Tag Archives: disiplin

Part 6: Perubahannya masih diragukan

Perjuangan Gundi untuk mengubah dirinya dari super malas menjadi rajin, baik  cara berpakaian, berbicara, keterlibatan dalam pembelajaran, kerajinan mengerjakan tugas, dan lainnya tidaklah mudah. Banyak hambatan yang harus dihadapinya, baik situasi rumah, teman sekelas, maupun guru. Itulah konsekuensi yang harus dihadapinya. Hanya menyesali kesalahan sebelumnya, tentu tak ada gunanya. Alhamdulillah kesadaran dirinya terus meningkat. Dia memang merasa menyesal telah banyak ketinggalan, namun dia terus berdoa dan berjuang. Sopan santunnya makin bagus, kerajinannya juga meningkat.

Ternyata jalan menuju kebaikan tak mudah seperti membalikkan tangan. Proses yang ditempuhnya tak semulus jalan aspal yang baru dipoles. Insya Allah Gundi mampu mengatasi rintangan demi rintangan, tetap berjuang demi masa depannya. Aku optimis melihat starting pointnya dan langkah awalnya. Semoga dia bisa, amin. Eh … HP-ku berbunyi, ada sms masuk. Amir … Insya Allah dia melaporkan perkembangan baik dari Gundi.

“Ibu maaf mengganggu. Saya besok mau menghadap, namun sebagian ingin saya infokan sekarang. Mohon doanya Bu, kasihan Gundi.”

Hah? Ada apa dengan dia? Wah aku tadi sudah berdebar juga, namun malam ini aku baru mau sms Gundi. Mengapa tadi siang aku tak segera bertanya ke Gundi atau Amir? Kepekaan ini tak boleh diabaikan, bisa berakibat pada Gundi. Aku sudah menunda sesuatu yang penting.

“Amir, ada apa dengannya?”

“Tadi guru bahasa Inggris marah ke kelas akibat Gundi, sehingga tak jadi mengajar. Gundi merasa bersalah dan pergi ke Musholah tak balik lagi. Dono menghasut teman-teman. Bu maaf pulsa tinggal sedikit.”

“Oh maaf sayang, smskan nomormu biar ibu isi. Masalah Gundi penting, kasihan dia. OK ibu sms Gundi saja, thx informasimu. Terus bimbing dia ya.”

“Maaf Bu tidak apa-apa, saya sudah siap membeli pulsa dan dananya sudah ada. Besok pagi saja saya menghadap. Wass.”

“OK sayang, terima kasih banyak. Sebenarnya ibu ada dana untuk pembinaan siswa yang ibu sisihkan dari uang les anak-anak, hehehe. Ya sudah besok pagi saja. Take care and do the best.”

Aku langsung sms Gundi, bermaksud untuk mengetahui keadaannya sekaligus jalan yang ditempuhnya untuk menghadapi besok. Sudah 1 jam dia belum juga membalas sms. Ya dia memang membantu ibunya berjualan, namun aku sudah minta dia untuk selalu membawa HP-nya. Pulsa juga sudah terisi cukup banyak. Mungkin dia belum siap menjawab. Aku hanya bisa berdoa untuknya. Mungkin dia sedang mengerjakan PR bahasa Inggris dan lainnya, atau mungkin dia sedang mengatur perasaannya. Insya Allah dia baik-baik saja. Aku benar-benar  memikirkannya. Tidur malam pun terbangun 3 x, akhirnya aku sholat kemudian membuka laptop dan mulai mengetik.

Sebelum jam 6 pagi aku sudah di sekolah, minum teh hijau hangat dan mendengarkan penjelasan Amir. Anak ini memang luar biasa, tanggung jawabnya besar. Sebenarnya tak mudah bagi anak seusia Amir mampu mengatur dan mengendalikan teman-temannya. Subhanallah, sungguh luar biasa dia. Terima kasih ya Allah.

“Dono memang keterlaluan Bu. Mungkin dia iri pada Gundi yang sekarang banyak mendapat perhatian dari teman-teman dan beberapa guru serta wali kelas. Apalagi teman-teman yang sering dia suruh-suruh dan menurut itu sekarang sudah meninggalkannya. Kasihan juga.”

“Amir, maksudmu kau kasihan pada Dono?”

“Ya Bu, kasihan. Dia belum menyadari kesalahannya. Saya membayangkan kalau dia begitu terus, dia bisa gagal dalam meraih cita-citanya.”

“Sayang, anak seperti itu mungkin tak punya cita-cita.”

“Ya tentu punyalah Bu, malah mungkin cita-citanya tinggi sekali tak mengukur keadaan dirinya. Dia tak merintis jalan untuk mencapainya.”

“Eh sayang, kita kok membicarakan Dono, hehehe. Terus langkah kita untuk Gundi bagaimana?”

Lho aku kan seharusnya mencatat keadaan Dono dan harus membantunya juga. Aku malahan tak ingin memikirkan Dono, hehehe tak adil donk. Amir ini hebat sekali, lebih adil, lebih perhatian terhadap temannya, alhamdulillah.

“Ya nanti Insya Allah saya bisa mendekatinya lagi Bu. Maaf bel kurang 10 menit saya harus membantu teman piket. Nanti siang dilanjut ya Bu.”

“Oh iya sayang, maafkan ibu. OK Good luck. Keep doing your best.”

“Thx mom, Insya Allah, I will.”

Ketika bel sudah berbunyi, ada sms masuk dari Amir yang mengabarkan bahwa Gundi belum hadir di kelas. Aku bergegas ke Mushola, eh … dia juga tak ada. Aku menuju ke depan, barangkali dia terlambat dan di hukum untuk membersihkan halaman atau apa. Tak ada juga. Berarti dia tak masuk sekolah. Sebaiknya ku sms saja. Setelah ku tunggu beberapa saat juga tak ada balasan. Kemudian aku menilpunnya, tak juga dibalas. Oh aku belum ke BK. Eh … tak ada. Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Berilah petunjuk.

Aku kembali ke ruang guru dan duduk. Lemas rasanya badan ini; pikiranpun tak tahu mau berpikir apa.  Gagalkah aku membinanya? Mengapa dia kemarin tak menghubungiku dan tak membalas sms maupun tilpun? Hah? Siapa di sana itu? Sepintas tampak seorang siswa sedang duduk menghadap salah seorang guru. Ya beliau guru bahasa Inggris. Anak itu Gundi ya dia Gundi. Ehmm … mungkin kemarin dia berusaha meyelesaikan PR itu sebab hari ini harus dikumpulkan. Dia menunduk dan guru itu mungkin mengoreksi pekerjaannya. Bagaimanapun saya lega, walau tak tahu proses yang sedang berlangsung di sana. Bukalah pintu hati guru tersebut ya Allah, agar perubahan Gundi yang dia lakukan bertahap ini mendapat peluang untuk terus maju. Kasihan Gundi, perubahannya masih diragukan oleh beberapa guru. Insya Allah hal ini menjadi pelajaran yang baik baginya, amin. Aku percaya bahwa Allah SWT memberikan ujian sesuai dengan kemampuan seseorang.

Iklan

Mengapa kau mencintaiku? (Bagian 4)

Setelah siuman, ternyata aku telah berada di kamar pasien sendirian. Aku berusaha duduk dan ku pencet bel panggilan. Tak berapa lama terdengar suara sepatu suster yang sedang berlari dan masuk ke kamarku.

“Alhamdulillah ibu sudah siuman.”

“Sus panggil aku mbak saja, aku masih muda lho.”

“Maaf ibu, saya tak berani melanggar aturan pekerjaan. Ibu bukan berarti sudah tua; saya harus menghormati ibu sebagai pasien atau tamu kami.”

“Ya sudah tidak apa-apa. Maksudku tadi kekeluargaan saja, tak perlu formal. Namun RS ini disiplin ya, OK itu baik. Sus tolong antar aku ke ruang pasien tadi ya.”

“Iya Bu, sebentar.” Jawabnya.

Tak berapa lama dokter masuk.

“Alhamdulillah, ibu sudah siuman. Pihak rumah sakit tadi sempat bingung.”

“Oh maafkan saya Dok. Saya amat terkejut, sehigga tak sadarkan diri. Dok, mengapa dia? Sakit apa dia dok?” tanyaku.

“Sekeluarga mengalami kecelakaan dan hanya dia yang hidup, namun lumpuh dan sulit berbicara. Keadaannya kritis dan kami tak sanggup menolong. Dia menyebut namamu dan meminta kami untuk membuka dompetnya. Kami tanggap apa yang dimaksudkannya. Setelah kami temukan nomor HP ibu, kami segera menghubungi, sebab khawatir tak sempat menemuinya. Sekarang saya membawa berita yang sangat mengejutkan, rasanya aneh tetapi nyata-nyata terjadi.”

“Ap … apa maksud dokter? Ada apa dengannya? Tolong dok saya ingin menjumpainya sekarang. Tolong jangan melarang saya.”

Aku memaksakan diri untuk berdiri. Karena tempat tidurnya agak tinggi, aku hentakkan badanku, maksudku akan meloncat turun. Astaqfirullah … aku hampir jatuh, untung si suster dengan sigap memegangku. Dokter dan suster itu tertawa. Hah? Mengapa mereka malah tertawa? Lucukah aku? Apa aku tadi salah dengar? Apa tadi yang dikatakan dokter? Berita yang mengejutkan. Maksudnya berita baikkah? Insya Allah.

“Maaf kalau kata-kata saya tadi ada yang salah. Maksudnya ada berita yang sangat baik untuk ibu.”

Alhamdulillah, dokter ini bagaimana sih.

“Maksud dokter …”

“Alhamdulillah, sebuah mukjizat telah terjadi. Ternyata kesehatannya membaik bu. Dia memiliki lagi kekuatan hidup setelah melihatmu. Bersediakah kau merawatnya? Kalau iya, kalian kita nikahkan disini, tentunya menunggu keputusan keluargamu.”

Aku terpaku mendengarkan penjelasan dokter. Aku memang terlalu mencintainya. Kuputuskan sekarang saja untuk merawatnya. Dia dan aku sudah sebatang kara. Aku menganggukkan kepala dan ku tilpun ibu angkatku yang juga sudah janda.

***

Now I understand why did you go last time without any reason. Ya … ya, sekarang aku paham … mengapa dulu kau pergi tanpa suatu alasan. Mungkin kebingunganmu dahulu itu karena ada suatu masalah yang membuat kita harus berpisah, namun kau tak tega padaku untuk menjelaskannya. Apakah ketika itu kau dipaksa untuk menikah dengan gadis pilihan orang tuamu, apakah kau memang telah dijodohkan sejak kecil, namun kau tak tahu sebelumnya. Tak masalah bagiku. Hati kita masih selalu dekat, bahkan menyatu. Apakah selama 3 tahun ini kau telah beristri? Mungkin tidak, karena sampai sekarang kau tetap sendiri, tak seorang wanitapun ada di sampingmu. Apakah ketika itu kau menolak untuk dinikahkan? Itupun tak masalah bagiku. Buktinya, sekarang Allah SWT telah menyatukan kita kembali. Aku tak akan bertanya mas, aku memang tak perlu bertanya. Ku telah memilikimu kembali. Selama ini aku juga tak salah, memang benar … walau jauh di mata ternyata hati kita selalu menyatu. Aku tak pernah menyalahkanmu, Allah SWT telah membuka pintu hati kita sejak dulu hingga sekarang, alhamdulillah.

***

Dengan penuh cinta dan kasih sayang ku rawat dia. Senyumnya mulai mekar, bicaranya mulai banyak dan jelas. Kami menjalani hidup ini dengan bahagia. Terima kasih ya Allah, Kau telah mempertemukan kami kembali dan Kau beri hamba kesempatan untuk merawatnya dan menyayanginya. Allahu Akbar.

***

“Yangtiiii … yangkuuung … di belakang ya …? Ini lho … kami membawa jus kesukaan Eyang.”

Ehmm … Fitri putriku satu-satunya dan kedua cucuku pada datang. Oh ya mereka libur semester. Hehehe aku dibawakan jus. Mereka tahu jus itu kesukaanku dahulu. Sudah lama, bahkan semenjak merawat mas aku tak pernah ingat untuk membuat jus. Fitri adalah bayi tabung. Alhamdulillah dengan kesabaran akhirnya kami bisa memiliki Fitri dan lucunya, suami Fitri adalah anak tunggal dari dokter yang merawat mas di rumah sakit dulu. Dan sudah kehendak Allah SWT, ternyata suster yang menolong kami dulu itu menjadi istri pak dokter. Hehehe dunia ini rasanya kok menjadi sempit ya. Cucuku yang pertama Umar, kuliah di FK Unair dan adiknya Umi terkabul keinginannya kuliah di Farmasi Unair. Allahu Akbar, Allah Maha Besar.

The End

Berupaya untuk selalu disiplin

Alhamdulillah hingga saat ini aku dapat berupaya untuk selalu disiplin dalam melakukan apapun. Disiplin itu benar-benar amat penting dalam kehidupan kita. Disiplin harus dibiasakan sejak kecil. Kalau kita sudah terbiasa disiplin, maka dalam melakukan aktivitas sehari-hari, kita akan terhindar dari faktor lupa. Lupa dalam hal apapun, misalnya lupa menggunakan rem untuk menahan emosi. Bisa dibayangkan, andaikata kita tidak terbiasa disiplin, maka kita akan sering lupa menahan diri untuk tidak emosi. Ketika terjadi hal-hal yang membuat kita tak sabar, tak terasa kita telah melanggar aturan.

Dengan terbiasa disiplin, Alhamdulillah tidak ada sedikitpun keinginan untuk melanggar aturan, meski hanya dalam batin, apalagi tercetus melalui kata-kata. Hidup ini menjadi sangat indah, Insya Allah kita dapat berbahagia sepanjang hayat. Pada setiap hembusan nafas kita selalu sadar bahwa apapun yang kita pikirkan, rasakan, lakukan adalah hal terbaik bagi kita sendiri dan bagi siapa saja, amin YRA.

Aku terdidik di lingkungan keluarga yang sederhana. Maksudku pikiran, perasaan, pembicaraan, makanan, minuman, semuanya serba sederhana. Setiap hari waktu demi waktu terisi dengan hal-hal yang tak berlebihan. Sejak kecil terbiasa bangun tidur selalu sebelum subuh, pekerjaan rumah dilakukan secara gotong royong. Ada pembagian kerja, namun setiap diperlukan kami juga bekerja secara tim dengan kompak.

Berangkat sekolah, kami selalu sarapan. Di sekolah, kami tidak pernah membeli makanan/minuman apapun, karena kami telah menyiapkan bekal. Pulang sekolah selalu berganti pakaian; siang hari tidur, sore bermain sebentar kemudian belajar. Jam 9 malam sudah harus tidur. Alhamdulillah, orang tua kami sungguh telah melakukan yang terbaik untuk kami.

Setelah besar dan berkeluarga, hingga tiba saat purna tugas, ternyata pendidikan orang tua selalu kami lakukan secara dinamis. Ternyata pendidikan itu dilanjutkan oleh anak-anak kami, sehingga upaya disiplin dari cucu-cucu kamipun mirip dengan kejadian sewaktu kami dididik oleh orang tua pada zaman itu. Rasanya pendidikan karakter tidak ada istilah orla atau orba, maksudnya cara lama atau baru. Memang peningkatan demi peningkatan tetap amat diperlukan, penyesuaian juga perlu diaplikasikan.

Atas anjuran ibu dan guru kimia yang kuidolakan, maka hingga kini – walau sudah purna tugas, aku tetap berupaya untuk disiplin mengisi hidup ini dengan hal-hal yang baik bagi bangsa. Saran menjadi guru sepanjang hayat ternyata masuk ke hati sanubariku. Oleh sebab itu, hingga saat ini aku masih mengajar.

Selain mengajar, aku suka membaca dan menulis. Sampai detik ini aku tetap rajin duduk di depan laptop mengetik artikel-artikel yang menyangkut kehidupan sehari-hari. Diantaranya tentang pelajaran kimia, contoh-contoh pembelajaran berdasarkan pengalaman, pembinaan karakter, lingkungan hidup, kesehatan, dan masih banyak lagi. Insya Allah secara bertahap akan terus kutulis pengalaman hidupku dalam blog. Blogku ada beberapa; cerita inspiratif ini adalah blog yang baru saja kubuat. Insya Allah cerita/kisah hidup yang kutulis di sini dapat menginspirasi bangsa, sehingga bersama kita dapat selalu berupaya berbuat yang terbaik.

Minimal sehari satu artikel, ku harus berupaya untuk mempostingnya. Apapun yang ku posting harus tulisan sendiri, pengalaman sendiri, hasil survey, kisah nyata, dan sejenisnya. Sesederhana apapun kalau tulisan sendiri rasanya lega sekali. Aku tak boleh sampai terjangkit faktor lupa dan mengcopy paste artikel milik orang lain.

Insya Allah aku dapat berupaya terus menerus dari waktu ke waktu untuk menegakkan disiplin. Disiplin menulis dan update artikel harus kulakukan agar tidak mengecewakan pembaca dan pengguna blog. Ketika ada artikel website lain yang bagus dan penting, saya telah dan akan berupaya untuk melink dan membahasnya. Insya Allah kebiasaan ini tak akan luntur oleh apapun. Walaupun suatu ketika badai itu datang, Insya Allah tidak mengenai kita. Andaikan faktor lupa itu datang tak terasa, Insya Allah badai itu berlalu ketika kita kembali berupaya untuk disiplin.