Tag Archives: super malas

Part 8: Hampir putus asa

Perjuangan Gundi yang dahulunya super malas dan ingin menjadi rajin, mengalami lika-liku yang berpengaruh pada perilakunya. Sebenarnya secara bertahap dia mulai dewasa, tampaknya sabar menghadapi olokan, tertawaan, cibiran, dan sejenisnya dari lingkungan, terutama sekolah. Namun sesuatu telah terjadi tanpa sepengetahuan saya. Dia hampir putus asa ketika guru yang sudah memujinya dan beberapa teman yang mendukungnya mulai tak percaya padanya. Sebenarnya dia masih terus menghubungiku melalui sms. Namun akhir-akhir ini dia tampak lesu, kurang bergairah, dan senyum itu kelihatannya dipaksakan. Amir jarang laporan, hanya sesekali ketika aku bertanya lebih dahulu.

Keadaan di atas membuatku sadar bahwa sudah sebulan ini aku kurang fokus menangani Gundi. Tadinya ku rasa Gundi Insya Allah dapat memperjuangkan sifat baiknya dan mampu menghadapi tantangan apa saja dari guru maupun teman-temannya. Aku jadi merasa bersalah. Mengapa aku begitu tega menurunkan skala prioritas dalam mendukung niat baik Gundi? Kepentingan manakah yang mengalahkan perhatianku pada Gundi? Sejauh manakah aku telah mengabaikan tugas khusus ini? Ya Allah, ampuni hamba. Gundi, maafkan ibu. Kau jangan seperti itu sayang, ibu tak tahan mengingat wajahmu seperti itu. Ibu telah teledor, kurang perhatian terhadap upayamu, kurang jeli memperhatikan perkembanganmu. Kau mungkin sungkan pada ibu. Kau mungkin melihat ibu amat sibuk dengan urusan Eco-school, olimpiade dan lainnya. Ah tidak. Ibu tak boleh seperti ini. Ya Gundi, ibu akan mendekat padamu lagi.

Hah? Terkejut aku ketika di depan meja ada Gundi yang sedang duduk sambil menundukkan kepala.

“Gun.”

Dia hanya mengangkat kepala dan … senyum itu hilang. Wajahnya pucat sekali. Ku berikan segelas air dan diminumnya hingga habis.

“Ada apa sayang? Bolehkah ibu mendengar ceritamu?”

“Saya bersalah Bu.”

“Apa salahmu sayang?”

“Saya memang tak pantas sekolah di sini.”

“Mengapa kau berkata begitu?”

“Maafkan saya Bu, mungkin Ibu kecewa padaku. Semua orang kecewa padaku. Saya tak layak sekolah, sebaikya saya bekerja saja Bu.”

“Sayang, itu bukan suara hatimu. Sekarang pergilah sholat, tak perlu kau ceritakan sekarang.”

“Ya Bu, terima kasih.”

“Ibu yang meminta maaf padamu sampai tak menghiraukanmu. Sebulan sudah perjuanganmu demi masa depan yang kau cita-citakan. Silakan ke Mushola dan masuk ke kelas. nanti saja istirahat siang atau pulang sekolah.”

Dia berdiri dan meninggalkan ruang guru menuju Mushola. Alhamdulillah, di masih menurut untuk melakukan kebaikan. Namun rasanya ada sesuatu yang berbeda. Belum sempat ku nalar sikap Gundi barusan, Amir datang.

“Amir, maafkan ibu. Sebulan ini ibu terlupa tak begitu memperhatikan Gundi. Bagaimana menurutmu dan berita apa yang aka kau sampaikan pada ibu?”

“Sebelumnya saya meminta maaf bu, sebab sayapun sibuk dengan pelajaran dan membantu teman-teman. Tak terasa Bu, ternyata Gundi juga agak jarang bertanya padaku, malah mendekati Dono cs. Mungkin awalnya bertujuan baik Bu, namun lama-lama dia seperti terkena arus kebiasaan Dono. Saya tak mau bersaing dengan Dono untuk merebut Gundi kembali. Itulah Bu sekilas infonya. Tadi guru olah raga menghukum mereka dan nilai praktik di bawah KKM, nilai sikap C. Saya baru sadar kalau Gundi sedang dalam perjuangan, tampaknya dia down Bu. Maaf saya ke kelas dahulu, nanti malam ibu bisa tilpun saya.”

“OK thx sayang. Do your best.”

“Yes mom, Insya Allah.”

Ya Allah, bagaimana ini? Hamba salah telah meninggalkannya sebulan ini. Berikan petunjukMu ya Allah, apa yang harus hamba lakukan?

“Bu Etna, dipanggil kepala sekolah.”

“Oh iya pak, terima kasih. Sekarang saya akan ke sana. Di ruang KS ya?”

“Iya Bu.”

Ada apa ya kepala sekolah memanggilku? Apakah sehubungan dengan kasus Gundi? Apakah pak guru olah raga (OR) tadi itu habis lapor dan … ehmm … entahlah. Ya sudah tak perlu menduga-duga, pusing deh jadinya. Salahku sendiri sih, kok sebulan menjauh dari Gundi. Sekarang kalau Gundi benar-benar ingin keluar dari sekolah, karena tak tahan lagi menghadapi tantangan demi tantangan yang tak kunjung berhenti, terus mau apa coba?? Memaksakan kehendak pada Gundi?? Hehehe tak bisa seperti itu. Ah … suara hati memprotes.

Iklan

Part 6: Perubahannya masih diragukan

Perjuangan Gundi untuk mengubah dirinya dari super malas menjadi rajin, baik  cara berpakaian, berbicara, keterlibatan dalam pembelajaran, kerajinan mengerjakan tugas, dan lainnya tidaklah mudah. Banyak hambatan yang harus dihadapinya, baik situasi rumah, teman sekelas, maupun guru. Itulah konsekuensi yang harus dihadapinya. Hanya menyesali kesalahan sebelumnya, tentu tak ada gunanya. Alhamdulillah kesadaran dirinya terus meningkat. Dia memang merasa menyesal telah banyak ketinggalan, namun dia terus berdoa dan berjuang. Sopan santunnya makin bagus, kerajinannya juga meningkat.

Ternyata jalan menuju kebaikan tak mudah seperti membalikkan tangan. Proses yang ditempuhnya tak semulus jalan aspal yang baru dipoles. Insya Allah Gundi mampu mengatasi rintangan demi rintangan, tetap berjuang demi masa depannya. Aku optimis melihat starting pointnya dan langkah awalnya. Semoga dia bisa, amin. Eh … HP-ku berbunyi, ada sms masuk. Amir … Insya Allah dia melaporkan perkembangan baik dari Gundi.

“Ibu maaf mengganggu. Saya besok mau menghadap, namun sebagian ingin saya infokan sekarang. Mohon doanya Bu, kasihan Gundi.”

Hah? Ada apa dengan dia? Wah aku tadi sudah berdebar juga, namun malam ini aku baru mau sms Gundi. Mengapa tadi siang aku tak segera bertanya ke Gundi atau Amir? Kepekaan ini tak boleh diabaikan, bisa berakibat pada Gundi. Aku sudah menunda sesuatu yang penting.

“Amir, ada apa dengannya?”

“Tadi guru bahasa Inggris marah ke kelas akibat Gundi, sehingga tak jadi mengajar. Gundi merasa bersalah dan pergi ke Musholah tak balik lagi. Dono menghasut teman-teman. Bu maaf pulsa tinggal sedikit.”

“Oh maaf sayang, smskan nomormu biar ibu isi. Masalah Gundi penting, kasihan dia. OK ibu sms Gundi saja, thx informasimu. Terus bimbing dia ya.”

“Maaf Bu tidak apa-apa, saya sudah siap membeli pulsa dan dananya sudah ada. Besok pagi saja saya menghadap. Wass.”

“OK sayang, terima kasih banyak. Sebenarnya ibu ada dana untuk pembinaan siswa yang ibu sisihkan dari uang les anak-anak, hehehe. Ya sudah besok pagi saja. Take care and do the best.”

Aku langsung sms Gundi, bermaksud untuk mengetahui keadaannya sekaligus jalan yang ditempuhnya untuk menghadapi besok. Sudah 1 jam dia belum juga membalas sms. Ya dia memang membantu ibunya berjualan, namun aku sudah minta dia untuk selalu membawa HP-nya. Pulsa juga sudah terisi cukup banyak. Mungkin dia belum siap menjawab. Aku hanya bisa berdoa untuknya. Mungkin dia sedang mengerjakan PR bahasa Inggris dan lainnya, atau mungkin dia sedang mengatur perasaannya. Insya Allah dia baik-baik saja. Aku benar-benar  memikirkannya. Tidur malam pun terbangun 3 x, akhirnya aku sholat kemudian membuka laptop dan mulai mengetik.

Sebelum jam 6 pagi aku sudah di sekolah, minum teh hijau hangat dan mendengarkan penjelasan Amir. Anak ini memang luar biasa, tanggung jawabnya besar. Sebenarnya tak mudah bagi anak seusia Amir mampu mengatur dan mengendalikan teman-temannya. Subhanallah, sungguh luar biasa dia. Terima kasih ya Allah.

“Dono memang keterlaluan Bu. Mungkin dia iri pada Gundi yang sekarang banyak mendapat perhatian dari teman-teman dan beberapa guru serta wali kelas. Apalagi teman-teman yang sering dia suruh-suruh dan menurut itu sekarang sudah meninggalkannya. Kasihan juga.”

“Amir, maksudmu kau kasihan pada Dono?”

“Ya Bu, kasihan. Dia belum menyadari kesalahannya. Saya membayangkan kalau dia begitu terus, dia bisa gagal dalam meraih cita-citanya.”

“Sayang, anak seperti itu mungkin tak punya cita-cita.”

“Ya tentu punyalah Bu, malah mungkin cita-citanya tinggi sekali tak mengukur keadaan dirinya. Dia tak merintis jalan untuk mencapainya.”

“Eh sayang, kita kok membicarakan Dono, hehehe. Terus langkah kita untuk Gundi bagaimana?”

Lho aku kan seharusnya mencatat keadaan Dono dan harus membantunya juga. Aku malahan tak ingin memikirkan Dono, hehehe tak adil donk. Amir ini hebat sekali, lebih adil, lebih perhatian terhadap temannya, alhamdulillah.

“Ya nanti Insya Allah saya bisa mendekatinya lagi Bu. Maaf bel kurang 10 menit saya harus membantu teman piket. Nanti siang dilanjut ya Bu.”

“Oh iya sayang, maafkan ibu. OK Good luck. Keep doing your best.”

“Thx mom, Insya Allah, I will.”

Ketika bel sudah berbunyi, ada sms masuk dari Amir yang mengabarkan bahwa Gundi belum hadir di kelas. Aku bergegas ke Mushola, eh … dia juga tak ada. Aku menuju ke depan, barangkali dia terlambat dan di hukum untuk membersihkan halaman atau apa. Tak ada juga. Berarti dia tak masuk sekolah. Sebaiknya ku sms saja. Setelah ku tunggu beberapa saat juga tak ada balasan. Kemudian aku menilpunnya, tak juga dibalas. Oh aku belum ke BK. Eh … tak ada. Ya Allah, apa yang harus hamba lakukan? Berilah petunjuk.

Aku kembali ke ruang guru dan duduk. Lemas rasanya badan ini; pikiranpun tak tahu mau berpikir apa.  Gagalkah aku membinanya? Mengapa dia kemarin tak menghubungiku dan tak membalas sms maupun tilpun? Hah? Siapa di sana itu? Sepintas tampak seorang siswa sedang duduk menghadap salah seorang guru. Ya beliau guru bahasa Inggris. Anak itu Gundi ya dia Gundi. Ehmm … mungkin kemarin dia berusaha meyelesaikan PR itu sebab hari ini harus dikumpulkan. Dia menunduk dan guru itu mungkin mengoreksi pekerjaannya. Bagaimanapun saya lega, walau tak tahu proses yang sedang berlangsung di sana. Bukalah pintu hati guru tersebut ya Allah, agar perubahan Gundi yang dia lakukan bertahap ini mendapat peluang untuk terus maju. Kasihan Gundi, perubahannya masih diragukan oleh beberapa guru. Insya Allah hal ini menjadi pelajaran yang baik baginya, amin. Aku percaya bahwa Allah SWT memberikan ujian sesuai dengan kemampuan seseorang.

Part 4: Kerajinannya tampak meningkat

Gundi anak super malas itu telah bangkit secara bertahap, kerajinannya tampak meningkat. Dalam seminggu ini aku harus melayani anak lain, sehingga layanan untuk Gundi ku lakukan melalui sms. Dia ku pinjami sebuah HP dengan pulsa yang sudah terisi, agar hubungan kami lancar. Secara rutin ku monitor dia agar tahu sejauh mana perkembangan perubahan sikapnya. Kalau ada apa-apa, sewaktu-waktu aku bisa memanggilnya. Dia harus berlatih meningkatkan diri. Oleh sebab itu ku berikan suatu kepercayaan, agar dia dapat berlatih mandiri. Insya Allah muncul kebanggaan dalam dirinya dan dia dapat bangkit untuk menghadapi tantangan yang bisa terjadi setiap saat. Kalau setiap hari dia kulayani di ruang guru, tentunya dapat menarik perhatian siapapun.

Agar aku tak lupa pada kasus Gundi, ku minta salah satu tutor sebaya yang masih peduli pada Gundi untuk selalu memberi informasi melalui sms atau langsung ke ruang guru. Untuk sementara Gundi sudah ku beritahu bahwa konsultasinya melalui sms.

“Gun, maaf ya. Sebaiknya sementara ini konsultasinya melalui sms saja, biar tak menjadi bahan pembicaraan. Melalui sms kita bisa lebih leluasa. Kapan saja, di mana saja, iya kan?”

“Iya Bu saya mengerti maksud Ibu. Stempel saya terlampau parah, kasihan Ibu.”

“Eh … sayang, kok kasihan pada ibu. Maksudmu apa?”

“Maaf kalau salah bicara Bu. Maksud saya, Ibu sudah berupaya membantu saya dan saya sedang menjalankan saran Ibu, tahu-tahu ada yang iri atau apa. Sulit Bu menjelaskannya, saya ingin positif dan akan menjauhi yang negatif.”

Bel tanda masuk berbunyi. Dia harus segera masuk ke kelas.

“Ya ya ibu mengerti kok. Sudah sana masuk. Senyum lho jangan lupa.”

Diciumnya tanganku sambil tersenyum. Senyum itu sudah lumayan, tak terlalu dipaksakan. Kasihan, aku tak tega setiap melihat dan mengingatnya. Aku harus segera sms Amir, tutor sebaya yang bisa membantu setiap saat.

“Amir, nanti istirahat siang segera ke ruang ibu ya, thx.” OK sms ini sudah terkirim.

Aku harus segera keliling kelas bersama guru piket yang lain. Kami biasanya berduaan, ada yang ke arah depan dan ke arah belakang. Ada 2 jam kosong. Oh ya nanti ada 2 siswa akan konsultasi olimpiade. Alhamdulillah, hari ini aktivitasku cukup padat. Setelah keliling, aku akan membuka laptop menyiapkan materi olimpiade yang sudah ku rapikan di folder lomba. Rita dan Dwi yang akan mengkoordinir teman-temannya nanti akan membawa flashdisk, Insya Allah tak lupa. Tak masalah sih, aku memiliki 2 flashdisk yang biasa dipinjam anak-anak. Kalau begitu, agar tak lama melayani anak olimpiade sebaiknya setelah piket akan ku copy file materi olimpiade itu.

“Bu Etna, ayo piket keliling.”

“Oh ya Bu, he he he maaf.”

“Tidak apa-apa, biasanya Ibu yang menungguku. Nih saya mau makan tidak ada temannya, jadi ya piket saja dulu. Eh … Bu, itu si Gundi kok sering ke Ibu ada apa? Minta les ya? Minta tambahan nilai?”

Nah kan. Ibu-ibu ini memang sering berbeda dibanding bapak-bapak, he he he maaf. Maksudku, beliau ini seringkali mempertanyakan sesuatu dengan dilandasi oleh kecurigaan yang tak berarti. Tampaknya Ibu X ini menuduh Gundi sekaligus saya. Lho … beliau kan wali kelas Gundi? Oh … makanya dia bertanya begitu, ehmm … pantas. Sebaiknya aku tak berpandangan negatif, ambil sisi baiknya saja. Bismillah.

“Bu informasi dari BK, Gundi anak orang tak mampu. Jadi tak mungkin dia les kimia. Nilai? Guru-guru sendiri pada menambah nilainya. Semula di bawah KKM menjadi pas KKM. Senyampang Ibu wali kelasnya, bolehkah saya memberi nilai dia tetap di bawah KKM?”

“Ooo begitu toh ceritanya. BK ini bagaimana sih saya kok malah tak tahu itu. Harusnya ya diberi bea siswa anak miskin.”

“Kata BK sudah Bu.”

“Wah saya kok belum tahu ya.”

“Coba ibu cek daftar bea siswa yang sudah dibagikan ke wali kelas.”

“Ya mungkin di rumah bu. Sudahlah, gampang nanti saya minta lagi saja. Sekarang ayo piket.”

Kami berdua ke bagian arah belakang. Untunglah. Andaikan ke arah depan, wah malu juga agak terlambat. Sambil berjalan dan mencatat hal-hal penting, ku ajak ibu X membahas masalah Gundi.

“Bu, nilai Gundi untuk sisipan asli saja ya.”

“Terserah bu Etna, ibu biasanya bagaimana. Kan ibu selalu memberi remidi toh? Ya laporkan sekalian hasilnya itu.”

“OK bu. Menurut ibu bagaimana dengan Gundi?” saya coba memancing pembicaraan.

“Ehmm … dia kan terkenal malas, badannya lusuh lagi. Tak seorangpun mendekatinya.”

“Maksud ibu?” saya sengaja meminta penjelasan.

“Ya saya tak ambil resikolah. Perkara nilai kan terserah dewan guru juga. Oh ya saya titip dibina saja oleh ibu, kan bu Etna dari dulu dekat sama anak.”

“Ya Insya Allah bu.”

Nah berarti aku lebih leluasa membina Gundi, alhamdulillah. Selesai piket, aku segera menyiapkan materi olimpiade. Tak terasa istirahat siang telah tiba. Rita, Dwi, dan Amir datang bersamaan. Setelah berbincang singkat, kuserahkan 2 flashdisk kepada mereka.

“Terima kasih Bu. Seperti biasa akan kami print out dan foto copy. Lusa di lab kimia ya Bu, sementara ada 14 siswa.”

“Excellent. OK thx, see you next and do the best, please.”

Mereka selalu mencium tangan pada awal dan akhir pertemuan. Di jalanpun ketika berpapasan ya selalu begitu, alhamdulillah. Tinggal Amir yang masih bersamaku. Kami berunding tentang perubahan Gundi dan ku minta padanya untuk menerima Gundi dengan baik. Amir sanggup dan katanya anak-anak salut atas upayaku. Mereka senang Gundi sudah berubah, badannya tak lusuh lagi, tubuhnya bersih, sudah mulai senyum dan mendekat ke bangku Amir dan sekitarnya. Alhamdulillah.

“Mir kau juga jemput bola ya, kasihan Gundi. Hargailah peningkatannya.”

“Iya Bu, terima kasih atas kepercayaan Ibu pada saya. Pamit dulu ya Bu.”

Begitulah kisah Gundi, teman-teman sekelasnya, dan Ibu Wali Kelasnya. Insya Allah semua lancar dan sukses. Gundi, Ibu nanti sore akan sms kalau kau belum laporan. Anakku sayang, kau termasuk hebat. Kerajinanmu sudah tampak meningkat. Ternyata kaupun merasa rugi selama ini. Sekarang kau mulai menyadari kesalahanmu dahulu hingga kau ketinggalan dalam banyak hal dibanding teman-teman seusiamu. Insya Allah tak ada aral melintang. Berdoa dan berjuanglah anakku, doa ibu selalu menyertaimu.