Category Archives: Kisah Hidupku

Memaknai Hari Ibu

Hingga pagi hari ini saya masih memperoleh ucapan selamat hari ibu. Terima kasih banyak atas perhatiannya, semuanya, di mana saja. Kami sekeluarga sedang mudik ke Jawa Tengah tempat kelahiran orang tua dan ke makam keluarga besar. Kami ber Hari Ibu ke Eyang, Bude/pakde (Kakak dari bapak), dan  sesepuh lainnya. Alhamdulillah kami bisa melaksanakannya dalam liburan ini.

Ketika saya membuka FB, kembali saya mencari renungan subuh dari mantan siswa jadul (jaman dulu), prof. Kudang Seminar. Saya tertegun membaca sharing beliau tentang makna sesungguhnya dari Hari Ibu. Oleh sebab itu saya meminta ijin share dan sekarang saya sharingkan di sini. Insya Allah amat bermanfaat.

Hari ibu akan lebih  bermakna dan bermanfaat jika tidak hanya dilihat dari perspektif ibu-ibu (wanita) saja tapi juga harus dilihat dari kaitan eratnya dengan perspektif  bapak-bapak. Nabi Muhammad SAW bersabda bahwa wanita (ibu) adalah tempat pendidikan anak-anak (madrosatul aulad) dan tiangnya negara (imaadul bilad). Jika wanitanya rusak maka rusaklah anak-anaknya dan juga keluarga bahkan bisa lebih besar dampak kerusakannya di luar keluarga. Kita semua berharap dan berdoa … semoga para ibu (wanita) menjadi orang orang mulia.

Untuk seorang ibu (wanita) itu mulia (memiliki akhlak dan ilmu yang baik) maka ALLAH SWT telah mengamanahkan para suami untuk menjadi kepala rumah tangga yang baik dan memperlakukan, membina, serta mendidik istrinya dengan penuh hikmah sebaik mungkin (ma’ruf) dan tidak berlaku semena-mena dan otoriter terhadap para istri.

Maka dari itu, hari ibu juga harus dijadikan sebagai momen bagi para suami untuk evaluasi diri dan bebenah diri agar dapat menjadi pemimpin rumah tangga serta suami yang baik, bijak, penuh kasih sayang terutama kepada istrinya agar istri dapat memerankan fungsi ibu yang terbaik, damai, penuh semangat, menjadi pengharum dan penyejuk suami serta menjadi pendidik anak-anak yang baik.

Oleh karena itu perintah dan peringatan ALLAH SWT sangat tegas dan keras dalam hal ini: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang kayu bakarnya adalah batu dan manusia” (At-Tahrim:06). Sedangkan Nabi SAW bersabda: “Cukuplah dosa seseorang itu dengan menyia-nyiakan keluarganya (istri dan anak)”. Maksudnya tanpa berbuat dosa yang lain, maka menyia-nyiakan keluarga sudah memenuhi syarat cukup untuk menjadi pendosa. Kita harus prihatin dan peduli terhadap wanita yang menderita dan sengsara akibat ulah suami yang lalai dan tidak bertanggung jawab.

Seyogyanyalah hari ibu juga dimaknai sebagai hari bapak. Ibu yang mulia bisa menjadikan suami mulia; suami yang mulia bisa menjadikan istri yang mulia. Wanita (istri) itu adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi istrimu. Subhanallah.

Insya Allah kita dapat menyadari pentingnya makna Hari Ibu yang tak sekedar karena merawat kita, dan pentingnya makna Bapak di Hari Ibu ini.

Iklan

A teacher never gets bored

Sepanjang hidupku menjadi guru, sejak dijuluki guru kecil ketika umur 12 tahun hingga sudah purna tugas dari PNS, rasanya aku tak pernah bosan. Apalagi sekarang, anak didikku berada dimana-mana. Kapanpun pembelajaran dapat berlangsung. Mengapa bisa demikian? Bagaimana tidak, kita sekarang hidup di jaman internet. Ya … tentunya pembelajaran melalui internet tak mengenal batas ruang dan waktu.

Sekarang aku mendapat banyak julukan baru. Kata anak-anak aku adalah guru sms. Setiap sore hingga malam hari ada saja yang belajar melalui sms. Bagaimana dengan pulsa? hehehe, sekarang pulsa sudah tergolong murah meriah, alhamdulillah. Ada lagi julukan lain, guru dunia maya kata mereka. Anak-anak itu memang lucu, menggemaskan, ada-ada saja kalau memberikan julukan kepadaku. Berarti sebagian hidupku berada di dunia maya? Iya benar, aku memiliki rumah di dunia maya. Tidak percaya? Blog ini adalah salah satu rumah mayaku. Bahkan aku memiliki beberapa rumah di dunia maya ini, hehehe. Silakan berkunjung di rumah mayaku yang artikelnya ribuan. Alamatnya di http://etnarufiati.guru-indonesia.net Tidak heran kan? Siapa saja bisa kesana, bahkan tempatnya luas tak berdinding, hehehe.

Karena saya suka humor, ada yang mengatakan bahwa saya tergolong guru gaul. Alhamdulillah. Pernah diajak makan bersama, OK. Yah begitulah anak-anak, mereka menyenangkan, tak pernah membuatku bosan. Sebagian besar pengalamanku yang menyenangkan dengan mereka sudah kusimpan di rumah mayaku. Kalau kami merasa kangen, kami bertemu disana. Karena kami dekat, maka mereka sering curhat dan sebagian curhatnya juga sudah kusimpan di rumah tersebut. Pembinaan karakter dan beberapa lika-likunya juga ada di almari maya.

Bagaimana dengan rekan-rekan? Semua memiliki rumah maya sepertiku kan? Sebagian dari rumah maya itu aku sudah berkunjung. Insya Allah dengan rajin menulis artikel dan mempostingnya ke dalam blog, kita dapat selalu bersama melayani anak bangsa. So, is it true? A teacher never gets bored. Alhamdulillah, hidup ini menjadi makin indah.

Terus nyalakan cahaya itu Bu

Bangsaku bulan Desember adalah bulan kasih sayang, terutama kasih ibu, karena sebentar lagi, tanggal 22 Desember kita akan memperingati hari Ibu. Marilah kita isi bulan ini dengan perjuangan yang optimal dalam melayani bangsa, dengan senyum penuh kasih sayang. Sesungguhnyalah mereka sangat memerlukan kita. Alhamdulillah, dalam hidup ini kita mendapat tugas yang amat mulia, yaitu mendidik bangsa.

Pagi ini saya juga melakukan hal sama, melayani bangsa. Namun khusus hari ini saya melakukan tugas hanya melalui dunia maya di rumah. Alhamdulillah sejak Subuh saya merasa segar, sehingga aktivitasku di dunia maya kumulai pagi ini.

Tiba-tiba airmataku menetes, teringat almarhumah ibu Mardyah. Beliau adalah guru idolaku, guru kimia yang membuat aku menjadi guru kimia pula. Bahkan pada suatu saat, ketika aku harus membina guru kimia pada pemantapan kerja guru (PKG), beliau menjadi peserta. Beliau merasa bahagia karena sepak terjangku seperti beliau. Setelah kegiatan berakhir, aku meminta kesediaan beliau untuk membantu membina guru. Beliau mendekapku dan menyanggupi usulku. Beliau mengatakan ‘Kebo nyusu gudel.’ Kuteringat dengan jelas, beliau menangis dan bergumam ingin mengabdikan diri untuk melayani bangsa diakhir hidup beliau.

Kubuka artikel ‘Kuikuti jejakmu, Guru’ dan kubaca lagi tulisanku. Aku bangga padamu, guru idolaku. Menjelang Hari Ibu ini, aku ingin mengenangmu lagi. Kemudian kubaca lagi komentar para siswa yang tercantum di bawah artikel. Mataku tertuju pada sebuah komentar. Aku tidak mengenal siswa ini, dia bukan anak didikku di sekolah tempatku mengajar. Namun dia adalah siswaku juga, kelasnya menggunakan dunia maya. Alhamdulillah, dengan menulis pengalaman mengajarku di blog ini dan menulis apa saja yang bisa kuberikan kepada bangsa, ternyata amat bermanfaat bagi mereka. Berikut komentar dan balasan yang kuberikan.

No Komen : 10 Diah Ayu Lestari :: 13-01-2012 19:29:04

Setiap kata yang Ibu tulis memberikan semangat bagi semua yang membacanya…. Terus nyalakan cahaya itu Bu.. Meski lewat bacaan ini, saya telah merasakan kehangatan akan pentingnya GURU… Siswa SMAN Situraja – Sumedang.

:: Reply ::

Terima kasih sayang, bahagia tak terukur mendengar bahwa kau memerlukan kami tuk melayanimu meraih cita-cita. Paling tidak melalui blog ini ibu akan terus tanpa henti memotivasimu dengan memberikan pengalaman ibu tuk dapat kau gunakan sebagai modal perjuangan bersama yang lain. Jangan segan bertanya atau meminta penjelasan apapun dariku sayang, blog ini kutulis untukmu agar bangsa Indonesia menjadi makin baik.

Marilah rekan-rekan guru, kita tulis pengalaman mengajar, materi pembelajaran, dan apapun yang kita miliki untuk kita berikan kepada bangsa. Mereka memerlukan kita, walaupun kita tak dapat bertemu, mereka dapat memanfaatkan blog pribadi kita. Diah Ayu Lestari adalah salah satu contoh siswa yang merasa memerlukan kita. Dia telah memberikan motivasi yang amat berharga kepada guru, tuk terus menyalakan cahaya, memberikan kehangatan kepadanya. Salam perjuangan dan sukses selalu, amin YRA.

I love teaching

Sejak kecil aku senang bermain sekolah-sekolahan dan aku menjadi guru. Kami benar-benar belajar lho, bahkan PR (pekerjaan rumah/home work) kami kerjakan bersama. Kami saat itu tak mengenal diskusi atau sejenisnya, namun ternyata itulah yang kami lakukan. Aku tertawa sendiri ketika teringat masa itu, hehehe.

Ketika duduk di bangku SMP bapak wafat dan aku bersama kedua kakak membantu ibu mencari sesuap nasi, agar ibu dan kami 8 bersaudara dapat hidup sehat dan kami dapat melanjutkan sekolah. Ketika itu, beberapa saat kami sekeluarga sempat tidak mampu membeli beras, apalagi daging. Alhamdulillah, ibu pandai memasak. Singkong sebagai pengganti nasi, ternyata hingga kini kami menyukainya.

Ibu menjual nasi bungkus dan kakak membantu beliau. Pendapatan ibu ditambah uang pensiun bapak, belum cukup untuk keperluan sekolah. Ketika itu aku berupaya mencari jalan keluar dan akhirnya aku memberi les privat anak-anak SD dan SMP. Aku dipanggil bu guru kecil. Panggilan ini membuatku makin senang menjadi guru, sehingga aku selalu berupaya agar murid-murid lesku sukses semua.

Suatu hari seorang ibu berkata kepadaku, bu guru kecil, kalau bu guru bisa membantu anakku hingga mendapat ranking kelas, paling tidak ranking 2 atau 3, maka akan kubayar banyak sekali. Ku anggukkan kepalaku dan sejak hari itu aku meningkatkan belajarku agar bisa mengajar lebih baik lagi.

Syukur alhamdulillah, muridku itu bisa peringkat 2 dan aku dibelikan sepeda engkol yang bagus serta uang yang banyak sekali. Ayah wafat dalam usia 43 tahun, ibu berusia 36 tahun. Aku meminta ibu untuk menolak semua orang yang melamar beliau, sebab penghasilan kami sudah cukup untuk hidup tenang, sehat dan semua bisa sekolah. Di saat terakhir, ibu tidak lagi berjualan nasi, namun menjadi guru bahasa Jawa, bahasa Belanda, dan Bahasa Inggris.

I love teaching. Aku sangat menyukai bahkan mencintai pekerjaanku sebagai guru. Ketika itu ibuku berpesan bahwa guru itu harus dapat digugu lan ditiru. Dianut dan diteladani. Kau senang mengajar, maka menjadilah guru untuk dirimu sendiri. Setelah itu keberhasilanmu yang membuat kau dapat dianut dan diteladani, tularkan ke murid-muridmu. Asuh mereka dengan hati, panjangkan nalarnya sedikit demi sedikit. Sabar dan telatenlah melakukan pekerjaan yang kaucintai ini.

Mengapa aku menyukai mengajar? Menurutku, teaching is the best job in the world, hehehe sungguh lho. A teacher never gets bored. Apakah karena aku suka sekali menjadi guru, bahkan sejak aku masih anak-anak, maka selama ini aku tak pernah merasa bosan? Mungkin iya, mungkin ada alasan yang lain. Apakah faktor keturunan? Karena bapak dan ibuku pernah menjadi guru? Hehehe, mungkin juga ya.

Ketika kita berpikir lebih dalam, faktor penyebabnya dapat berasal dari anak didik. Banyak hal yang menyenangkan di saat mendidik mereka. Maksudku bukan hanya disebabkan oleh berbedanya murid dari tahun ke tahun, namun sebenarnya juga disebabkan oleh keunikan murid yang terjadi setiap harinya. Hal ini amat berbeda dengan bekerja di kantor menghadapi komputer dan kertas.

Guru menghadapi murid dan membantu pengembangan nalar serta karakternya. Pekerjaan yang dilakukan oleh guru itu amat abstrak, Nothing is predictable, Nothing is ever the same. Tak ada yang dapat diprediksi, Tak ada yang pernah sama. Itulah tantangan yang sungguh amat indah dalam hidup ini, tantangan untuk beradaptasi. So, what it more important in my job is the ability to adapt, to improvise, to take quick decisions. Every minute in class is a challenge and this is really exciting. Allahu Akbar. Insya Allah aku masih dapat melakukannya sampai akhir hayat, sehingga dapat terus mendampingi bangsa yang setiap saat masih memerlukan kami, amin YRA.

Berupaya untuk selalu disiplin

Alhamdulillah hingga saat ini aku dapat berupaya untuk selalu disiplin dalam melakukan apapun. Disiplin itu benar-benar amat penting dalam kehidupan kita. Disiplin harus dibiasakan sejak kecil. Kalau kita sudah terbiasa disiplin, maka dalam melakukan aktivitas sehari-hari, kita akan terhindar dari faktor lupa. Lupa dalam hal apapun, misalnya lupa menggunakan rem untuk menahan emosi. Bisa dibayangkan, andaikata kita tidak terbiasa disiplin, maka kita akan sering lupa menahan diri untuk tidak emosi. Ketika terjadi hal-hal yang membuat kita tak sabar, tak terasa kita telah melanggar aturan.

Dengan terbiasa disiplin, Alhamdulillah tidak ada sedikitpun keinginan untuk melanggar aturan, meski hanya dalam batin, apalagi tercetus melalui kata-kata. Hidup ini menjadi sangat indah, Insya Allah kita dapat berbahagia sepanjang hayat. Pada setiap hembusan nafas kita selalu sadar bahwa apapun yang kita pikirkan, rasakan, lakukan adalah hal terbaik bagi kita sendiri dan bagi siapa saja, amin YRA.

Aku terdidik di lingkungan keluarga yang sederhana. Maksudku pikiran, perasaan, pembicaraan, makanan, minuman, semuanya serba sederhana. Setiap hari waktu demi waktu terisi dengan hal-hal yang tak berlebihan. Sejak kecil terbiasa bangun tidur selalu sebelum subuh, pekerjaan rumah dilakukan secara gotong royong. Ada pembagian kerja, namun setiap diperlukan kami juga bekerja secara tim dengan kompak.

Berangkat sekolah, kami selalu sarapan. Di sekolah, kami tidak pernah membeli makanan/minuman apapun, karena kami telah menyiapkan bekal. Pulang sekolah selalu berganti pakaian; siang hari tidur, sore bermain sebentar kemudian belajar. Jam 9 malam sudah harus tidur. Alhamdulillah, orang tua kami sungguh telah melakukan yang terbaik untuk kami.

Setelah besar dan berkeluarga, hingga tiba saat purna tugas, ternyata pendidikan orang tua selalu kami lakukan secara dinamis. Ternyata pendidikan itu dilanjutkan oleh anak-anak kami, sehingga upaya disiplin dari cucu-cucu kamipun mirip dengan kejadian sewaktu kami dididik oleh orang tua pada zaman itu. Rasanya pendidikan karakter tidak ada istilah orla atau orba, maksudnya cara lama atau baru. Memang peningkatan demi peningkatan tetap amat diperlukan, penyesuaian juga perlu diaplikasikan.

Atas anjuran ibu dan guru kimia yang kuidolakan, maka hingga kini – walau sudah purna tugas, aku tetap berupaya untuk disiplin mengisi hidup ini dengan hal-hal yang baik bagi bangsa. Saran menjadi guru sepanjang hayat ternyata masuk ke hati sanubariku. Oleh sebab itu, hingga saat ini aku masih mengajar.

Selain mengajar, aku suka membaca dan menulis. Sampai detik ini aku tetap rajin duduk di depan laptop mengetik artikel-artikel yang menyangkut kehidupan sehari-hari. Diantaranya tentang pelajaran kimia, contoh-contoh pembelajaran berdasarkan pengalaman, pembinaan karakter, lingkungan hidup, kesehatan, dan masih banyak lagi. Insya Allah secara bertahap akan terus kutulis pengalaman hidupku dalam blog. Blogku ada beberapa; cerita inspiratif ini adalah blog yang baru saja kubuat. Insya Allah cerita/kisah hidup yang kutulis di sini dapat menginspirasi bangsa, sehingga bersama kita dapat selalu berupaya berbuat yang terbaik.

Minimal sehari satu artikel, ku harus berupaya untuk mempostingnya. Apapun yang ku posting harus tulisan sendiri, pengalaman sendiri, hasil survey, kisah nyata, dan sejenisnya. Sesederhana apapun kalau tulisan sendiri rasanya lega sekali. Aku tak boleh sampai terjangkit faktor lupa dan mengcopy paste artikel milik orang lain.

Insya Allah aku dapat berupaya terus menerus dari waktu ke waktu untuk menegakkan disiplin. Disiplin menulis dan update artikel harus kulakukan agar tidak mengecewakan pembaca dan pengguna blog. Ketika ada artikel website lain yang bagus dan penting, saya telah dan akan berupaya untuk melink dan membahasnya. Insya Allah kebiasaan ini tak akan luntur oleh apapun. Walaupun suatu ketika badai itu datang, Insya Allah tidak mengenai kita. Andaikan faktor lupa itu datang tak terasa, Insya Allah badai itu berlalu ketika kita kembali berupaya untuk disiplin.

Keputusanku untuk menjadi bu guru kecil

Kali ini aku ingin bercerita tentang perjuangan hidupku ketika menentukan pilihan yang tak terpikir sebelumnya, yaitu menjadi bu guru kecil saat masih sekolah di bangku SMP. Insya Allah kisah ini dapat memotivasi pembaca, entah bagian mana dari kejadian yang pernah kulakukan ini. Mungkin pembaca akan tersenyum, atau apalah yang terpikirkan dan dirasakan, hehehe aku merasa bahagia saat menulis kisah ini.

Masih kuingat betul, ketika itu aku duduk di bangku SMP kelas 2. Kalau ke sekolah aku berjalan kaki melewati gang-gang kecil, kurang lebih 2-3 km. Badanku kecil dan rambutku pendek sekali. Sepatuku satu, sepatu olah raga berwarna hitam. Jalanku cepat sekali, seakan lari lambat. Baju seragamku 2, satu kupakai, satu kucuci. Kami 8 bersaudara, yang bungsu umurnya belum 1 tahun. Ibu bekerja di kantin menjadi tukang masak. Semua ini terjadi setelah bapakku wafat dan dana peninggalan beliau sudah menipis. Aku mempunyai satu kakak laki-laki dan satu perempuan. Kami bertiga membantu ibu mencari uang.

***

Saat masih ada bapak, aku agak nakal dan malas belajar. Kalau bermain selalu dengan anak laki-laki, yaitu suka sekali bermain layang-layang, kelereng, dan sejenisnya. Nilaiku sejak SD kelas 3 hingga SMP kelas 1 pas-pasan, hehehe. Hampir semua pelajaran memperoleh nilai 6 di rapor, nilai 7 hanya satu, dan nilai 8 juga satu. Sedangkan pada waktu TK dan SD sampai dengan kelas 2 aku tergolong pandai. Kakakku laki-laki sering kena marah, karena dianggap tidak dapat membimbing adik-adiknya. Kakakku selalu menjadi juara kelas, namun saat itu aku tak ingin banyak belajar. Bermain lebih menyenangkan bagiku.

***

Ketika kenaikan dari kelas 1 ke kelas 2, bapakku wafat mendadak karena terkena serangan jantung. Pada waktu bapak dimakamkan, di rumah banyak sekali orang. Ketika pemakaman selesai, sebagian tamu pulang, dan sebagian lagi terus berdoa hingga 7 malam. Setelah 7 hari, rumah sepi sekali dan ibu mengumpulkan kami semua. Kami mengatur kamar bapak yang agak amburadul. Ternyata almari tidak terkunci dan peti besi tempat bapak menyimpan uang hilang.

***

Ibu hamil 9 bulan, namun beliau amat tabah. Selalu tersenyum walau dimatanya terdapat kepedihan yang dalam. Kubantu ibu menghitung uang pemberian tamu-tamu. Di almari bapak masih ada dompet berisi uang dan di bawah baju ada amplop berisi uang agak banyak. Semua uang itu disimpan dengan baik oleh ibu, dan kakakku membelikan kunci untuk almari bapak yang memang tak pernah dikunci. Kata ibuku kami yang sudah besar, kakakku SMA naik kelas 2 Pas (Ilmu pasti/eksakta), kakakku yang nomor 2 dan aku sama naik ke kelas 2 SMP, harus membantu mencari uang agar kami sekeluarga bisa makan dan sekolah, paling tidak sampai SMA.

***

Pada awal perjuangan, kami bertiga membantu ibu berjualan nasi bungkus. Namun karena pendapatan setiap harinya amat sedikit dibanding dengan kesibukan yang kami rasakan, maka ibu mencari pekerjaan lain. Untung hanya dalam 2 hari mencari pekerjaan, ibuku diterima menjadi koki di suatu kantin. Ibuku memang pandai memasak. Setiap hari kami tak perlu lagi tidur larut malam dan bangun jam 3 pagi, karena penghasilan ibu cukup untuk sementara. Setiap pulang dari kantin ibu selalu membawa nasi dan lauk yang cukup untuk kami sekeluarga.

***

Lima minggu setelah bapak wafat, adikku yang bungsu lahir laki-laki. Untung tempat kerja ibu dekat dengan rumah, sekitar 1 km. Aku dan kedua kakakku berunding untuk sekolah sambil cari uang, agar dapat membeli buku, buah, vitamin, dan uang saku. Kami sepakat dan kakakku laki-laki bekerja di toko, kakak perempuan jualan kue di depan rumah, aku menjadi guru kecil. Ibu tak dapat melarang kami dan beliau mengingatkan agar kami tidak boleh terlalu memaksa diri, harus tekun belajar, dan sebagian uang ditabung. Kami menurut nasehat beliau dan kami dapat menunjukkan hasil nilai kami. Kakakku yang laki-laki dan aku bisa 3 besar di sekolah, sedang kakak perempuanku nilainya pas-pasan karena memang sering sakit.

***

Di sekolah aku selalu datang terpagi. Aku langsung duduk di bangku dan membaca pelajaran hari itu. Sekitar 10 menit kemudian, datang temanku sekaligus sebagai muridku. Dia anak orang kaya dan aku memberi les di rumahnya. Ibunya memanggilku bu guru kecil. Setiap pagi dia minta untuk diajari lagi, walaupun setiap pulang sekolah aku selalu pergi ke rumahnya. Beberapa saat kemudian terdengarlah lonceng berbunyi tanda masuk kelas dan pelajaran akan segera dimulai.

***

Sambil mengetik, terpikir olehku akan keputusanku untuk menjadi bu guru kecil. Kuperhatikan, penghasilan ibu, dan kakakku tak terlalu banyak. Bahkan hanya cukup untuk menopang hidup sederhana sekeluarga. Pakaian kami juga sedikit, dapat dihitung dengan 5 jari saja. Aku berpuasa, memohon kepada Allah SWT agar kami dapat hidup lebih baik. Tiba-tiba tak terasa, aku menceritakan keadaan hidup kami ini kepada temanku yang kaya dan agak malas belajar. Alhamdulillah satu teman yang kutuju bersedia dan saat itu pula aku mulai ke rumahnya sepulang sekolah. Ibunya setuju dan mulailah aku menjadi bu guru kecil.

***

Rasanya untuk kali ini cukup banyak yang sudah kutulis. Insya Allah kisahku menjadi bu guru kecil akan kulanjutkan lagi, mungkin berupa cuplikan-cuplikan kisah yang mengesankan dalam hidupku. Bagaimanapun, pengalaman menjadi guru kecil ini sungguh merupakan kejadian yang luar biasa dalam hidupku. Alhamdulillah, hingga sekarang walau sudah purna tugas dari PNS Allah SWT masih memberi kesempatan padaku untuk terus menjadi guru, melayani bangsa. Insya Allah kubisa melaksanakan tugas ini hingga akhir hayat, amin YRA.

Sesuatu yang kuingat ketika umurku 2 tahun

Ketika aku berusaha mengingat masa yang telah silam, Alhamdulillah aku bisa mengingat dengan jelas suatu kejadian pada 60 tahun yang lalu. Satu demi satu kenangan masa lalu bermunculan dipikiranku. Masih terngiang di telingaku suara khas mendiang ibu, ketika suatu hari aku bertanya.

“Ibu, waktu aku pertama kali ingin sekolah, aku diam-diam mengikuti kakak ke sekolah Taman Kanak-kanak. Berapa umurku waktu itu Bu? Dua tahun ya Bu?”

“Iya, 2 (dua) tahun lebih. Sejak itu kamu terus berangkat ke sekolah, meskipun kakakmu selalu marah karena malu dengan teman dan gurunya. Hehehe, namun ibu tidak pernah melarangmu, karena ibu tahu bagaimana sifatmu.”

Ya, itulah yang dikatakan oleh ibu, saat aku masih berumur 2 (dua) tahun lebih dan kakak 5 tahun.  Aku mengendap-endap berjalan keluar rumah membuntuti kakak yang berangkat ke sekolah. Aku tak pernah memakai rok dan belum pernah diajak pergi. Hari itu aku memakai celana monyet.

“Lho mana tadi kakak? Oh itu dia.” Ternyata kakak kalau berjalan tak secepat aku dan tak pernah menengok ke belakang. Jadi tak mungkin aku ketahuan. Dari rumah, aku berjalan lurus ke depan sekitar 100 m, kemudian ada pertigaan jalan, aku membelok ke kiri. Setelah berjalan kurang lebih 30 m, belok lagi ke kiri. Di sana ada 4 (empat) rumah berderet dan rumah paling ujung adalah sekolahnya kakak.

Di sana ada sebuah ayunan dan sebuah “plorotan” (bahasa Jawa). Di dekat ayunan ada sebuah pohon mangga, tak begitu tinggi, namun rindang. Di pohon itu terdapat seekor kera kecil dan lucu yang diikat dengan rantai besi. Halaman sekolah cukup luas dan berpagar tanaman luntas. Aku bersembunyi di pagar itu. Kulihat, satu demi satu teman-teman kakak pada datang, bu gurunya belum kelihatan.

“Teng … teng … teng.” Oh ternyata teman kakak yang membunyikan bel. Murid-murid berbaris, di depan mereka tahu-tahu sudah ada bu guru. Setelah mereka rapi, terus satu persatu berjabat tangan dengan bu guru dan masuk kelas.

Dari tempat persembunyian, aku melihat mereka mulai belajar. Aku mengendap-endap mendekati pintu kelas. Hehehe … akhirnya sampai di tembok kelas dekat pintu masuk dan aku berjongkok disitu sambil mendengarkan. Karena aku ingin mendengarkan suara bu guru, aku memejamkan mata agar lebih konsentrasi. Ya suara itu makin jelas, murid-murid diminta melipat kertas dan membuat sebuah perahu. Aku sudah bisa, boleh tidak ya masuk ke dalam, ikut sekolah? Aku tak boleh ragu, ya aku ingin sekolah. Aku harus mengetuk pintu, memberi salam. Sopan … ya harus sopan dan tidak boleh sampai ditolak, berjuang sampai diperbolehkan sekolah. Kubersihkan wajah, badan, tangan dan kaki, oh untung aku selalu memakai sandal. Senyum … ya harus senyum. Akhirnya aku berjalan tegap mendekati pintu. Kuketuk pintu itu sambil memberi salam.

“Selamat pagi bu guru.” Wah gurunya dimana ya, kok tidak kelihatan. Oh itu membetulkan perahu murid yang sebelah sana. Kutunggu saja dahulu. Nah … itu bu guru berjalan ke depan.

“Selamat pagi bu guru.”

“Selamat pagi. Eh siapa kamu nak?”

“Nama saya Fifien bu guru, bolehkah saya ikut bersekolah? Saya ingin sekali sekolah, saya dapat membuat perahu itu. Boleh ya bu?” Oh bu guru itu berpikir sejenak, kemudian menjawab dengan tersenyum.

“Fifien, kamu harus memakai rok dan kamu juga masih sangat kecil, ayo bermain di luar, itu ada ayunan. Kamu boleh bermain ayunan.”

“Bu guru besok saya akan memakai rok, mau meminjam roknya kakak. Sekarang saya ingin sekali ikut sekolah, duduk di bawah juga tidak apa-apa bu, kan Fifien tidak membayar uang sekolah. Kalau nanti sudah seperti mereka, Fifien juga akan membayar bu. Boleh kan bu?”

“Ya sudah, duduk di bawah sini, jangan nakal, ibu akan ambilkan kertas lipat untukmu.”

Ya Allah, terima kasih, aku ingin sekolah. Aku akan belajar dengan baik dan menurut pada bu guru.

“Ini kertas lipat untukmu, buatlah mainan terserah kamu. Duduk disini saja, jangan masuk ke dalam, nanti murid-murid yang lain jadi ribut dan tidak belajar.”

“Iya bu terima kasih. Saya disini saja, asalkan saya boleh belajar.”

Selagi aku asyik membuat perahu, tahu-tahu ada murid yang mendatangiku.

“Eh anak kecil, siapa kamu? Mengapa kamu ada disini dan duduk di bawah? Lho kamu kok bisa membuat perahu.”

Saya belum sempat menjawab, eh dia teriak-teriak pada teman-temannya.

“Teman-teman ini ada anak kecil disini, bisa membuat perahu bagus sekali.”

Kemudian mereka berlari mendekatiku, melihatku. Oh kakakku juga mendekatiku. Ya tampaknya dia marah.

“Lho mengapa kamu mengikutiku sampai kesini? Mbak kan sedang sekolah, kamu masih kecil, pakaianmu juga seperti itu, mbak malu lho, nanti mbak di marah sama Bu Anik. Ayo kamu pulang saja, kalau lupa jalannya, mbak yang antar kau pulang.”

Belum sempat aku menjawab, bu guru … ya namanya bu Anik, mendatangiku.

“Ayo anak-anak kembali ke tempat dudukmu masing-masing. Selesaikan perahu kalian, setelah itu kalian akan menggambar. Tidak boleh menggerombol disini ya.”

“Bu ini adiknya Tyas, kok ikut membuat perahu disini bu. Boleh ikut sekolah ya? Duduk sama saya ya Bu, dia dapat membuat perahu dan bagus sekali, saya ingin diajari bu.”

“Jangan Bu Anik, adikku masih kecil, nanti mengganggu. Bu saya pamit pulang dulu mengantar adik.”

“Tyas, biarkan adikmu di situ, tidak mengganggu kok, dia juga bisa membuat perahu seperti kalian, tuh perahunya bagus sekali. Kamu duduk lagi ya, biar nanti bu Anik yang mengurus adikmu.”

“Iya Bu, tapi hari ini saja ya bu, saya malu.”

“Mengapa malu sayang, adikmu ingin sekolah dan dia ternyata pintar.”

“Jangan bu dia masih kecil, belum waktunya sekolah. Nanti dia cepat tua lho Bu.”

“Hahaha, kamu lucu Tyas, sudahlah ayo kembali ke bangkumu lagi.”

Saya tenang saja dibicarakan seperti itu. Untung saya tadi sudah berusaha sopan, tidak nakal seperti yang dikatakan kakak. Semoga saya boleh ikut sekolah terus. Bu Anik kemudian meminta murid-murid mengangkat perahunya dan bu Anik keliling melihat perahu itu.

“Anak-anak, perhatikan perahu teman kalian. Perahu mana yang paling bagus?”

Saya juga ikut mengangkat perahuku. Ternyata ada satu perahu yang bagus, yaitu perahu milik murid yang tadi mau mengajak saya duduk di bangkunya.

“Ita Bu yang perahunya paling bagus.” Teriak murid-murid.

“Iya benar, selamat ya Ita perahumu paling bagus.”

“Tidak bu yang paling bagus itu perahu adiknya Tyas. Itu dia juga mengangkat perahunya. Ayo teman-teman kita lihat perahunya, bagus sekali lho.”

“Iya bu Anik, perahunya bagus.”

“Oh iya, wah … Fifien pandai sekali ya membuat perahu. Selamat ya sayang, besok kamu boleh ke sini lagi.”

Alhamdulillah, aku senang sekali. Ternyata perahuku paling bagus. Mulai besok aku harus sekolah terus dan harus pintar.

“Terima kasih bu Anik, terima kasih semuanya. Besok saya ikut sekolah lagi ya.”

“Bu Anik, adikku sekolahnya pupuk bawang ya, duduk di bawah dan tidak bayar sekolah, iya bu?”

Aku diam saja sambil berdoa, semoga bu Anik tidak merubah lagi keputusannya. Kalau dipikir-pikir, berarti kakakku sudah setuju dengan bu Anik. Ya ya ya, asyik deh.

“Iya Tyas, tidak perlu membayar uang sekolah. Adikmu duduk di bawah karena bangkunya habis dan adikmu kan ingin melihat kalian belajar. Dia tidak mengganggu, jadi ibu membolehkan dia besok datang lagi.”

Begitulah kisahku saat pertama kali bersekolah, hehehe ‘pupuk bawang’. Lumayanlah tidak perlu membayar uang sekolah. Tidak apa-apa duduk di bawah. Namun hari demi hari aku makin terampil dan bisa belajar apa saja seperti yang lain. Setiap membuat sesuatu, milikku selalu terbaik, namun kalau menulis, ehmm … tulisanku kurang baik, hehehe.