Tag Archives: motivasi

Part 2: Anak super malas itu mulai berubah

Gundi anak super malas yang telah ku publish, mulai ingin berubah. Alhamdulillah. Artikel ini sebagai lanjutan laporan pembinaanku terhadapnya. Walau tak mudah, Insya Allah tak sulit, itulah yang ku alami selama melayaninya. Gundi (nama samaran) akhirnya menyadari kekurangannya dan ingin mengubah sikap dari malas menjadi rajin. Artikel ini mengungkapkan langkah awal Gundi dalam mengubah karakter. Aku harus terus memotivasinya agar pembinaan karakter yang agak khusus ini tidak kandas di tengah jalan. Mungkin sulit bagi Gundi untuk mengubah diri sendiri tanpa perhatian dan bantuan orang lain.

Pagi ini saya berada di kelas Gundi pada jam pertama dan kedua. Doa awal telah berlangsung dan aku sudah mencatat kehadiran siswa. Ketika tanya jawab tentang prasyarat pengetahuan berlangsung, Gundi tampak serius. Wajah acuh yang selama ini terlihat sekali, sudah mulai hilang, alhamdulillah. Kalau beberapa tahap awal dapat dia lakukan dengan baik, Insya Allah dia akan berhasil melawan sisi negatif dalam dirinya yang selama ini menguasai perasaan dan pikirannya.

Alhamdulillah, kegiatan pembelajaran ini dapat berjalan lancar. Ku dekati Gundi ketika anak-anak berdiskusi dalam kelompok kecil. Buku tulisnya baru dan bersampul cokelat. Ada buku paket kimia dan dia sedang mengutip catatan di papan. Namun ada sesuatu yang berbeda, wajahnya tampak sedih. Mengapa dia sedih? Selama aku mengajar, tak pernah dia bersedih. Wah … aku harus membantunya sampai tuntas. Sedih juga merupakan faktor penghambat, bagaimana dia dapat belajar dengan baik kalau dia sering bersedih.

Sejak awal aku sudah mengira kalau ada sesuatu yang membuat dia tertekan, sehingga dia menjadi anak malas bahkan super malas. Sayang, ibu akan tetap melayanimu. Ibu akan berupaya membantumu, apakah sekedar motivasi atau lebih. Eh … ternyata bathin ini turut berbicara.

“Bagaimana khabarmu?”

“Ehm … baik Bu. Maaf Bu, saya sudah berusaha meninggalkan sifat malas jauh-jauh, tetapi masih sering gagal.”

“Sabarlah, sesuatu yang telah terbiasa memang sulit dibuang. Lakukanlah secara bertahap. Langkah awalmu, akan menentukan langkah berikutnya. Apa yang sudah kau lakukan selama 2 hari ini?”

“Saya mandi lebih bersih dari biasanya, mencuci rambut dan menyisir dengan rapi. Saya mulai sholat lagi. Pakaian kuseterika dahulu, kamar kubersihkan dan buku-buku kuatur. Saya membuat jadwal kegiatan dan berusaha mematuhinya, membeli beberapa buku tulis.”

“Bagus sekali. Langkah awalmu sudah baik. Selalu lakukan yang terbaik ya.”

“Bu ….”

“Ya sayang?”

“Tadi malam saya mendengarkan musik sambil tiduran, akhirnya tertidur hingga pagi. Hari ini ada 3 PR, kimia, fisika dan biologi. Biologinya tadi pagi sudah mengutip dari teman-teman. Tetapi kimia dan fisika belum mengerjakan Bu.”

“Sudahlah tidak apa-apa, asal kau terus berjuang ya.”

“Terima kasih Ibu tidak marah. Tetapi nanti saya kena marah lagi Bu, fisika jamnya setelah kimia.”

“Sayang, kau telah berusaha dan ibu menghargai usahamu. Tentang fisika, sudah tentu kau harus terima resikonya. Hadapilah, upayakan lebih sopan.”

“Bu saya minta ijin, bolehkah mengutip tugas fisika sebentar?”

“Menurut aturan, permintaanmu tidak dapat kuijinkan.”

Tadi Gundi sudah mulai tersenyum, garis-garis sedih di wajahnya tertutup oleh senyumnya. Namun sekarang wajah itu tampak aneh. Apakah dia merasa kecewa dengan jawaban tadi? Aku kan harus mendidiknya menjadi anak yang tahu aturan. Aku harus membantu dia menjadi pribadi yang baik, tak sekedar malas menjadi rajin. Insya Allah dia bisa menyadari bahwa semua sifat yang tak disukai Allah SWT harus dibuangnya jauh-jauh. Namun mengapa sekarang wajahnya berubah seperti itu?  Apa yang dia pikir dan rasakan?

“Gun, mengutip pekerjaan teman itu tidak benar. Kalau ditanya kaupun juga tidak mampu menjawabnya. Iya kan? Sebaiknya kau nanti menurutlah pada guru fisikamu, perhatikan dan ikuti dengan baik. Kalau kurang mengerti segera bertanya ke teman terdekatmu.”

Dia menatapku dan mata itu kembali tampak sedih, walau sekarang sudah tersenyum lagi.

“Terima kasih sarannya Bu, akan saya lakukan.”

“Sayang, kalau ibu boleh tahu, mengapa kau bersedih?”

“Bagaimana ibu tahu kalau saya sedih?”

“Wajahmu nak, ibu dapat membaca dari garis-garis di wajahmu.”

“Ceritanya panjang Bu, nanti saja saya ke ruang ibu, istirahat siang.”

“OK sayang, do the best and take care.”

“Thanks mom.”

Gundi sudah berusaha untuk menjadi anak rajin, walaupun usaha itu belum optimal. Mendengarkan musik sambil tiduran, itu yang dikatakan tadi. Sebenarya tak masalah, asalkan sudah mengerjakan semua tugas. Hal ini juga harus dibahas; tadi aku belum sempat menegurnya. Nanti istirahat siang dia mau ke ruang guru. Semoga langkah berikutnya ini dapat berhasil. Ku pikir kasihan juga anak ini. Tegakah aku membiarkan dan meninggalkannya? Ya tak mungkinlah, sesibuk apapun aku dalam menanganinya, tetap harus tuntas.

To be continued

Iklan

Kasihan Ibuku (Bagian 3)

Siang ini aku berangkat agak cepat, ingin survey untuk bahan tulisanku. Di angkot aku bertemu dengan Nindar, keponakan Sari bekas muridku yang telah kuceritakan pada bagian kedua. Tampaknya dia pulang dari sekolah dan sendirian. Nindar tak lupa padaku.

“Assalamu’alaikum nek.”

“Wa’alaikum salam sayang. Kakek tidak menjemputmu?”

“Tidak nek, Nindar biasa sendiri kok, kapan itu sekalian belanja.”

“Oh begitu. Ehm … Nindar berani ya.”

“Awalnya takut juga nek, tetapi Nindar harus hemat. Kalau berangkat dan pulang sekolah harus diantar kakek kan pengeluarannya bertambah. Kasihan ibuku nek.”

“Ya sayang, kau benar. Nenek turut bangga padamu. Apakah kau sering berkunjung ke ibumu sayang?”

“Ibuku yang mengantar uang bulanan Nindar. Nindar ini kos lho di rumah kakek dan tante Sari.”

“Kos? Maksudmu apa?”

“Iya hehehe. Nindar ini dititipkan ke kakek dan tante Sari nek. Sebenarnya Nindar kasihan sama ibu, harus bekerja siang dan malam terus menerus. Ayahku tidak bekerja nek, yang bekerja hanya ibu.”

“Maafkan nenek sayang, nenek tak bermaksud untuk membuatmu sedih.”

“Kata kakek dan tante Sari, Nindar tidak boleh bersedih terus. Nindar harus belajar dengan tekun agar kelak bisa bekerja menggantikan ibu. Ibu tentu lelah sekali nek.”

“Iya sayang. Namun kalau ibumu itu ikhlas melakukannya karena ingin kau dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sukses, Insya Allah ibumu tak merasakan lelah.”

“Iya nek, Insya Allah begitu. Kita harus selalu bersyukur ya Nek. Hidup Nindar ini masih lebih baik dibanding anak-anak jalanan itu ya.”

Nindar menunjuk anak-anak yang berjalan dan ada yang nongkrong di pinggir jalan. mereka adalah pengemis cilik. Aku mengangguk-anggukkan kepala sambil melihat mereka.

“Nek, kata orang ayahku itu pemalas. Ayah anaknya orang kaya, suka berfoya-foya. Sekarang kakek dan nenek dari ayah sudah meninggal. Di rumah tidak ada pembantu. Ibu sebelum ke kantor ya membereskan rumah dulu termasuk masak. Pulangnya malam dan masih harus masak lagi, seterika dan lainnya. Sebenarnya ayahku sakit, tetapi terlalu manja. Ibuku tak mau hamil lagi, aku dititipkan kakek karena mungkin ibu khawatir aku akan meniru ayah, karena setiap hari suka teriak-teriak, suka menyuruh dan lainnya.”

“Ya ya kasihan ibumu. Eh sayang, rumahmu sudah dekat lho. Bersiap-siaplah.”

“Nenek sekarang ke rumahku ya, biar kakek ada temannya, barangkali kakek ingin cerita-cerita.”

“OK sayang.”

Kami berdua turun dari angkot dan berjalan kaki. Mereka berdua, kakek dan cucu senang sekali ketika aku berada di sana agak lama. Nindar pamit untuk mengerjakan PR, tinggal aku dengan kakeknya yang masih bercerita. Dari ceritanya, ternyata beliau ini dulu bukan pegawai negeri, bekerja di swasta. Karena sering sakit, maka gajinya tak cukup untuk keluarga. Beliau mempunyai 2 putri,  Sari dan Sara ibu Nindar. Istrinya harus mencari dana untuk kehidupan keluarga dan beliau keluar masuk rumah sakit. Akhirnya istrinya kecapekan dan terkena sakit lever yang amat parah, kemudian wafat. Ibu Sari sangat luar biasa, telah mengatur semua, meninggalkan dana untuk Sara, Sari, beliau dan cucunya. Begitulah ceritanya. Kulihat jam sudah waktunya aku harus pamit.

“Pak, saya pamit dulu, lain kali mampir lagi.”

“Oh iya bu, terima kasih banyak atas kesediaan ibu berkunjung ke sini, semoga ibu tidak bosan dengan kami.”

Ketika akan keluar, Nindar berteriak katanya semua PR sudah selesai dikerjakan. Di luar tampak Sari baru tiba dengan membawa belanjaan. Dia sedikit terkejut, aku berada di rumahnya tanpa memberitahu dia. Iya ya tadi aku kok tidak sms ke dia.

“Maaf bu saya tidak tahu kalau ibu ke sini.”

“Oh tidak apa-apa sayang, memang tadi tidak direncanakan. Ibu bertemu Nindar di angkot dan ibu ikut kesini. Sekarang ibu harus memberi les privat. Lain kali saja mampir lagi.”

“Iya bu, terima kasih.”

“Nek, sebentar nek, tunggu Nindar.”

“Ada apa sayang?”

“Nindar kan belum mengucapkan terima kasih pada nenek dan Nindar kan harus minta maaf karena kelamaan mengerjakan PR, jadinya nenek hanya ditemani kakek. Sedang maksud Nindar tadi, Nindar ingin duduk-duduk sama nenek.”

“Hehehe, Nindar tak perlu meminta maaf, Nindar kan harus belajar. Oh ya nenek yang meminta maaf karena sekarang harus memberi les privat.”

Dia mengangguk-angguk dan mencium tanganku. Sari juga mencium tanganku dan si kakek juga tampak ingin bersalaman denganku. Setelah bersalaman, aku berjalan menuju jalan besar dan naik angkot. Sambil memberi les, terpikir olehku cerita Nindar dan kakeknya. Kasihan ibu Sari almarhumah dan ibu Nindar. Malam harinya Sari sms minta didoakan, dia sedang melengkapi persyaratan untuk kuliah S-2 di Australia dan memintaku untuk membantu Sara, paling tidak memotivasinya.

To be continued –> Bagian 4.

Keputusanku untuk menjadi bu guru kecil

Kali ini aku ingin bercerita tentang perjuangan hidupku ketika menentukan pilihan yang tak terpikir sebelumnya, yaitu menjadi bu guru kecil saat masih sekolah di bangku SMP. Insya Allah kisah ini dapat memotivasi pembaca, entah bagian mana dari kejadian yang pernah kulakukan ini. Mungkin pembaca akan tersenyum, atau apalah yang terpikirkan dan dirasakan, hehehe aku merasa bahagia saat menulis kisah ini.

Masih kuingat betul, ketika itu aku duduk di bangku SMP kelas 2. Kalau ke sekolah aku berjalan kaki melewati gang-gang kecil, kurang lebih 2-3 km. Badanku kecil dan rambutku pendek sekali. Sepatuku satu, sepatu olah raga berwarna hitam. Jalanku cepat sekali, seakan lari lambat. Baju seragamku 2, satu kupakai, satu kucuci. Kami 8 bersaudara, yang bungsu umurnya belum 1 tahun. Ibu bekerja di kantin menjadi tukang masak. Semua ini terjadi setelah bapakku wafat dan dana peninggalan beliau sudah menipis. Aku mempunyai satu kakak laki-laki dan satu perempuan. Kami bertiga membantu ibu mencari uang.

***

Saat masih ada bapak, aku agak nakal dan malas belajar. Kalau bermain selalu dengan anak laki-laki, yaitu suka sekali bermain layang-layang, kelereng, dan sejenisnya. Nilaiku sejak SD kelas 3 hingga SMP kelas 1 pas-pasan, hehehe. Hampir semua pelajaran memperoleh nilai 6 di rapor, nilai 7 hanya satu, dan nilai 8 juga satu. Sedangkan pada waktu TK dan SD sampai dengan kelas 2 aku tergolong pandai. Kakakku laki-laki sering kena marah, karena dianggap tidak dapat membimbing adik-adiknya. Kakakku selalu menjadi juara kelas, namun saat itu aku tak ingin banyak belajar. Bermain lebih menyenangkan bagiku.

***

Ketika kenaikan dari kelas 1 ke kelas 2, bapakku wafat mendadak karena terkena serangan jantung. Pada waktu bapak dimakamkan, di rumah banyak sekali orang. Ketika pemakaman selesai, sebagian tamu pulang, dan sebagian lagi terus berdoa hingga 7 malam. Setelah 7 hari, rumah sepi sekali dan ibu mengumpulkan kami semua. Kami mengatur kamar bapak yang agak amburadul. Ternyata almari tidak terkunci dan peti besi tempat bapak menyimpan uang hilang.

***

Ibu hamil 9 bulan, namun beliau amat tabah. Selalu tersenyum walau dimatanya terdapat kepedihan yang dalam. Kubantu ibu menghitung uang pemberian tamu-tamu. Di almari bapak masih ada dompet berisi uang dan di bawah baju ada amplop berisi uang agak banyak. Semua uang itu disimpan dengan baik oleh ibu, dan kakakku membelikan kunci untuk almari bapak yang memang tak pernah dikunci. Kata ibuku kami yang sudah besar, kakakku SMA naik kelas 2 Pas (Ilmu pasti/eksakta), kakakku yang nomor 2 dan aku sama naik ke kelas 2 SMP, harus membantu mencari uang agar kami sekeluarga bisa makan dan sekolah, paling tidak sampai SMA.

***

Pada awal perjuangan, kami bertiga membantu ibu berjualan nasi bungkus. Namun karena pendapatan setiap harinya amat sedikit dibanding dengan kesibukan yang kami rasakan, maka ibu mencari pekerjaan lain. Untung hanya dalam 2 hari mencari pekerjaan, ibuku diterima menjadi koki di suatu kantin. Ibuku memang pandai memasak. Setiap hari kami tak perlu lagi tidur larut malam dan bangun jam 3 pagi, karena penghasilan ibu cukup untuk sementara. Setiap pulang dari kantin ibu selalu membawa nasi dan lauk yang cukup untuk kami sekeluarga.

***

Lima minggu setelah bapak wafat, adikku yang bungsu lahir laki-laki. Untung tempat kerja ibu dekat dengan rumah, sekitar 1 km. Aku dan kedua kakakku berunding untuk sekolah sambil cari uang, agar dapat membeli buku, buah, vitamin, dan uang saku. Kami sepakat dan kakakku laki-laki bekerja di toko, kakak perempuan jualan kue di depan rumah, aku menjadi guru kecil. Ibu tak dapat melarang kami dan beliau mengingatkan agar kami tidak boleh terlalu memaksa diri, harus tekun belajar, dan sebagian uang ditabung. Kami menurut nasehat beliau dan kami dapat menunjukkan hasil nilai kami. Kakakku yang laki-laki dan aku bisa 3 besar di sekolah, sedang kakak perempuanku nilainya pas-pasan karena memang sering sakit.

***

Di sekolah aku selalu datang terpagi. Aku langsung duduk di bangku dan membaca pelajaran hari itu. Sekitar 10 menit kemudian, datang temanku sekaligus sebagai muridku. Dia anak orang kaya dan aku memberi les di rumahnya. Ibunya memanggilku bu guru kecil. Setiap pagi dia minta untuk diajari lagi, walaupun setiap pulang sekolah aku selalu pergi ke rumahnya. Beberapa saat kemudian terdengarlah lonceng berbunyi tanda masuk kelas dan pelajaran akan segera dimulai.

***

Sambil mengetik, terpikir olehku akan keputusanku untuk menjadi bu guru kecil. Kuperhatikan, penghasilan ibu, dan kakakku tak terlalu banyak. Bahkan hanya cukup untuk menopang hidup sederhana sekeluarga. Pakaian kami juga sedikit, dapat dihitung dengan 5 jari saja. Aku berpuasa, memohon kepada Allah SWT agar kami dapat hidup lebih baik. Tiba-tiba tak terasa, aku menceritakan keadaan hidup kami ini kepada temanku yang kaya dan agak malas belajar. Alhamdulillah satu teman yang kutuju bersedia dan saat itu pula aku mulai ke rumahnya sepulang sekolah. Ibunya setuju dan mulailah aku menjadi bu guru kecil.

***

Rasanya untuk kali ini cukup banyak yang sudah kutulis. Insya Allah kisahku menjadi bu guru kecil akan kulanjutkan lagi, mungkin berupa cuplikan-cuplikan kisah yang mengesankan dalam hidupku. Bagaimanapun, pengalaman menjadi guru kecil ini sungguh merupakan kejadian yang luar biasa dalam hidupku. Alhamdulillah, hingga sekarang walau sudah purna tugas dari PNS Allah SWT masih memberi kesempatan padaku untuk terus menjadi guru, melayani bangsa. Insya Allah kubisa melaksanakan tugas ini hingga akhir hayat, amin YRA.