Tag Archives: pendidikan

Part 7: Dia berjuang menghapus cap super malasnya

Gundi si anak malas itu ternyata masih terus berupaya untuk menjadi anak baik dan rajin. Namun tak mudah baginya utuk menghilangkan cap yang sudah terlanjur menempel. Dia sudah dikenal sebagai anak super malas. Beberapa guru masih tak percaya terhadap perjuangan Gundi. Beberapa teman Gundi juga mulai terhasut oleh Dono si ego itu.

Sambil mengoreksi pekerjaan siswa, saya terus mengamati Gundi yang sedang menghadap guru bahasa Inggris. Nah itu dia berdiri dan menerima buku tugasnya dari bu guru BIG (bahasa Inggris). Dia kelihatan mulai berjalan menuju pintu depan dan … oh gurunya juga mengikutinya dari belakang. Saya keluar untuk melihat tujuan mereka. Lega sekali saya, ketika mereka menuju kelas. Jadi jam 1 dan 2 bahasa Inggris. Segera saya sms Amir. Dia segera membalas, katanya jam 1 dan 2 bahasa Inggris dan baru saja bu BIG masuk kelas bersama Gundi. Hehehe dengan cepat saya sms lagi dia, bertanya apa yang mereka kerjakan selama menunggu. Amir membalas, diminta membuat dialog dengan topik anak malas. Hah? Berarti guru itu menyindir Gundi, kasihan anak itu.

Pada jam pelajaran ke 3 dan 4 saya mengajar di kelas sebelah kelas Gundi. Saya merasa rindu padanya. Ingin sekali saya menghiburnya, untuk tetap sabar menghadapi semua tantangan. Oleh sebab itu saya sengaja nyasar (salah kelas) agar dapat melihatnya, hehehe. Setelah saya memberi salam dan dijawab dengan lantang oleh siswa, saya masuk dan berdiri di salah satu bangku siswa agar bisa melihat Gundi. Sebelum berbicara, beberapa siswa mengingatkan saya. Alhamdulillah saya dapat melihat Gundi. Dia senyum dan menganggukkan kepala. Alhamdulillah, berarti pertemuannya dengan bu BIG beres. Mungkin dia bisa mengambil hati beliau. Insya Allah begitu.

“Ibuuu … salah masuk.”

“Ibu seharusnya di kelas sebelah.”

“Oh ya? I’m so sorry. Hehehe I’m growing older. OK see you next.”

“It’s OK mom. It doesn’s matter.”

“No mom, you still look young.”

“Really?”

Ha ha ha ha. Kami semua tertawa berbarengan. Lucu juga mereka. Selagi saya melangkah menuju pintu keluar, sempat terlihat 2 siswa yang duduk di bangku paing depan dan pojok dekat pintu berbisik-bisik. Entahlah apa karena saya terlalu peka atau keGRan, saya dekati mereka.

“Sayang, apa yang kalian bicarakan?”

“Tidak ada kok bu, tidak ada apa-apa.”

“Ehmm mungkin memang tak ada apa-apa, namun kau tahu bahwa ibu bisa menebak?”

“Iya bu, maaf. Saya bisikkan ke dia kalau sebenarnya ibu sengaja masuk kelas ini, untuk melihat Gundi.”

Kucubit pipi gadis manis itu sambil tersenyum.

“Kau tahu saja sayang, thx.”

“Maaf Ibupun selalu tahu. Sampai sepandai-pandai nyontek ibu juga tahu, hehehe telepati ya bu.”

Saya mengucapkan salam, kemudian dengan perlahan meninggalkan kelas sambil tersenyum bahagia. Ehmm apapun yang kita lakukan, walau diusahakan tak kentara, namun ada saja siswa yang peka. Hehehe mereka juga bisa membaca perilaku kita, bahkan mungkin mereka bisa lebih peka. Contohnya Amir – luar biasa, untuk hal-hal tertentu justru saya yang belajar dari dia. Subhanallah. Gadis manis tadi itu ibunya psikiater dan ayahnya dokter anak. Hehehe pantas deh, faktor gen. Kalau Amir rasanya memang asli kehebatan ibunya mendidik dia sejak janin. Dasar pendidikan agamanya juga amat bagus, perilakunya aduhai. Tentulah semua itu berasal dari rumah dan tak tergoyahkan oleh keadaan lingkungan di luar rumah.

Kelas yang berada di sebelah kelas Gundi ini sebenarnya tak ada anak yang malas. Namun tingkat berpikir mereka agak homogen, sehingga terasa lebih pasif. Semua kejadian yang perlu mendapat perhatian sudah saya catat di buku harian khusus, hanya saja tak mungkin diungkap di sini. Kali ini saya fokus pada pembinaan Gundi. Setelah pembelajaran jam ke 3 dan 4 ini selesai saya segera menuju ruang guru sebab ada pengumuman penting dari kepala sekolah. Nanti jam ke 5 dan 6 saya mengajar di kelas Gundi.

Kepala sekolah dan 4 waka sudah siap di ruang guru, namun guru yang sudah di tempat baru sekitar 30%. Sambil menunggu guru lain, saya minum teh hangat dan merapikan file pembelajaran.  Setelah kehadiran guru sekitar 80%, pengarahan di mulai. Waka kurikulum menagih perangkat mengajar dan mengingatkan untuk segera entry nilai harian dan tugas. Kepala sekolah menjelaskan tentang program adhiwiyata dan panitianya.  Bel masuk berbunyi dan waka humas menutup rapat singkat ini. Alhamdulillah lancar, pertanyaan hanya satu dan sumbang saran juga satu. Notulen tampak mencatat masukan dan proses rapat.

Ketika saya membuka HP ternyata Gundi sms minta maaf belum berberita sebab sibuk belajar dan membantu ibunya. Guru BIG sudah beres. Alhamdulillah. Saya bergegas menuju kelas Gundi. Di tengah jalan bertemu dengan guru BIG. Beliau titip pesan kalau nanti Gundi diminta ke ruang guru. Wao ada apa lagi ya. Ah sudahlah, suatu konsekuensi memang harus diterima. Insya Allah semua itu untuk kebaikan Gundi.

Di kelas Gundi tak banyak yang bisa saya ceritakan. Pada kegiatan inti para siswa mengerjakan soal di kelompok masing-masing. Setiap kelompok terdiri atas 4-5 siswa, seorang siswa menjadi leader dan seorang siswa lagi adalah tutor sebaya. Setelah itu wakil kelompok (bukan tutor dan bukan leader) menulis hasil diskusi di papan yang kemudian diplenokan. Gundi termasuk wakil yang harus menulis di papan. Alhamdulillah lancar dan keyakinannya membuat dia tampak makin mantap. Pembelajaran dirangkum melalui tanya jawab dan masing-masing kelompok mengumpulkan hasil kelompok dan dilampiri revisi hasil masukan.

Namun pada akhir pelajaran sesuatu terjadi. Dono si ego itu menjegal kaki Gundi ketika balik ke bangku sehabis menghapus papan. Gundi terjatuh dan ketika berdiri dia dipukul oleh Dono. Segera Amir dkk melerai mereka dan saya membawa mereka ke BP dengan melibatkan Humas Kesiswaan. Sayangnya, semua guru menyalahka Gundi sedang teman-temannya membenarkan Gundi. Besok akan diadakan sidang lanjutan dengan menghadirkan kedua orang tua/wali siswa. Ada-ada saja, kasihan Gundi. Insya Allah kerikil-kerikil itu tak tajam dan Gundi mampu  menghalaunya.

Iklan

Sepenggal Kisah Perjuangan Ibuku

Bulan Desember mengingatkanku pada kasih ibu yang tak pernah padam dan tak pernah putus, walau apapun yang terjadi. Ibuku, sosok perempuan yang selalu mengisi hidupnya untuk menyenangkan keluarga dan orang lain. Ibu berjuang tanpa mengenal lelah, senyumnya selalu menghiasi wajah. Begitu besar kasih sayangnya. Kesabarannya tiada tara; ketabahan menghadapi masalah tak tertandingkan; keuletan upayanya tak terbayangkan; kedisiplinannya membuat kami patuh; tutur katanya sangat menyejukkan hati. Rasa syukur dan keikhlasannya tak pernah sirna. Subhanallah.

Bapak bekerja di kantor Gubernur, ibu di rumah merawat dan mendidik kami bertujuh tanpa pembantu. Ibu mengandung adik yang nomor 8. Kami membagi tugas rumah sesuai pilihan. Ibu pandai membuat masakan bergizi dan mengatur menu hingga selera makan kami tak pernah hilang. Kami tak pernah sakit yang serius dan Ibu tak pernah menyiapkan obat. Kata beliau air adalah obat; buah sayur, protein nabati juga mengandung obat. Memasaknya harus sesuai dengan sifat bahan. Vitamin dan mineral sudah banyak dalam asupan tersebut, ibu tak perlu menyiapkan vitamin tablet atau lainnya. Subhanallah, terima kasih ya Allah.

Bapak selalu tampak segar dan suka humor. Sosialnya besar terhadap siapa saja. Beliau wafat di usia 43 tahun, akibat tekanan darah tinggi dan serangan jantung. Suatu ketika bapak mendapat tilpun dari seseorang, beliau terkejut dan pingsan. Selama 7 hari bapak di rumah sakit. Beliau tampak lemah, kemudian tak sadarkan diri. Sebelum pingsan beliau sempat menggenggam tangan ibu, menciumnya dan meminta maaf. Menurut berita terjadi ketegangan di kantor. Saat itu bapak menjabat kepala urusan perumahan. Bulan terakhir kudengar banyak terjadi kekacauan urusan kepemilikan tanah/rumah. Beliau tak pernah mau menerima pemberian/upeti. Ya Allah, terimalah arwahnya di sisiMu beserta amal ibadahnya dan ampuni semua dosanya, amin YRA.

Sepeninggal bapak, ibu yang mengandung 9 bulan mengurus segalanya sendiri. Kakak laki-laki SMA kelas II selalu menjaga kami. Kakak perempuan dan aku kelas II SMP bertugas mengurus rumah, memasak, merawat adik yang masih SD, TK dan satu lagi belum sekolah. Ibu berpesan bahwa kita harus mengencangkan ikat pinggang, tak ada lagi uang saku. Semua harus membawa bekal. Jajanan tidak boleh membeli, harus membuat sendiri. Semua kegiatan harus sesuai jadwal. Alhamdulillah, kebiasaan ini terbawa hingga anak cucu.

Suatu hari ibu mengumpulkan kami, kakak dan aku. Ibu menjelaskan bahwa diakhir hayatnya bapak tergoda oleh sekretarisnya. Semua gaji dan HR bapak sudah diambil. Perempuan itu sering mengajak bapak makan enak, hingga bapak terkena tekanan darah tinggi. Rumah Malang beserta surat-surat di meja diambil oleh kolonel Bambang S, yang kemudian mengalami kecelakaan, badannya hancur. Allah Maha Adil. Jangan marah, kecewa, atau sedih. Kita perjuangkan hidup ini dan pasrah kepada Allah SWT. Uang simpanan di Malang hilang. Beliau tak pernah menabung di bank. Perempuan itu datang dan meminta maaf, ibu memaafkannya. Kalian harus dewasa, lakukan yang terbaik, jangan nakal, malas, atau apapun yang tak disukai Allah SWT. Harus baik pada orang, namun tetap waspada. Bertemanlah dengan orang baik. Itulah nasehat ibu yang selalu kuingat. Ibu hebat sekali. Terima kasih ya Allah.

Semula Ibu dan kakak berjualan nasi, kemudian ibu bekerja di kantin. Sorenya ibu memberi les bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Aku memberi les seluruh pelajaran untuk SD/SMP. Kehidupan kami makin membaik. Agar kami bisa kuliah, ibu bekerja pada Kedutaan Besar Indonesia di Polandia selama 3 tahun. Istri duta besar, teman sekolah beliau. Ibu wafat di usia 72 tahun, karena kesalahan obat generik dari Puskesmas. Di akhir hayatnya ibu tersenyum bahagia. Beliau ikut merasakan kesuksesan putra-putrinya dan mendidik sebagian cucu hingga menjadi pemimpin yang dapat diteladani. Demikianlah perjuangan ibuku yang amat dahsyat. Semoga arwahnya diterima di sisi Allah SWT beserta amal ibadahnya dan diampuni dosa-dosanya, amin YRA. Insya Allah kami keluarga besar R. Soebiyakto alm. dapat terus mengikuti jejak beliau hingga perjuangan meningkatkan pendidikan bangsa Indonesia terwujud, amin YRA.

Selamat Hari Ibu, 22 Desember 2013

Surabaya, 04 Desember 2013

A teacher never gets bored

Sepanjang hidupku menjadi guru, sejak dijuluki guru kecil ketika umur 12 tahun hingga sudah purna tugas dari PNS, rasanya aku tak pernah bosan. Apalagi sekarang, anak didikku berada dimana-mana. Kapanpun pembelajaran dapat berlangsung. Mengapa bisa demikian? Bagaimana tidak, kita sekarang hidup di jaman internet. Ya … tentunya pembelajaran melalui internet tak mengenal batas ruang dan waktu.

Sekarang aku mendapat banyak julukan baru. Kata anak-anak aku adalah guru sms. Setiap sore hingga malam hari ada saja yang belajar melalui sms. Bagaimana dengan pulsa? hehehe, sekarang pulsa sudah tergolong murah meriah, alhamdulillah. Ada lagi julukan lain, guru dunia maya kata mereka. Anak-anak itu memang lucu, menggemaskan, ada-ada saja kalau memberikan julukan kepadaku. Berarti sebagian hidupku berada di dunia maya? Iya benar, aku memiliki rumah di dunia maya. Tidak percaya? Blog ini adalah salah satu rumah mayaku. Bahkan aku memiliki beberapa rumah di dunia maya ini, hehehe. Silakan berkunjung di rumah mayaku yang artikelnya ribuan. Alamatnya di http://etnarufiati.guru-indonesia.net Tidak heran kan? Siapa saja bisa kesana, bahkan tempatnya luas tak berdinding, hehehe.

Karena saya suka humor, ada yang mengatakan bahwa saya tergolong guru gaul. Alhamdulillah. Pernah diajak makan bersama, OK. Yah begitulah anak-anak, mereka menyenangkan, tak pernah membuatku bosan. Sebagian besar pengalamanku yang menyenangkan dengan mereka sudah kusimpan di rumah mayaku. Kalau kami merasa kangen, kami bertemu disana. Karena kami dekat, maka mereka sering curhat dan sebagian curhatnya juga sudah kusimpan di rumah tersebut. Pembinaan karakter dan beberapa lika-likunya juga ada di almari maya.

Bagaimana dengan rekan-rekan? Semua memiliki rumah maya sepertiku kan? Sebagian dari rumah maya itu aku sudah berkunjung. Insya Allah dengan rajin menulis artikel dan mempostingnya ke dalam blog, kita dapat selalu bersama melayani anak bangsa. So, is it true? A teacher never gets bored. Alhamdulillah, hidup ini menjadi makin indah.

I love teaching

Sejak kecil aku senang bermain sekolah-sekolahan dan aku menjadi guru. Kami benar-benar belajar lho, bahkan PR (pekerjaan rumah/home work) kami kerjakan bersama. Kami saat itu tak mengenal diskusi atau sejenisnya, namun ternyata itulah yang kami lakukan. Aku tertawa sendiri ketika teringat masa itu, hehehe.

Ketika duduk di bangku SMP bapak wafat dan aku bersama kedua kakak membantu ibu mencari sesuap nasi, agar ibu dan kami 8 bersaudara dapat hidup sehat dan kami dapat melanjutkan sekolah. Ketika itu, beberapa saat kami sekeluarga sempat tidak mampu membeli beras, apalagi daging. Alhamdulillah, ibu pandai memasak. Singkong sebagai pengganti nasi, ternyata hingga kini kami menyukainya.

Ibu menjual nasi bungkus dan kakak membantu beliau. Pendapatan ibu ditambah uang pensiun bapak, belum cukup untuk keperluan sekolah. Ketika itu aku berupaya mencari jalan keluar dan akhirnya aku memberi les privat anak-anak SD dan SMP. Aku dipanggil bu guru kecil. Panggilan ini membuatku makin senang menjadi guru, sehingga aku selalu berupaya agar murid-murid lesku sukses semua.

Suatu hari seorang ibu berkata kepadaku, bu guru kecil, kalau bu guru bisa membantu anakku hingga mendapat ranking kelas, paling tidak ranking 2 atau 3, maka akan kubayar banyak sekali. Ku anggukkan kepalaku dan sejak hari itu aku meningkatkan belajarku agar bisa mengajar lebih baik lagi.

Syukur alhamdulillah, muridku itu bisa peringkat 2 dan aku dibelikan sepeda engkol yang bagus serta uang yang banyak sekali. Ayah wafat dalam usia 43 tahun, ibu berusia 36 tahun. Aku meminta ibu untuk menolak semua orang yang melamar beliau, sebab penghasilan kami sudah cukup untuk hidup tenang, sehat dan semua bisa sekolah. Di saat terakhir, ibu tidak lagi berjualan nasi, namun menjadi guru bahasa Jawa, bahasa Belanda, dan Bahasa Inggris.

I love teaching. Aku sangat menyukai bahkan mencintai pekerjaanku sebagai guru. Ketika itu ibuku berpesan bahwa guru itu harus dapat digugu lan ditiru. Dianut dan diteladani. Kau senang mengajar, maka menjadilah guru untuk dirimu sendiri. Setelah itu keberhasilanmu yang membuat kau dapat dianut dan diteladani, tularkan ke murid-muridmu. Asuh mereka dengan hati, panjangkan nalarnya sedikit demi sedikit. Sabar dan telatenlah melakukan pekerjaan yang kaucintai ini.

Mengapa aku menyukai mengajar? Menurutku, teaching is the best job in the world, hehehe sungguh lho. A teacher never gets bored. Apakah karena aku suka sekali menjadi guru, bahkan sejak aku masih anak-anak, maka selama ini aku tak pernah merasa bosan? Mungkin iya, mungkin ada alasan yang lain. Apakah faktor keturunan? Karena bapak dan ibuku pernah menjadi guru? Hehehe, mungkin juga ya.

Ketika kita berpikir lebih dalam, faktor penyebabnya dapat berasal dari anak didik. Banyak hal yang menyenangkan di saat mendidik mereka. Maksudku bukan hanya disebabkan oleh berbedanya murid dari tahun ke tahun, namun sebenarnya juga disebabkan oleh keunikan murid yang terjadi setiap harinya. Hal ini amat berbeda dengan bekerja di kantor menghadapi komputer dan kertas.

Guru menghadapi murid dan membantu pengembangan nalar serta karakternya. Pekerjaan yang dilakukan oleh guru itu amat abstrak, Nothing is predictable, Nothing is ever the same. Tak ada yang dapat diprediksi, Tak ada yang pernah sama. Itulah tantangan yang sungguh amat indah dalam hidup ini, tantangan untuk beradaptasi. So, what it more important in my job is the ability to adapt, to improvise, to take quick decisions. Every minute in class is a challenge and this is really exciting. Allahu Akbar. Insya Allah aku masih dapat melakukannya sampai akhir hayat, sehingga dapat terus mendampingi bangsa yang setiap saat masih memerlukan kami, amin YRA.

Kasihmu sepanjang masa Ibu

Malam ini, Senin, 02 Desember 2013, rasanya aku belum mengantuk. Sejak 25 Nopember 2013 yang baru lalu, aku teringat pada mendiang Ibu. Tgl. 25 Nopember adalah hari kelahiran Ibu. Sebentar lagi hari Ibu. Aku teringat kasih sayang beliau dan tak terasa airmataku menetes, hampir membasahi laptop. Ibu, kasihmu benar-benar sepanjang masa. Sampai sekarangpun aku selalu dapat merasakan.

Aku terkenang kembali, saat-saat perjuangan yang amat berat bagi Ibu. Ketika ayah wafat, aku masih duduk di kelas satu SMP, persis pada saat penerimaan rapor kenaikan kelas. Aku naik ke kelas dua dan semua saudaraku juga naik kelas. Saat itu kami sekeluarga akan pindah ke Malang, akhirnya kami tetap tinggal di Surabaya. Ibuku sedang mengandung adikku yang terkecil dan umur kandungan beliau sudah 9 bulan. Karena ketegangan saat ayah sakit hingga wafat, kurang lebih satu minggu, kelahiran adikku tertunda hingga kandungan ibu mencapai 10 bulan lebih 15 hari.

Usia ayah saat wafat masih 43 tahun dan usia ibu 36 tahun. Ayah meninggalkan kami, ibu dan 8 orang putra/putrinya; 6 orang putri, 2 orang putra sulung dan bungsu. Kami hidup dalam perjuangan, serba sederhana. Aku sebagai putri ketiga, bersama kedua kakakku berjuang membantu ibu mencari sesuap nasi. Sewaktu masih ada ayah, ibu benar-benar ibu rumah tangga, mengurus kami semua. Namun begitu ayah wafat, ibu menyandang 2 profesi, tetap sebagai ibu rumah tangga dan pencari nafkah.

Ibuku hebat sekali, mampu membagi waktu dan kasih sayang kepada kami semua. Kami hampir tak pernah saling iri, sebab ibu begitu adil. Ibu tak pernah membedakan kami, walau kakakku putra terpandai, kakak perempuanku tercantik, aku agak tom boy, dan adikku ada yang agak manja. Karena ketulus-ikhlasan beliau membesarkan kami tanpa menikah lagi, maka kami sepakat untuk membantu ibu, belajar ikut mencari nafkah, walau hasilnya hanya sedikit.

Saat sendiri di kamar di depan laptop seperti ini, aku teringat kasih ibu. Hingga akhir hayatnya, ibu selalu memberikan kasih sayang kepada kami anak dan cucunya. Anak-anakkupun sempat merasakan pendidikan ibu. Bahkan putri sulungku belajar bahasa Belanda dari ibu. Putriku ternyata suka bahasa, diam-diam sejak SD dia membeli buku pelajaran bahasa Inggris, Belanda, Jepang, Perancis, dan entahlah apalagi. Ku teringat saat di kirim keluar negeri, aku belajar bahasa Inggris dari ibuku, ibu mertuaku, dan suamiku.

Aku kembali teringat saat-saat belajar. Ibu selalu mendampingi kami. Diantara saudara, kakakku yang sulung memang paling pandai. Dia hampir tak pernah kelihatan belajar, katanya saat di sekolah pada jam-jam kosong, dia selalu mengerjakan soal-soal yang ada di buku. Aku kalau belajar malam dan pagi, karena bekerja sebagai bu guru kecil dan kulakukan hingga lepas Isya’. Jadi semua saudaraku sudah selesai belajar.

Ibu selalu saja mendampingiku, walau beliau sambil tiduran di sofa. Beliau selalu menunggu hingga aku selesai belajar. Memang aku sejak kecil terkenal kutu buku, hehehe. Ibu, terimalah cinta kasih kami padamu, kasih sayangmu benar-benar sepanjang masa. Hingga tiadapun, kami masih selalu merasakan kasih Ibu. Bulan Desember adalah bulan kasih sayang, terutama kasih Ibu. Untuk itu, Selamat Hari Ibu, semoga Allah SWT menerima amal ibadah Ibu. Insya Allah aku dapat mencontoh keteladanan ibu, sekali lagi terima kasih Ibuku sayang.

Berupaya untuk selalu disiplin

Alhamdulillah hingga saat ini aku dapat berupaya untuk selalu disiplin dalam melakukan apapun. Disiplin itu benar-benar amat penting dalam kehidupan kita. Disiplin harus dibiasakan sejak kecil. Kalau kita sudah terbiasa disiplin, maka dalam melakukan aktivitas sehari-hari, kita akan terhindar dari faktor lupa. Lupa dalam hal apapun, misalnya lupa menggunakan rem untuk menahan emosi. Bisa dibayangkan, andaikata kita tidak terbiasa disiplin, maka kita akan sering lupa menahan diri untuk tidak emosi. Ketika terjadi hal-hal yang membuat kita tak sabar, tak terasa kita telah melanggar aturan.

Dengan terbiasa disiplin, Alhamdulillah tidak ada sedikitpun keinginan untuk melanggar aturan, meski hanya dalam batin, apalagi tercetus melalui kata-kata. Hidup ini menjadi sangat indah, Insya Allah kita dapat berbahagia sepanjang hayat. Pada setiap hembusan nafas kita selalu sadar bahwa apapun yang kita pikirkan, rasakan, lakukan adalah hal terbaik bagi kita sendiri dan bagi siapa saja, amin YRA.

Aku terdidik di lingkungan keluarga yang sederhana. Maksudku pikiran, perasaan, pembicaraan, makanan, minuman, semuanya serba sederhana. Setiap hari waktu demi waktu terisi dengan hal-hal yang tak berlebihan. Sejak kecil terbiasa bangun tidur selalu sebelum subuh, pekerjaan rumah dilakukan secara gotong royong. Ada pembagian kerja, namun setiap diperlukan kami juga bekerja secara tim dengan kompak.

Berangkat sekolah, kami selalu sarapan. Di sekolah, kami tidak pernah membeli makanan/minuman apapun, karena kami telah menyiapkan bekal. Pulang sekolah selalu berganti pakaian; siang hari tidur, sore bermain sebentar kemudian belajar. Jam 9 malam sudah harus tidur. Alhamdulillah, orang tua kami sungguh telah melakukan yang terbaik untuk kami.

Setelah besar dan berkeluarga, hingga tiba saat purna tugas, ternyata pendidikan orang tua selalu kami lakukan secara dinamis. Ternyata pendidikan itu dilanjutkan oleh anak-anak kami, sehingga upaya disiplin dari cucu-cucu kamipun mirip dengan kejadian sewaktu kami dididik oleh orang tua pada zaman itu. Rasanya pendidikan karakter tidak ada istilah orla atau orba, maksudnya cara lama atau baru. Memang peningkatan demi peningkatan tetap amat diperlukan, penyesuaian juga perlu diaplikasikan.

Atas anjuran ibu dan guru kimia yang kuidolakan, maka hingga kini – walau sudah purna tugas, aku tetap berupaya untuk disiplin mengisi hidup ini dengan hal-hal yang baik bagi bangsa. Saran menjadi guru sepanjang hayat ternyata masuk ke hati sanubariku. Oleh sebab itu, hingga saat ini aku masih mengajar.

Selain mengajar, aku suka membaca dan menulis. Sampai detik ini aku tetap rajin duduk di depan laptop mengetik artikel-artikel yang menyangkut kehidupan sehari-hari. Diantaranya tentang pelajaran kimia, contoh-contoh pembelajaran berdasarkan pengalaman, pembinaan karakter, lingkungan hidup, kesehatan, dan masih banyak lagi. Insya Allah secara bertahap akan terus kutulis pengalaman hidupku dalam blog. Blogku ada beberapa; cerita inspiratif ini adalah blog yang baru saja kubuat. Insya Allah cerita/kisah hidup yang kutulis di sini dapat menginspirasi bangsa, sehingga bersama kita dapat selalu berupaya berbuat yang terbaik.

Minimal sehari satu artikel, ku harus berupaya untuk mempostingnya. Apapun yang ku posting harus tulisan sendiri, pengalaman sendiri, hasil survey, kisah nyata, dan sejenisnya. Sesederhana apapun kalau tulisan sendiri rasanya lega sekali. Aku tak boleh sampai terjangkit faktor lupa dan mengcopy paste artikel milik orang lain.

Insya Allah aku dapat berupaya terus menerus dari waktu ke waktu untuk menegakkan disiplin. Disiplin menulis dan update artikel harus kulakukan agar tidak mengecewakan pembaca dan pengguna blog. Ketika ada artikel website lain yang bagus dan penting, saya telah dan akan berupaya untuk melink dan membahasnya. Insya Allah kebiasaan ini tak akan luntur oleh apapun. Walaupun suatu ketika badai itu datang, Insya Allah tidak mengenai kita. Andaikan faktor lupa itu datang tak terasa, Insya Allah badai itu berlalu ketika kita kembali berupaya untuk disiplin.