjelaskan konsep yang abstrak dengan hati-hati, melalui contoh kehidupan sehari-hari dan tanya-jawab. Hari demi hari kulalui, namun banyak hal yang masih mengganjal. Mengapa siswa tertentu itu selalu berada di peringkat bawah? Mengapa mereka selalu remidi? Kurang pahamkah contoh yang kuberikan saat menerangkan konsep itu? Apa yang harus kulakukan?

Aku membuka-buka buku pelajaran, membuat catatan kecil, membuat skema sederhana. Keesokan harinya kurubah cara mengajarku, ketika menjelaskan konsep-konsep yang terkait satu sama lain, aku menjelaskannya dengan skema. Kutulis lebih dahulu skema itu di papan tulis, baru menjelaskannya. Eh ternyata ketika tanya jawab berlangsung, siswa yang biasanya remidi itu tetap tidak mampu memahami konsep secara langsung, seperti teman lainnya. Di kelas berikutnya kurubah lagi caraku menyajikan materi. Kujelaskan konsep itu sambil membuat skema di papan. Setahap demi setahap dengan kuselingi tanya jawab. Tetap kugunakan contoh sehari-hari yang mereka ketahui dan alami. Alhamdulillah, lumayan berhasil. Siswa peringkat bawah mulai dapat ikut menjawab pertanyaan yang tergolong mudah. Namun ketika ulangan harian, kelompok siswa terbawah masih mengalami remidi. Aku belajar lagi, aku harus berhasil.

Akhirnya kuberanikan diri bertanya kepada para siswa, khususnya kelompok terbawah, apa yang membuat mereka tidak paham dan bagaimana sebaiknya. Mereka menyatakan setiap konsep minta agar diberi contoh, dan kalau memungkinkan contoh sehari-hari dibahas dahulu baru ke teori abstrak. Ya Allah, ampuni hamba. Ternyata hamba melupakan sesuatu yang amat penting, yaitu teori belajar Piaget, bahwa mengajar mereka yang pikirannya masih konkrit harus dimulai dari hal-hal konkrit, terutama yang pernah mereka alami. Kemudian kuingat Ausubel yang menyatakan bahwa “Teach your students accordingly.”

Alhamdulillah, dengan belajar bagaimana cara terbaik untuk menyajikan suatu konsep, terutama disesuaikan dengan perbedaan individu siswa, dan mengusahakan agar siswa kelompok rendah terhindar dari remidi yang terus menerus, akhirnya mereka dapat lulus dengan nilai UNAS minimal 7,5. Menetes airmataku, mengingat kejadian itu. Kelompok siswa tersebut langsung ada yang memakai jilbab, ada pula yang mendekapku hingga aku hampir jatuh. Allahu akbar, terima kasih ya Allah.

Itulah secuil pengalamanku, belajar memang seumur hidup. Sekarangpun, sudah pensiun aku masih terus belajar dengan beberapa tujuan, salah satunya adalah menghindari terjadinya pikun, hehehe. Alhamdulillah, aku masih memiliki tekad dan niat yang kuat untuk tetap melayani bangsa. Insya Allah aku bisa terus menjadi guru sampai akhir hayat, amin YRA.